
Kami berjalan menuruni anak tangga. Suasana saat ini sangat canggung. Baru kali ini aku melihat Yamato menangis. Walaupun dia sudah susah payah untuk menahannya, pada akhirnya air mata tetap menetes saat dia sudah keluar dari ruang perpustakaan.
Tidak ada satupun dari kami yang berani bertanya atau menghiburnya. Kami merasa dia membutuhkan ruang dan waktunya sendiri. Jadi kami memlih membiarkannya dia untuk saat ini.
Kami berjalan menuju penginapan milik pemimpin. Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa pemimpin itu. Tapi aku merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan mereka. Ternyata memang pilihan yang tepat untuk pergi mencari merewa waktu itu. Aku oenasaran, kira-kira apa yang akan terjadi jika waktu itu kami tidak berniat mencari mereka?
"Kalian keluar dari bangunan itu kan?" Mark mengajak kami berbicara. Mungkin dia juga merasa tidak nyaman dengan suasana canggung seperti ini.
"Jika maksudmu adalah bangunan mengerikan dengan seratus lantai dan sistem yang tidak masuk akal, maka jawabannya adalah iya." Arthur menyela. Seperti biasanya, dia memang selalu mencari gara-gara.
Mark terkekeh pelan, terbatuk. Saat ini aku baru bisa melihat Mark dengan jelas. Ternyata dia orang yang memiliki perawakan baik. Tubuhnya terlihat tegak dan gagah walau wajahnya sudah mulai berkeriput. Mungkin usianya sekitar empat puluh tahun.
"Apa kalian kesusahan?"
"Apa pertanyaan seperti itu masih perlu ditanyakan? Dilihat dari bagaimana paman berbicara, paman pasti sudah tahu, kan?"
"Kamu anak yang tanggap rupanya."
"Tentu saja, paman. Bagaimana mungkin seorang pangeran tidak bisa tanggap?"
"TIDAK BISAKAH KALIAN DIAM?!!" Yamato berteriak. Sontak kami terkejut mendengar itu. Langkah kaki kami juga terhenti. Apakah seharusnya kami memang lebih baik diam?
"Maaf, aku tidak bermaksud." Yamato menyeka wajahnya. Dia seperti orang yang frustasi.
"Tidak, seharusnya kami yang minta maaf karena berisik."
__ADS_1
"Ini bukan salah kalian." Yamato kembali melanjutkan langkahnya. Tidak ada percakapan apapun lagi setelah itu. Mark juga terlihat tidak berusaha mengajak kami berbincang seperti beberapa saat lalu.
Sekitar lima bas menit berlalu, kami akhirnya sampai di sebuah penginapan. Penginapan ini cukup besar dengan setidaknya enam lantai. Di depan penginapan sudah ada dua wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahunan yang sudah menunggj kedatangan kami.
Saat kami memasuki pintu penginapan, kami sudah disambut oleh banyak pelayanan. Lebih tepatnya kami hanya menumpang sambutan saja. Aku tahu betul kalau sambutan ini ditujukan pada Yamato sebagai Tuan Muda. Jujur saja, aku masih belim bisa mengumpulkan kepingan misterinya. Seperti pertanyaan kenapa Yamato dipanggik Tuan Muda, apa yang terjadi tiga tahun lalu, kenapa nama Hugo sangat memengaruhi Yamato, atau pertanyaan seperti bagaimana mereka bisa sampai di tempat ini.
Kami dituntun untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Aku susah payah menahan rasa gembira karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan mereka. Padahal hanya sekitar dua minggu kami tidak bertemu, tapi kenapa aku sampai sesenang ini?
"Lina?! Benar-benar Lina, kan?"
Aku mendengar suara yang tidak asing memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara dan mendapati sosok gadis berambut hitam sebahu. Aku hampir saja menangis melihat sosok itu, tapi aku menahannya mengingat dia pasti akan menjadikan itu sebagai bahan untuk mengejekku.
"Hai, Seli." Aku melambaikan tangan padanya, mencoba tersenyum.
"Akhirnya kita bertemu!! Kamu tahu, aku sangat mwrindukanmu. Kami mengalami banyak hal dan akhirnya sampai di tempat ini. Kamu pasti tidak akan percaya apa yang aku alami." Seli terus mengoceh sambil memelukku. Sejauh ini aku masih belim melihat uang lain.
"Aku percaya, karena aku juga mengalaminya." Aku menatap Seli penuh tanya. Walaupun aku bilang kalau aku percaya, tapi aku tidak tahu kejadian apa yang mereka alami sampai Mark mengatakan mereka datang dengan luka yang cukup serius.
"Kamu percaya?" Seli mendongak, menatapku tidak percaya.
"Tentu saja! Menurutmu bagaimana catanya aku sampai di tempat ini yang seperti dunia fantasi tanpa melewati banyak hal yang tidak masuk akal?" Aku mendorong wajah Seli menjauh. Wajahnya terlalu dekat denganku. Aku merasa tidak nyaman.
"Benar juga." Seli memelukku lebih erat, membuatku sesak napas.
"Seli, berhenti main-main. Kamu tau sendiri, kan apa tujuan kita." Sekonyong-konyong ada seseorang yang datang bersama dengan temanku yang lain. Suara itu terasa tidak asing di telingaku. Walaupun penampilannya berubah, aku tahu dia itu Liya. Aku dikejutkan oleh penampilan Liya.
__ADS_1
Dia mengenakan pakaian ketat yang panjang sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Pakaian itu berwarna dominan hijau dengan sedikit warna putih. Telinganya yang terlihat paling mencolok. Bentuknya memanjang dan meruncing seperti telinga-telinga yang aku lihat saat di perjalanan. Warna rambutnya yang pirang juga sedikit berubah menjadi warna yang agak keemasan. Liya terlihat seperti Elf—aku rasa.
"Jangan bertanya. Ada banyak hal yang terjadi dan aku tidak tahu bagaimana aku jadi seperti ini. Dia bilang semakin lama kita berada di Abyss, kita juga akan terkena kutukan. Walaupun kita tidak terlibat kejadian tiga tahun lalu."
Tiga tahun lalu? Aku menoleh menatap Yamato. Setiap kali membicarakan tentang kejadian yang terjadi tiga tahun lalu, biasanya Yamato akan merasa risih dan tidak nyaman. Benar saja, Yamato langsung pergi meninggalkan kami. Mark menyusul Yamato daei belakang, mengekor padanya.
"Siapa dia? Kenapa raut wajahnya sangat tidak bersahabat?" Seli bersungut-sungut sambil mencibir memperhatikan punggung Yamato. Aku membungkam mulutnya dengan telapak tanganku. Andai saja dia tahu apa yang sudah dialami Yamato, dia pasti akan mengerti.
Aku hanya mengetahui mimpi buruknya. Aku tidak tahu apakah itu ada hubungannya dengan kejadian tiga tahun lalu. Jika saat membicarakan mimpi buruk Yamato masih terlihat baik-baik saja, apakah kejadian tiga tahun lalu lebih buruk daripada mimpi buruk itu?
Aku menghela napas berat. Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk membantunya? Kenapa dia selalu menanggung semua hal sendirian? Kami memang baru saling mengenal, tapi tidak bisakah dia sedikit memercayakan kesedihannya pada kami?
"Liya, apa yang kamu maksud dengan kutukan?" Aku beralih menatap Liya yang berada di belakang Seli. Liya terdiam, tidak menjawab.
"Lebih baik kita berkumpul dulu di ruang pertemuan. Dia sudah menyediakan tempat untuk kita bertemu." Percy memberulkan posisi kacamatanya, memberi isyarat pada kami untuk mengikuti.
Kami berjalan melewati lorong uang panjang sampai berhenti di depan pintu yang terbuat dari baja. Pintu itu berwarna agak kehitaman dan permukaannya terlihat mengilap. Percy dan Harry mendorong pintu bersamaan. Pintu ini terlihat tidak jauh berbeda dengan pintu baru yang kami temui saat memasuki bangunan. Walupun ukurannya jauh lebih kecil, tapi bukankah ini masih terlalu berat? Dan mereka membukanya hanya dengan dua orang?
Pintu baja perlahan terbuka, menampakkan ruangan dengan cahaya putih keemasan. Mereka benar-benar bisa membukanya. Di dalam ruangan terdapat empat sofa panjang yang mengelilingo sebuah meja kayu. Di sini jiga ada rak yang diisi banyak buku dengan huruf aneh. Aku rasa huruf inj sama seperti huruf yang ada di bangunan waktu itu.
Buku-buku ini mengingatkan aku pada buku catatan yang aku pungut saat itu. Aku mengeluarkan buku itu dari dalam suku. Tertera kata 'secret' di cover depanya.
"Semuanya duduk. Kita akan membahas masalah ini dari awal dan tujuan yang aka n kita lakukan." Belum sempat aku merapah tempat inj, Percy dan Liya sudah duduk terlebih dahulu. Mereka memasang wajah serius.
"Kita akan mulai dari kutukan."
__ADS_1