The Hidden World

The Hidden World
Eps.26 First Kiss


__ADS_3

Aku mematung sambil memegang gagang pintu. Siapa itu? Suara dan bahasa yang dia gunakan sangat asing bagiku. Apa dia penduduk asli Abyss?



"Bisakah kamu menggunakan bahasa yang bisa aku mengerti?" Aku menempelkan daun telinga pada pintu, mencoba mendengar lebih jelas suara yang berada di balik pintu.



"Ah, maafkan aku. Aku lupa kalau kamu belum mengerti bahasa kami."



"Yah, tidak apa-apa."



Suara itu, aku seperti pernah mendengarnya. Tapi aku tidak begitu ingat. Aku masih ragu untuk membukakan pintu. Aku tidak tahu apa tujuannya.



"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita bicara? Aku tidak bermaksud melakukan hal yang buruk." Suaranya membuatku bimbang. Aku mempunyai firasat buruk soal ini. Aku merasa seharusnya menghindari pemilik suara ini. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?



"Ugh!"



Tiba-tiba kepalaku merasakan sakit dan pusing yang luar biasa. Rasa sakit ini, aku pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Kenapa sekarang harus kumat lagi? Apa ini ada hubungannya dengan orang yang sekarang sedang berada di sisi seberang pintu?



"Baiklah, tidak apa-apa jika kamu tidak ingin membukakan pintu. Padahal aku sudah meminta baik-baik, tapi kamu memaksaku menggunakan cara yang sedikit kasar. Jangan salahkan aku, ya! Aku juga tidak ingin melakukan ini."



Gagang pintu yang aku pegang bergerak, pintu terbuka perlahan. Bagaimana bisa? Padahal jelas-jelas pintu ini terkunci dan hanya aku yang memiliki kuncinya. Penginapan ini tidak memiliki kunci cadangan untuk setiap ruangan. Jadi bagaimana caranya orang ini membuka pintu?



Napasku tersengal-sengal. Pandanganku perlahan kabur. Lagi-lagi aku pingsan tanpa tahu penyebabnya. Apa aku memang selemah ini?



"LINAA!!" Samar-samar aku mendengar suara Arthur yang memanggilku. Mataku bergerak-gerak, mencoba mencari sosok Arthur. Dari kejauhan, aku melihat dia berlari ke arahku.


__ADS_1


Orang yang mengenakan jubah serba hitam dengan tudung kepala yang saat ini berada di hadapanku mengeluarkan sebilah pisau yang cukup panjang. Aku ingin berteriak memperingati Arthur, tapi orang itu menyerang tenggorokanku dengan telapak tangannya, membuat suaraku menghilang.



Gawat! Jika aku tidak memberitahu Arthur, besar kemungkinan dia akan tertusuk pisau. Aku memutar otak, mencari cara untuk bisa menyampaikan maksudku. Aku melambaikan kedua tenganku, mengisyaratkan padanya untuk menjauh. Tapi Arthur sama sekali tidak menghiraukannya. Dia justru semakin cepat berlari.



Orang di hadapanku tersenyum licik dari balik tudung. Tidak! Aku tidak bisa membiarkan ini. Arthur terus berlari, memangkas jarak diantara kami. Ketika orang itu merasa sudah bisa menjangkau tubuh Arthur dengan tangannya, pria itu dengan cepat berbalik, bersiap untuk menancapkan pisau. Arthur tidak memberikan perlawanan apapun. Saat aku berpikir kalau semuanya sudah terlambat, Arthur melayangkan tinju tepat mengenai dagu orang itu.



Setelah memastikan bahwa dia sudah membuat orang asing itu tidak bisa bergerak, dia langsung menghampiriku. Wajahnya terlihat sangat cemas.



"Lina, kamu baik-baik saja?" Arthur bertanya sambil mengeluarkan botol kecil dari dalam saku baju. Padahal baju ketatnya tidak menonjol sedikitpun, tapi dia bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam saku? Apa baju ini juga dilengkapi dengan ruang penyimpanan?



Arthur menuangkan cairan itu ke dalam mulutnya. Perlahan dia menunduk, mendekatkan wajahnya. Bibir kami saling bersentuhan.



"Ar—"




Aku tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ini pertama kalinya aku berciuman. Arthur adalah orang yang mengambil ciuman pertamaku. Aku melingkarkan lenganku pada lehernya. Ah, aku terbawa suasan yang erotis seperti ini.



Perasaan yang tadi aku rasakan kembali menggerogoti. Perasaan yang tidak nyaman dan menyakitkan ini. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Arthur semakin erat memeluk tubuhku, mendekap dengan lembut. Aku harap waktu berhenti pada momen seperti ini.



"Apa kamu sudah merasa baikan?" Arthur perlahan melepas ciumannya, menatapku lembut. Dia tampak seperti orang lain saat ini. Sejak kapan Arthur menjadi orang yang berbeda? Arthur mengangkat tubuhku, membaringkannya di atas kasur. Aku bisa merasakan otot lengan Arthur yang keras menyentuh kulitku.



"Beristirahatlah, aku yang akan berjaga." Arthur mengecup pelan keningku sembari mengelus-elus anak rambut di dahi. Selang beberapa saat kemudian, teman-temanku yang lain mulai berdatangan. Mereka terbangun oleh suara berisik yang disebabkan Arthur. Bahkan Yamato juga ikut terbangun. Yamato mengedarkan pandangan, berupaya mencerna kejadian yang mungkin terjadi.



"Maafkan aku. Ini semua terjadi karena aku lalai. Aku tidak menyangka mereka akan bertindak secepat ini." Yamato membungkukkan badan, menunjukkan rasa penyesalannya. Dia bergegas membuka tudung yang menutupi wajah orang asing itu. Ketika wajah itu terlihat sepenuhnya, aku dan Yamato terkejut hampir disaat yang bersamaan.

__ADS_1



Wajah ini, pantas saja aku merasa pernah mendengar suaranya. Perasaan yang menyuruhku untuk menjauhi orang ini ternyata memang benar. Walaupun terlihat lebih tua, tapi aku yakin sekali kalau orang ini adalah salah satu anggota dari peneliti gila yang aku lihat di dalam mimpi buruk Yamato.



"Aku akan mengamankan orang ini. Kalian kembalilah ke kamar masing-masing. Tidak perlu khawatir, aku akan menempatkan penjaga untuk menjaga Lina." Yamato meletakkan tubuh orang itu di bahunya, menatap kami bergantian.



Arthur yang duduk di tempat tidurku dengan cepat menggelengkan kepala. Dia mengeraskan rahangnya, menatap Yamato sedikit tidak suka.



"Aku tidak bisa memercayakan Lina pada mereka. Bukankah ramalan juga mengatakan untuk berhati-hati pada orang yang kita kenal? Biarkan aku sendiri yang menjaganya."



"Kamu bersedia menjaganya? Bagaimana kalau ternyata orang yang dimaksud oleh ramalan adalah kamu?" Yamato menyipitkan mata. Dia menatap tegas ke arah Arthur. Namun Arthur mmebalas balik tatapan itu.



"Setidaknya aku memiliki kemungkinan yang jauh lebih kecil daripada kalian yang sedari awal tidak mengenal kami!"



Aku terkejut mendengar kalimatnya. Aku tahu kalau dia merasa kesal, tapi kata-katanya sudah kelewatan. Dia juga sudah tau kalau sikap yang ditunjukkan Yamato saat ini bukanlah kehendaknya. Dia terpaksa harus mewaspadai siapapun di sekitarnya atau semua yang dia miliki saat ini akan dirampas darinya.



Yamato berbalik melangkah meninggalkan kami. Semua pasang mata saat ini tertuju pada Arthur. Yah, tentu saja! Mereka pasti membutuhkan penjelasan.



"Tidak ada apapun yang akan aku katakan. Cepat kembali. Besok kita ada jadwal latihan, jadi jangan sampai ada yang bangun telat atau kelelahan!" Arthur berseru dingin. Entah kenapa dia semakin mirip dengan Yamato. Ekspresinya cepat sekali berubah.



"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Seli mengerutkan kening sambil melipat kedua tangannya di dada.



"Aku? Tentu saja aku akan menjaga Lina. Kenapa? Apa kamu merasa keberatan? Ini bukan yang pertama kalinya." Arthur menoleh, menatap Seli dengan dingin. Arthur berhasil membungkam Seli. Dia tidak bisa membantah kata-kata Arthur karena dia pernah menyuruh Arthur untuk menjagaku saat aku tidur di tenda.



"Kembalilah! Jangan membuatku mengulang kata-kataku lagi."

__ADS_1


__ADS_2