
𝘛𝘪𝘮𝘦 𝘴𝘬𝘪𝘱, sepuluh hari kemudian.
Angin berhembus kencang. Aku menarik napas, menghirup udara di tempat ini untuk terakhir kalinya. Sepuluh hari terasa berlalu dengan sangat cepat. Aku hampir lupa kalau aku sedang berada dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti dunia luar. Hari ini aku akan bertemu lagi dengan Nana, Layla, dan dia.
“Lina, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu sudah lebih dari yang aku harapkan. Sepuluh menit lagi pintu akan terbuka. Kamu akan memulai ujian yang sebenarnya. Ingat! Sekuat apapun kamu dan selemah apapun musuhmu, kerjasama adalah kunci utama meraih kemenangan. Jangan pernah meremehkan musuh di depanmu, karena kamu tidak tahu kekuatan rahasia apa yang dia simpan. Mengerti?” Liebe memegang bahuku. Tatapannya seperti sedang menatap anak kesayangannya yang akan pergi untuk waktu yang lama.
Pukul sembilan lewat lima puluh menit. Tepat pukul sepuluh nanti pintu yang sempat menghilang akan muncul kembali. Aku memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temanku. Tapi aku juga masih merasa berat untuk berpisah dengan ‘banyak Liebe’ yang ada bersamaku sekarang. Jarang sekali ada orang unik seperti dia dengan ketulusan, kepintaran, keanehan, dan juga kebodohan yang tinggi seperti dirinya. Dia bahkan lebih unik daripada Arthur.
“Tinggal beberapa detik lagi.” Liebe memperhatikan jam ditangannya yang terlihat seperti sebuh kompas. Tidak lama setelah itu pintu mulai muncul perlahan. Liebe menarik gagang pintu, berjalan keluar. Aku mengekor di belakangnya.
Saat aku tiba di luar, Arthur, Nana, dan Layla sudah berada di depan ruangan mereka bersama orang yang mendampingi. Aku menatap mereka satu persatu. Arthur bersama dengan seorang laki-laki yang memiliki rambut panjang. Dia mengenakan topi, berotot, dan memakai baju telanjang dada. Didadanya terlihat banyak bekas luka yang menghitam.
Aku mengalihkan pandanganku pada Nana. Orang yang bersamanya adalah seorang gadis. Dia memakai headphone di telinganya. Dia terlihat seperti gadis yang periang. Dia tiba-tiba melompat, menaiki punggung Nana.
“Nana!!! Aku pasti akan merindukanmu.” Gadis itu berteriak. Nana menyumbat telinganya dengan jari telunjuk, memutar bola mata.
“Oke, oke. Aku berterimakasih padamu karena sudah memberikanku pelajaran yang berharga.”
“Benarkah? Apa itu?”
“Tentu saja latihan kekuatan yang kamu ajarkan dan satu hal lagi.” Nana diam sejenak.
“Kamu mengajariku kalau anak periang tidak baik untuk kesehatan telinga dan jantung.” Nana melirik. Gadis itu menggembungkan pipi. Aku terkekeh. Nana sudah sedikit berubah.
Aku kembali mengalihkan pandanganku. Aku menatap Layla yang berada tidak jauh dariku. Dia bersama dengan seorang remaja laki-laki yang tinggi dan gemuk. Rambutnya menutupi lehernya. Kedua tangannya memegang daging. Dia makan dengan lahap, lebih tepatnya rakus. Aku menatap Liebe yang berada di sampingku. Aku rasa Liebe adalah orang paling normal di sini. Liebe menatapku.
“Baiklah, sepertinya sudah waktunya mengucapkan salam perpisahan.”
Aku mengangguk. “Kita akan berpisah di sini. Apa kita bisa bertemu lagi?”
“Emm, aku rasa itu mustahil. Aku tidak bisa keluar dari zona aman ini dan kamu tidak bisa begitu saja masuk ke sini. Jadi, aku rasa itu mustahil.” Liebe mengelus rambutku.
“Tenanglah, jika dipikir-pikir ini bukan perpisahan. Aku yakin suatu saat kamu akan menjadi lebih kuat dan bisa mengubah dunia. Saat itu terjadi kita akan bertemu lagi.” Liebe tersenyum. Aku tahu maksud perkataannya. Dia ingin aku mengubah dunia yang dikuasai oleh putri itu. Dia sudah muak dengan permainan yang putri berikan. Sudah terlalu banyak orang yang menderita karena dia.
Aku mengangguk. “Tunggulah, aku pasti akan kembali menjemputmu. Walaupun itu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit."
Alih-alih melihat senyuman Liebe, dia menamparku
__ADS_1
"Aku tidak memintamu untuk kembali. Aku memintamu untuk menjadi lebih kuat dan mengubah dunia ini. Aku tidak memintamu untuk menjemputku, karena aku sendiri yang akan datang padamu dan berterimakasih.” Liebe mendorongku, mengangguk padaku untuk menjadi berani dalam mengambil langkah. Aku menoleh, tersenyum padanya untuk yang terakhir kali. Layla dan Arthur melambaikan tangan, sedangkan Nana menatap dingin pada orang yang mendampinginya.
Liebe, aku berangkat. Jaga diri baik-baik. Tunggu aku mengubah dunia ini. Tentu saja aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuan teman-temanku.
“Terimakasih atas kerja keras kalian selama sepuluh hari ini. Portal akan segera terbuka. Semoga kalian menikmati permainan yang kami sediakan.”
Suara yang pertama kali aku dengar ketika memasuki tempat ini kembali bergema. Beberapa detik kemudian muncul sebuah lubang besar di depan kami. Lubang itu berputar-putar, membuat kepalaku pusing. Arthur melompat, disusul Layla, Nana, kemudian aku menjadi yang terakhir.
\*\*\*\*
Aku membuka mata, mengerjap-ngerjap, mengambil posisi duduk. Aku menatap sekitar. Di dekatku Layla tergeletak tidak sadarkan diri. Aku merangkak mendekatinya.
“Layla! Hei, Layla! Bangun! Kita terpisah.” Aku menggoyang-goyangkan bahu Layla. Dia terbatuk pelan, duduk, mengucek-ngucek matanya.
“Kita dimana?” Pandangan Layla menyapu ruangan.
“Aku tidak tahu. Peta hologram ada di Nana. Kita terpisah.” Aku menghela napas. Layla beranjak berdiri.
“Kita harus bergegas sebelum permainan dimulai. Walaupun kita terpisah, kita harus tetap bergerak.” Layla memegang leher belakang.
Kami berjalan keluar ruangan, pergi mendekati jendela. Kami berusaha untuk menebak sedang berada di lantai berapa.
“Jika dilihat dari ketinggiannya, aku rasa kita berada di lantai tiga puluhan.” Layla mencoba menebak. Aku menghela napas panjang.
“Kita masih harus menemukan satu kata kunci lagi. Kalau tidak salah itu berada di lantai empat puluh lima. Kita hanya perlu naik sekitar lima belas lantai lagi.” Aku menatap Layla. Dia mengangguk. Tanpa pikir panjang kami langsung meneruskan perjalanan.
Kami memperhatikan setiap ruangan disepanjang jalan koridor. Kebanyakan ruangan kosong melompong, tidak ada apa-apa. Kami terus berjalan menaiki tangga hingga tiba di lantai berikutnya. Ada salah satu ruangan yang cukup menarik perhatian. Aku dan Layla berjalan memasukinya. Di dalalm sana ada beberapa alat yang tidak aku kenali.
“Apa ini sebuah teknologi yang canggih?” Aku bergumam.
“Aku rasa begitu.” Layla mengedarkan pandangannya.
Setelah beberapa menit kami menjelajahi ruangan itu, aku menemukan sebuah buku catatan di tumpukan buku yang sudah usang.
“Layla, lihat apa yang aku temukan.” Aku memanggil Layla tanpa mengalihkan perhatianku dari buku itu. Layla yang berada tidak jauh dariku berjalan mendekat, ikut memperhatikan buku yang sedang aku pegang.
“Buku catatan?” Layla bergumam pelan.
__ADS_1
“Secret?” Aku menautkan alis, menatap tulisan di cover depan buku itu.
“Apa maksudnya ini?” Layla berjalan mundur.
“Kenapa?” Aku menoleh, menatap Layla dengan raut waspadanya.
“Aku merasakan aura yang buruk dari buku itu.”
“Kamu bisa merasakan aura?”
“Aku rasa kamu juga bisa merasakan aura kuat yang dipancarkan oleh buku itu.” Layla menggeleng pelan.
“Aku rasa.” Aku mengangkat bahu.
“Sebaiknya kita harus segara pergi dari tempat ini.” Bola mata Layla bergerak-gerak, memperhatikan setiap sudut ruangan.
“Baiklah! Aku akan membawa buku ini untuk jaga-jaga. Mungkin ada informasi yang sangat berharga di dalamnya.” Aku memasukkan buku catatan kecil itu ke dalam saku bajuku yang lumayan lebar.
Kami berjalan ke luar ruangan. Entah apa yang terjadi, setelah kami keluar dari ruangan itu, atmosfer di sekitar kami tiba-tiba berubah. Suasana terasa lebih berat dan mencekam. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku berkeringat dingin. Atmosfer yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Aku menoleh pada Layla yang berada di sampingku. Dia terdiam, berdiri kaku di tempatnya.
Tatapannya kosong. Dia seperti melihat sesuatu yang tidak dapat aku lihat. Aku panik. Benar-benar panik. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perubahan atmosfer ini saja sudah membuatku hampir kehilangan kesadaran. Ini terasa seperti ada orang yang sudah mencampurkan gas tertentu dengan udara di sekitar. Yah, aku rasa memang seperti itu.
Tunggu! Apa kami diawasi? Benar. Aku menoleh, mengedarkan pandanganku ke semua penjuru. Napasku sudah mulai tidak teratur. Dengan sisa kesadaranku, aku masih mencoba mencari kamera yang mungkin terpasang di sekitar sini. Jika memang benar kami sedang diawasi, seharusnya ada kamera yang berada tidak jauh dari kami untuk terus memantau kami.
Layla yang berada di sampingku tersimpuh. Aku berusaha untuk menghampirinya. Layla tersentak pelan. Aku rasa kesadarannya sudah kembali. Seketika atmosfer yang mencekam itu langsung hilang. Aku menarik napas dalam. Napasku sudah berangsur normal.
“Lina!” Layla mencengkeram lengan atasku dengan erat. Aku tidak terlalu menghiraukannya. Aku masih berusaha mengembalikan napasku.
“Kita benar-benar harus pergi dari sini. Maksudku dari bangunan ini. Kita harus memprioritaskan untuk mencari Arthur dan Nana. Kita harus tetap bersama. Jika kita terus terpisah seperti ini, maka kita tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini. Aku tidak yakin kita masih bisa hidup.” Wajah Layla memucat. Dia benar-benar terlihat ketakutan.
“Ada apa?” Aku lirih bertanya. Layla hanha menggelengkan kepala.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Semakin cepat kita berkumpul, itu akan semakin baik."
__ADS_1