
Atmosfer di dalam ruangan semakin menegang. Aku tidak pernah merasa canggung seperti ini saat bersama dengan mereka. Bahkan Mery dan Seli juga hanya berdiam diri. Biasanya mereka yang mulai uring-uringan lebih dulu.
"Sebelum kita mulai pembahasannya, aku ingin memastikan sesuatu. Lina, sudah berapa lama kamu disini?" Harry membuka percakapan dengan pertanyaan. Aku sedikit terkejut. Bukannya sudah jelas kalau kami baru sampai?
"Maksudku berapa lama waktu berlalu sejak kamu meninggalkan tenda?" Harry menatapku serius, namun tidak ada intimidasi seperti Percy dan Liya.
"Mungkin sekitar dua minggu." Aku menjawab singkat sambil mengangkat bahu. Aku sendiri tidak yakin sudah berapa lama sejak aku meninggalkan tenda.
"Apakah kalian tidak mencari kami selama dua minggu?"
"Apa maksudmu? Malam hari di hari yang sama, kami berempat berangkat menyusuri hutan untuk mencari kalian. Dan karena kalian tidak kembali kami jadi terjebak seperti ini!" Aku meninggikan suara, menatap mereka kesal. Bisa-bisanya dia mengatakan kami tidak mencari mereka selama dua minggu?
"Tenanglah, Lina. Aku hanya ingin memastikan perbedaan waktunya." Harry mendongak, memejamkan mata. Dia seperti sedang berpikir keras.
"Sudah lebih dari sebulan sejak kami meninggalkan tenda. Sedangkan kalian yang hanya beda beberapa jam dengan kami baru sekitar dua minggu. Dari yang aku perkirakan, satu bulan disini kurang lebih sama dengan satu hari di sana."
"Kenapa memiliki perbedaan waktu? Padahal kita berada di dimensi yang sama."
"Itu karena sistem."
"Sistem? Kamu bercanda?! Apa kamu pikir kita sedang berada dalam sebuah game?" Tiba-tiba Arthur menyela pembicaraan kami.
"Haah! Kalian memang serasi. Sama-sama orang yang tidak sabaran dan selalu salah paham." Harry menatap Liya yang duduk disampingnya.
"Selanjutnya biarkan Liya yang menjelaskan pada kalian."
__ADS_1
Tepat setelah kalimat itu berakhir, Liya berdiri, berjalan menuju papan putih kosong. Apa dia akan menjadi seorang 'guru' sekarang?
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku tidak akan mengulanginya dan jika ada pertanyaan, tunggu sampai aku memperbolehkan kalian bertanya. Jangan ada yang sampai menyela penjelasan." Liya dengan tegas memperingatkan kami. Kami mengangguk serempak.
"Penjelasan dimulai dari adanya kutukan." Liya menggambar sesuatu di papan. Aku tidak tahu apa yang dia gambar, tapi itu hanya terlihat seperti sebuah coretan-coretan yang tidak beraturan.
"Kutukan tidak memiliki bentuk, tapi kutukan itu nyata." Liya menunjuk gambar yang baru saja dia buat. Pantas saja dia hanya mencoret-coret saja, ternyata memang tidak memiliki bentuk.
"Dan tempat ini adalah salah satu wujud dari kutukan. Apapun yang sudah terkena kutukan, maka akan memiliki kurun waktu yang lebih cepat daripada biasanya. Seperti kita saat ini. Abyss mengalami kutukan sejak tiga tahun lalu. Berarti sekitar tiga puluh enam hari waktu normal." Liya berhenti sejenak. Dia berjalan menuju rak buku, mengambil salah satu buku dari tempat itu.
Buku yang Liya ambil adalah buku dengan sampul berwarna merah gelap dengan motif daun—aku rasa. Sampul buku itu di desain supaya bisa mengunci. Mungkin itu buku yang sangat penting. Liya melemparnya padaku. Aku dengan cepat menangkap buku itu.
ዪልጠልረልክ ጠቿጠልፕልዘጕልክ ጕሁፕሁጕልክ
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di cover buku itu. Tulisan ini benar-benar sama persis seperti tulisan yang aku temui.
"Di buku itu ada sebuah ramalan yang mengatakan akan ada setidaknya sembilan orang yang datang dari dunia luar untuk mengembalikan cahaya Abyss." Liya mengempaskan punggung pada sandaran kursi.
"Yeah, pemilik penginapan juga sudah mengatakan pada kami kalau mungkin kita adalah orang yang ada di ramalan itu. Sekarang, kalian boleh bertanya." Liya melipat lengan, mengambil posisi duduk dengan nyaman.
"Apa kita akan melakukannya?" Aku ragu-ragu bertanya. Apa kami harus melakukan seperti yang ramalan katakan?
"Aku juga tidak tahu. Bisa jadi bukan kita yang dimaksud oleh ramalan itu. Tapi, bisakah kita pergi meninggalkan Abyss tanpa memberikan bantuan?"
"Memangnya kenapa? Mereka hanya mengalami perbedaan waktu. Tidak ada hal yang buruk tentang itu, kan?" Arthur mengerutkan kening. Aku rasa dia tidak setuju tentang menjadi tokoh di dalam ramalan.
"Bukan itu masalahnya, Arthur!" Mery yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Raut wajahnya tidak seperti Mery pada biasanya. Dia menundukkan kepala. Matanya menatap kosong, seolah ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Mereka adalah makhluk kekal. Walaupun mengalami perbedaan waktu, tapi mereka tidak bisa mati dan hanya terus melahirkan keturunan."
"Bukannya itu malah bagus? Aku saja ingin punya hidup abadi seperti mereka."
"Tidak, kamu tidak mengerti. Itu adalah kutukan."
"Memangnya kenapa kalau itu adalah kutukan? Katakan padaku alasan kenapa kita harus menolong mereka padahal mereka hidup damai seperti ini."
"DIAM!!!" Suara Percy menggema di dalam ruangan. Urat di dahinya terlihat sangat jelas. Wajahnya merah padam karena menahan amarah.
"Biar aku yang menjelaskannya, Mery. Kamu diam saja jika tidak bisa memberi penjelasan dengan baik."
Mery menciut mendengar kalimat itu. Dia membalik badan, berjalan menuju pintu kayu yang berada di samping rak buku. Sedangkan Percy duduk dengan tenang. Meskipun raut wajahnya tidak menggambarkan suasana tenang.
"Ada beberapa peneliti gila yang menyebabkan kutukan ini. Mereka sedang berada di suatu tempat tidak jauh dari Abyss. Penghuni Abyss tidak bisa meninggalkan Abyss karena aturan dari kutukan. Jika mereka melanggar, maka mereka akan mengalami penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Mereka hanya akan menderita terus-menerus dan tidak bisa mati. Percuma jika ingin bunuh diri. Hal itu hanya akan menambah rasa sakit yang mereka rasakan."
Aku menggigit bibir bawah. Awalnya aku setuju dengan Arthur. Untuk apa menolong orang yang terasa mempunyai hidup damai seperti itu? Tapi setelah mendengar perkataan Percy, aku menjadi sedikit iba.
"Lalu apa susahnya? Mereka hanya perlu untuk tidak keluar dari Abyss. Mungkin itu yang kalian pikirkan. Tapi menetap di Abyss tidak ada bedanya dengan melanggar aturan kutukan." Percy mengambil kacamata yang bertengger di batang hidungnya, menyeka wajah.
"Mereka yang terkena kutukan akan mengalami perbedaan waktu dan menjadi abadi. Itu terdengar sempurna. Tapi kutukan tetaplah sebuah kutukan. Sebenarnya bagi para peneliti gila itu mereka hanyalah sebuah ternak yang bisa menghasilkan banyak keturunan dalam waktu singkat. Mereka yang merupakan seorang peneliti tidak terkena kutukan. Jadi saat satu generasi sudah berlangsung di sini, mereka baru melewati beberapa tahun atau mungkin beberapa bulan."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Arthur juga begitu. Dia yang dari tadi kesal akhirnya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Apakah semua orang disini adalah objek penelitian? Apa para ilmuwan gila itu akan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada Yamato?
__ADS_1
"Dan soal kejadian tiga tahun lalu..."