
Sepanjang perjalanan kami dikejutkan oleh banyak hal. Ternyata bukan hanya pemandangan tempat ini yang sangat menakjubkan. Bahkan lautan luas yang terlihat menyeramkan juga memiliki daya tariknya tersendiri. Ini benar-benar seperti berada di dunia fantasi.
Ada banyak burung-burung berukuran besar yang lalu lalang. Pemandangan yang membuat kami seperti hidup di zaman dinosaurus, kan?
"Lihat, kita sudah sampai di kota pusat." Yamato menunjuk sesuatu di depan sana. Itu mirip seperti kota pada biasanya. Aku pikir kota di Abyss akan sedikit berbeda. Ternyata tetap sama. Yah, selain bentuk bangunannya yang terlihat jauh lebih indah. Kami terbang lebih rendah, bersiap mendarat tepat di depan pintu gerbang. Kondisi Arthur sudah membaik. Aku rasa dia sudah bisa berjalan.
Aku alihkan pandanganku pada kota yang sudah menunggu kami di depan sana. Ada banyak pohon besar dan tinggi yang dijadikan permukiman dan tempat tinggal. Ada banyak juga lampu kelap-kelip yang berpendar seperti kunang-kunang jika dilihat dari kejauhan. Pohon mengambang yang aku lihat tadi ternyata berasal dari kota ini. Kristal di dalamnya bernuansa sangat elok dan indah.
Kami berhasil mendarat dengan mulus di depan gerbang. Tubuh Chira tiba-tiba menyusut, membuat tubuh kami yang menungganginya terjatuh. Aku meringis kesakitan. Yamato dan Arthur berhasil mendarat dengan mulus, seolah mereka sudah tahu tubuh Chira akan mengecil. Jika hanya Yamato mungkin aku akan memaklumi. Tapi Arthur juga? Apa dia punya keahlian untuk berbicara dengan hewan atau semacamnya?
"Ah, Tuan Muda! Ternyata anda masih hidup."
"Lama tidak bertemu, Teddy!" Yamato menyapa seseorang yang sepertinya seorang penjaga gerbang. Dia memgenakan pakaian serba hitam dengan kemeja putih. Dia juga mengenakan dasi motif polkadot dengan warna yang mencolok. Ketimbang disebut penjaga gerbang, dia lebih cocok disebut sebagai seorang butler.
"Tuan, saya akan menyuruh pemimpin untuk menyiapkan penginapan." Orang itu membungkukkan badan pada Yamato, beralih menatap kami.
"Mohon maaf, tapi siapakah orang-orang yang bersama anda?"
"Mereka adalah temanku. Siapkan juga kamar untuk mereka."
"Dimengerti, Tuan!" Orang itu mundur perlahan tanpa membelakangi Yamato. Penjaga gerbang yang lain menuntun jalan kami. Aku menatap punggung Yamato yang berjalan di depan kami. Sebenarnya siapa dia? Apa dia sebenarnya adalah orang terhormat? Lalu apa yang terjadi sampai dia menjadi bahan percobaan seperti itu?
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, Lina?" Yamato bertanya tanpa menoleh. Suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya. Semakin hari suaranya terdengar semakin dingin. Aku diam membisu, tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini. Aku juga tidak tahu apa sebenarnya yang Yamato sembunyikan. Aku ingin bertanya banyak hal padanya, tapi aku takut kalau hal itu justru malah membuatnya merasa risih.
"Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Aku tahu kamu memiliki banyak pertanyaan untukku. Tapi tunggu sampai aku memberitahu sendiri. Jangan bertanya apapun."
Mendengar kalimat itu dari Yamato aku semakin membisu, takut untuk bertanya. Mungkin memang aku harus diam. Kami berjalan menyusuri tubuh kota. Setelah melewati gerbang, aku malah lebih dikejutkan. Walaupun saat menunggangi Chira aku sudah melihat ini, tapi tetap saja melihatnya dari dekat sangat menakjubkan.
Sepanjang perjalanan, semua pasang mata tertuju pada kami—atau mungkin pada Yamato. Mereka yang semula dengan santai melakukan aktifitas tiba-tiba berhenti ketika melihat kami lewat. Rasa pensaran semakin menggerogotiku. Tapi aku harus tetap diam atau aku akan mengacau.
Dari yang aku lihat, secara fisik penghuni kota ini memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang memiliki mata sipit dan telinga panjang. Ada juga yang memiliki warna kulit aneh. Aku rasa penghuni kota ini memelihara hewan juga. Tapi ukuran hewan yang mereka pelihara memiliki ukuran yang wajar seperti pelihaan di duniaku. Yah, walaupun tentu saja bentuk dan jenisnya berbeda.
Setelah Arthur melontarkan kalimat itu, semua pasang mata yang menatap kami membelalak, seolah mereka sangat terkejut. Memangnya ada apa? Apa Arthur mengatakan hal yang salah? Atau sikap konyol Arthur membuat mereka merasa kalau dia aneh? Walaupun Arthur sebenarnya memang aneh. Tapi tatapan terkejut mereka bukannya terlalu berlebihan untuk ditujukan pada orang aneh?
"Arthur, lebih baik kamu diam saja. Jangan sembarangan berbicara. Kita sedang tidak dalam keadaan dimana kita bisa bercanda. Lagi pula kita tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini. Bisa jadi ucapanmu tadi merupakan kalimat yang memiliki arti tersendiri bagi mereka." Layla yang berjalan di sampingku berkata tanpa sedikitpun menoleh pada Arthur. Tatapannya lurus menatap ke depan, tidak melihat sekeliling. Auranya terlihat sedikit berbeda.
"Lina, kamu juga jangan terlalu banyak mengedarkan pandangan atau mereka akan meremehkanmu. Berikan kesan yang berkharisma. Kesan pertama itu sangat penting." Layla memegang kepalaku, memutarnya agar menghadap ke depan. Aku melirik Layla, menatap raut wajah datarnya. Kenapa aku merasa wajahnya sedikit berbeda?
Kami terus berjalan menyelam ke dalam kota. Semakin dilihat dari dekat, pohon yang mengambang itu terlihat semakin indah. Kristal didalamnya juga memancarkan cahaya yang berkesan lembut tapi terasa kuat. Apa itu yang disebut "kristal mana" yang sering aku baca di komik-komik fantasi? Aku menggelengkan kepala, kembali fokus. Layla benar, aku harus terlihat seperti orang yang memiliki kharisma.
__ADS_1
"Sebentar, kemana kita akan pergi?" Arthur berbisik.
"Aku tidak tahu. Lagian bukannya aku sudah bilang untuk diam? Sedang banyak yang memperhatikan kita sekarang." Layla sedikit melirik, membungkam mulut Arthur dengan tatapannya.
Kami terus berjalan lurus, melewati kerumunan orang begitu saja. Mereka langsung membukakan jalan begitu melihat kami. Tidak lama kemudian, kami berhenti di salah satu rumah. Karena rumah-rumah di tempat ini adalah rumah yang dibangun menyatu dengan pohon, jadi semua bangunan atau rumah di tempat ini sekilas terlihat sama di mataku. Tentu saja kecuali rumah yang berada di depan kami saat ini.
Rumah ini berdiri dengan sangat kokoh dan megah. Aku tidak tahu apa bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini, tapi walaupun sederhana, rumah ini terlihat sangat mewah. Ukurannya juga lumayan luas. Aku rasa bangunan ini memiliki tinggi sekitar dua puluh meter. Jika dilihat dari luar, rumah ini sepertinya memiliki lima lantai.
Penjaga yang tadi menuntun kami pergi memasuki rumah itu sendirian, sedangkan kami menunggu di luar rumah. Apa dia meminta izin pada pemilik rumah agar tamu bisa masuk? Sekitar lima menit kami menunggu, penjaga itu keluar dari rumah.
"Silahkan masuk, Tuan Muda. Nyonya Zygia sudah menunggu." Penjaga itu membungkuk, kembali memimpin jalan. Apakah mereka sebenarnya seorang butler yang ditugaskan untuk menjaga gerbang?
Kami berjalan memasuki rumah. Di dalamnya diisi dengan banyak sekali benda dan senjata aneh. Di depan kami terpampang foto yang sangat besar.
"Dia adalah nyonya rumah dan anaknya. Tidak ada foto suaminya di foto ini karena sudah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu." Yamato berhenti sejenak, memandang foto itu, menghela napas.
Di foto itu ada seorang wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun, setidaknya terlihat begitu. Wanita itu duduk di kursi megah. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang terlihat seperti anaknya. Dia mengenakan pakaian yang dominan hitam. Lelaki itu terlihat cukup tampan.
Setelah beberapa detik memerhatikan foto itu, kami lanjut berjalan menaiki tangga. Anak tangga demi anak tangga memiliki warna yang berbeda dan juga dilapisi sesuatu yang membuatnya terlihat licin.
__ADS_1
"Aku harap kalian bisa bersikap sopan dan tetap diam saat kita sudah sampai. Jangan bertanya atau berkata apapun jika aku tidak menyuruh. Bagaimanapun yang kalian akan lihat nanti, tetaplah diam. Aku mohon!" Raut wajah Yamato berubah suram. Tatapannya terlihat menerawang. Apakah orang yang akan kami temui adalah orang penting bagi Yamato?