
Kami kembali berjalan menaiki tangga. Aku baru sadar kalau aku kurang berolahraga. Kakiku mulai mati rasa, tapi masih tinggal tiga lantai lagi. Aku harus bisa menahannya. Setidaknya sampai kami berhasil mendapatkan kata kunci kedua. Setelah itu, mungkin aku bisa membujuk Nana untuk beristirahat malam ini dan melanjutkannya besok pagi.
“Akhirnya, tinggal melewati satu tangga lagi.” Arthur menghela napas. Setelah sampai di lantai dua puluh lima, Nana mengeluarkan kartu peta hologram dari sakunya. Dia memperhatikan kartu itu dengan seksama untuk menemukan ruangan tempat teka-teki kedua berada. Nana berjalan paling depan, tanpa mengalihkan pandangannya dari kartu hologram itu.
“Tempat kedua.” Nana bergumam, berhenti di depan salah satu ruangan. Aku menoleh, menatap ruangan itu. Terdapat lampu yang menyala redup remang-remang menerangi ruangan.
“Apa di sini masih ada listrik?” Layla menatap ruangan itu, bingung.
“Tentu saja! Jika tidak, mana mungkin pintu di lantai satu yang beratnya ratusan ton bisa terbuka hanya dengan tombol retakan yang ada di kaki pintu?” Arthur menengadahkan wajah. Dia seperti sedang memperhatikan sesuatu di langit ruangan.
“Apa ini?” Layla menunjuk meja yang ada di dalam ruangan itu. Di atas meja itu terdapat lima gelas yang berisi cairan dengan warna yang berbeda-beda. Lalu, di samping minuman-minuman itu terdapat kertas dengan sebuah tulisan.
‘JIKA BENAR AKAN MENDAPAT KEKUATAN DAN JIKA SALAH ARTINYA KEMATIAN’.
Aku terkejut saat membacanya. Apa kami harus meminum minuman ini?
“Lihat! Sepertinya ini menarik!” Arthur nyengir lebar.
“Benar! Ini akan menjadi sangat menarik jika kamu mengambil minuman yang salah dan mati di ruangan ini.” Nana mengambil satu gelas berisi cairan berwarna biru, meneguknya dengan cepat. Aku memperhatikan Nana dengan seksama. Beberapa menit berlalu, tidak terjadi apa-apa padanya.
“Nana, apa kamu merasa ada yang aneh dengan tubumu?” Aku bertanya cemas.
“Aku merasa seperti ada yang bergejolak. Ada sesuatu yang mengalir sangat cepat dalam tubuhku. Aku rasa aku memilih gelas yang benar.” Nana menatap gelas kosong di tangannya.
“HEEEEH??!! Berarti kamu mendapat kekuatan super? Kekuatan seperti apa yang kamu punya? Apa kamu meresa terbakar dan ingin menyemburkan api dari mulutmu seperti naga?” Arthur antusias bertanya.
“Tidak juga.” Nana menggeleng.
__ADS_1
“Aku selanjutnya.” Aku melangkah maju mendekati meja itu.
“Ingat! Orang pertama mendapat kemungkinan delapan puluh persen untuk hidup. Sedangkan yang terakhir hanya memiliki kemungkinan dua puluh persen untuk hidup.” Nana menatap kami serius. Aku menelan ludah. Itu berarti aku punya enam puluh persen kemungkinan. Aku menatap lamat-lamat empat gelas yang ada di depanku.
“Tapi aku heran, semua ini seperti sudah disiapkan oleh seseorang. Lihat! Bagaimana mungkin gelas-gelas ini berada di sini? Dan bagaimana dia tahu jumlah kita ada empat, sehingga dia menyediakan lima gelas seperti ini?” Arthur menatap deretan gelas itu dengan penuh tanda tanya.
“Aku punya asumsi sendiri tentang ini.” Layla menjawab.
“Kalian ingat, bukan, saat kita di lantai satu, hologram yang tertera di pintu batu meminta agar kita memasukkann nama kita ke dalamnya. Mungkin dia mendapat informasi dari sana.”
“Dan yang menjadi pertanyaannya adalah dia itu siapa?” Aku menggelengkan kepala.
“Yang pasti dia adalah orang yang menjebak kita untuk masuk ke tempat ini.” Arthur menatapku kesal.
“Jadi menurutmu orang itu punya kekuatan yang bisa mengendalikan pikiran seseorang dari jauh dan menuntun kita ke sini lalu mengendalikan tempat ini dengan kita sebagai bonekanya?” Nana menatap Arthur, meminta penjelasan.
“Jika setelah meminum cairan itu kamu benar-benar memiliki kekuatan, hal seperti itu tidaklah mustahil. Apakah kamu memiliki penjelasan lain kenapa kita bisa dituntun ke tempat ini? Apakah ada semacam makhluk halus yang ingin memangsa kita?” Arthur bersungut-sungut. Wajahnya
“Bukan makhluk halus, tapi monster yang kita temui di lantai sepuluh.” Layla menimpali.
“Aku tidak ingin kalian membahas ini lebih jauh yang hanya akan membuang-buang waktu kita.” Aku menatap mereka dingin. Mereka bertingkah seperti anak kecil. Bahkan Nana juga ikut-ikutan.
Aku kembali mengalihkan pandanganku pada meja itu. Tersisa empat gelas. Aku harus memilih satu diantanya. Lagi pula apa hubungannya gelas-gelas ini dengan teka-teki kami? Jika kami memang benar-benar mendapatkan kekuatan, apa gunanya itu?
“Aku rasa aku akan meminum yang kuning ini.” Aku bergumam, meneguk cairan itu. Rasanya lengket dan kental. Membuatku ingin memuntahkannya. Sungguh rasa yang tidak nyaman. Aku menelan paksa cairan itu. Setelah itu jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Ada sesuatu yang bergejolak mengalir di tubuhku. Sensasi ini membuatku sedikit pusing.
“Lina?” Layla membetulkan kacamatanya. Aku menoleh, tersenyum. Setelah itu, Layla mengambil gelas berwarna perak, meneguknya perlahan. Sesekali dia terhenti, lalu meneguknya lagi.
__ADS_1
“Aku pikir aku akan mati.” Layla menghela napas lega.
“Oke! Sekarang yang terakhir, giliranku. Hanya tersisa cairan berwarna hitam dan cairan bening yang mirip seperti air.” Artur mentap lekat-lekat dua gelas itu. Lalu, dia mengambil gelas dengan cairan berwarna hitam. Arthur meneguknya dengan cepat dan mengeluarkan kata ah setelah dia meminumnya. Selang beberapa saat, tiba-tiba tubuh Arthur terjatuh ke lantai ruangan. Napasku tersengal, terbatuk. Aku segera berlari ke arahnya.
“Arthur! Ar! AR!! Sumpah! Kalau kamu hanya bercanda, aku lempar dari jendela.” Aku menampar-nampar wajah Arthur.
“Arthur, ini bukan waktunya bercanda. Kamu tahu sendiri orang terakhir hanya memiliki dua puluh persen kemungkinan. Jika kamu tidak bangun juga, kami akan meninggalkanmu di sini. Kami tidak mau membawa mayat yang hanya akan menjadi beban.” Nana melirik ke arahku yang sedang memangku kepala Arthur.
Arthur langsung terduduk. Sejenak aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba itu.
“Aaarrgghh! Rasanya sangat tidak enak. Aku seperti meminum kotoran. Itu sangat menjijikkan.” Artur menggaruk kepala, nyengir lebar. Aku secara spontan langsung menimpuk kepala Arthur dengan tinju, mendengus. Dia benar-benar membuatku jengkel. Bisa-bisanya dia berguarau disituasi yang seperti ini.
“Lah? Masih hidup? Padahal lebih bagus kalau kamu meningsoi aja tadi.” Nana mengangkat sebelah alisnya. Arthur tersenyum.
“Nanti siapa yang jaga kalian kalau aku tidak ada?” Arthur berdiri.
“Heeh?”
Ruangan tiba-tiba berubah. Dari yang tadinya kosong melompong, kini menjadi ruangan yang penuh dengan barang-barang yang tidak aku kenal.
"Apa yang terjadi?" Layla melayangkan tatapan bingungnya.
"Tempat ini benar-benar sangat aneh." Arthur mematung saat mendapati sekelilingnya berubah seratus delapan pulyh derajat.
"Apa menurutmu kita salah melakukan sesuatu?"
"Entahlah. Intinya aku mempunyai firasat buruk soal ini." Aku mengembuskan napas berat. Saat ini, aku merasakan tekanan yang asing, tapi juga terasa familiar.
__ADS_1
"Jangan berpikir terlalu jauh. Untuk saat ini, kita ikuti saja perkembangan permainannya. Tetap waspada dan jangan turunkan penjagaan kalian!"
"Yah!"