The Hidden World

The Hidden World
Bab 12 Scipion dan Ingatannya


__ADS_3

Aku kembali duduk di lantai ruangan, mendengarkan ceritanya dengan saksama. Aku menatapnya lamat-lamat. Pantas jika ada orang yang melihatnya, maka mereka akan ketakutan. Saat pertama melihatnya, aku juga merasa kalau dia makhluk yang berbahaya. Tapi saat ini, secara perlahan aku mulai terbiasa dengannya.


Aku mengembuskan napas berat. Dia berhenti begitu lama. Aku tidak terlalu khawatir atau takut saat ada monster yang datang. Aku yakin Aryek akan segera mengatasinya. Tapi yang aku khawatirkan itu teman-temanku, Layla, Nana, dan Arthur. Aku takut salah satu dari mereka bertemu dengan Arf-ak. Tapi tunggu! Kalau Aryek bisa sebaik ini, mungkin Arf-ak juga akan seperti dia.


'Jika kamu mengira dia akan sepertiku, kamu salah besar. Dia bagai mesin pembunuh yang tidak pernah pandang bulu. Apapun yang menghalanginya, apapun yang ada di depannya akan diasingkirkan.'


“A-Apa?” Aku menatapnya tak percaya. Mata-mata itu balik menatapku.


“Aku tidak mngerti. Bukankah kalian jenis makhluk yang sama? Kalian berada pada tabung yang sama, walaupun terpisah. Bagaimana dia bisa berbanding terbalik denganmu? Bahkan bentuknya saja lebih manusiawi daripada bentuk tubuhmu!” Suarau sedikit meninggi. Aku tersentak pelan.


“Maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti atau membuatmu tersinggung.” Aku merebahkan tubuhku, mencoba untuk sedikit lebih santai.


'Apa kamu bersedia masuk ke dalam duniaku?'


“Duniamu?” Aku menoleh, meminta penjelasan.


'Yah, akan aku tunjukkan kejadian yang sebenarnya. Aku ingin kamu melihatnya sendiri.'


“Kenapa kamu ingin aku melihat itu?”


'Karena aku yakin kalau kamu adalah orang yang diramalkan olehnya satu dekade lalu. Saat kita sudah berada di duniaku, itu hanyalah jiwa kita yang masuk. Kita tidak bisa dilihat dan kita tidak bisa saling bersentuhan dengan mereka. Kita hanya pergi ke dunia mimpi, bukan kembali ke masa lalu.'


“Hanya jiwa kita? Berarti raga kita tetap berada di sini? Bagaimana jika ada monster? Kita hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka.


'Tenang saja. Aku sudah membuat gelembung tipis tidak terlihat yang membungkus ruangan ini. Gelembung ini berfungsi sebagai perisai. Selama Arf-ak tidak di sini, kita akan tetap aman. Gelembung ini juga berfungsi menyembunyikan hawa keberadaan kita. Kamu siap?'


“Yah, mulailah kapan saja.”


'Kalau begitu, sekarang pejamkan matamu.'


Aku memejamkan mata perlahan. Semakin sering Aryek berbicara padaku, semakin terbiasa juga aku dengan suaranya yang terus menggema di dalam kepalaku.


“Buka matamu!” Seseorang berbicara padaku. Suara itu bukan berasal dari dalam kepalaku yang artinya bukan Aryek yang sedang berbicara denganku. Apa ada orang lain selain kami di ruangan ini? Dan aku tidak mengenali pita suara ini.

__ADS_1


Perlahan aku membuka mataku. Ruangan yang tadinya gelap berubah menjadi sangat terang. Mataku mengerjap-ngerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya. Dimana ini? Tempat apa ini? Kenapa cahaya di sini sangat menyilaukan? Mataku bahkan belum bisa menyesuaikan diri.


“Ini adalah penampakan bangunan beberapa dekade yang lalu. Sangat indah, bukan?” Suara yang tadi berbicara padaku kembali terdengar. Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Di sana aku mendapati sosok pemuda yang berusia kisaran dua puluh tahun. Tampangnya begitu elok dipandang. Rambutnya berwarna hitam kemerahan. Tingginya mencapai dua meter. Aku mendongak, menatapnya kagum.


Dia balik menatapku, memiringkan kepala. Aku terdiam menatapnya, tidak berkedip.


“Siapa kamu? Dimana Aryek? Maksudku monster yang bersamaku tadi?” Aku mengernyitkan dahi. Dia terpaku sejenak, kemudian tertawa ringan.


“Maaf sebelumnya karena aku tidak memperkenalkan diri. Namaku Scipion. Aku adalah monster yang bersamamu sejak tadi. Ah, iya. Orang-orang memanggilku dengan nama Aryek setelah bentuk tubuhku berubah.” Dia tersenyum. Parasnya yang tampan dan senyumannya yang anggun, serta tatapannya yang begitu teduh membuatku ingin memeluknya. Aku rasa dia sedang membutuhkan pelukan.


“Kamu Aryek?” Mataku membelalak tidak percaya. Dia mengangguk pelan.


“Memang sulit dipercaya, tapi aku memang Aryek. Sekarang biar aku tunjukkan padamu sebuah mimpi buruk.” Dia menarik pergelangan tanganku. Aku mencoba menyamai langkah kakinya yang lebar.


Bola mataku tidak bisa berhenti bergerak-gerak menyapu ruangan ini. Napasku semakin memburu. Scipion yang berada di sampingku tetap tenang menatapku. Inikah yang dia sebut dengan mimpi buruk? Ini bahkan lebih buruk daripada hanya sekedar mimpi buruk.


“Ini adalah salah satu ruangan tersembunyi yang berada di dalam bangunan ini. Dulu, orang-orang menyebut bangunan ini dengan sebutan menara. Bangunan ini memiliki seratus lantai, pantas jika mereka menyebutnya menara.” Dia berjalan mendekati salah satu tabung.


Tempat ini, aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Tapi yang pasti tempat ini adalah laboratorium penelitian. Ada begitu banyak tabung yang berisi tubuh manusia. Aku tidak tahu mereka masih hidup atau sudah mati. Tubuh mereka mengambang dalam cairan bening yang penuh dengan gelembung. Hidung sampai mulut mereka diberi alat seperti alat bantu pernapasan.




Mimpi buruk seperti apa yang akan dia tunjukkan padaku? Apa yang akan terjadi dalam mimpi buruk ini nantinya? Dan sebenarnya apa yang terjadi padanya?


“Apa kamu sudah siap? Sudah hampir waktunya untuk berangkat menjelajah.” Scipion memegang pundakku, tersenyum. Aku hanya bergeming. Aku tidak tahu harus merespon seperti apa. Lebih tepatnya, aku tidak sanggup untuk memberikan respon apapun.


Tidak lama setelah itu, ada beberapa orang dengan pakaian serba putih memasuki ruangan dengan membawa buku catatan tipis di tangan mereka. Mereka mendekati salah satu tabung yang berisi manusia itu. Kemudian, salah satu dari mereka memasukkan cairan merah pekat lewat suntikan langsung ke selang yang terhubung ke tubuhnya. Mereka diam, hanya memperhatikan. Mungkin mereka menunggu reaksi dari cairan yang mereka suntikkan itu.


“AAAAAHHHH!!!! HAAAAAH!!!! AAARRGGGHH!!!” Orang yang berada dalam tabung itu meronta kesakitan. Suara teriakannya samar-samar terdengar. Aku tidak tahu kenapa, tapi mendengarnya berteriak seperti itu membuatku ingin menangis.


Aku menatap Aryek di sampingku yang hanya diam memperhatikan kejadian itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu hanya melihat saja?” Aku membentaknya. Dia menggeleng pelan sambil melukiskan senyum di paras indahnya.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan.”


“Apa maksudmu? Kalau kamu memang hanya ingin diam saja seperti pengecut, biar aku yang menghadapi mereka.” Aku menendang tulang keringnya. Dia merintih kesakitan. Yah, aku akan melakukannya sendiri. Lagipula aku sudah memiliki kekuatan. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Aku akan menghajar mereka.


Saat aku sudah siap dengan pukulanku, aku terjatuh. Pukulan yang aku lancarkan pada salah satu dari mereka tidak dapat mengenainya. Aku tidak dapat menyentuh mereka. Aku menoleh, menatap Scipion yang berada di belakangku, meminta penjelasan.


“Bukankah sudah aku katakan kalau tidak ada yang bisa kita lakukan? Kita hanya pergi untuk melihat mimpi buruk, bukan kembali ke masa lalu. Mereka tidak dapat melihat kita dan kita tidak dapat menyentuh mereka. Kita berada di dunia mimpi. Tidak akan ada yang berubah di masa lalu. Jadi jangan buang tenagamu hanya untuk hal yang sia-sia.” Scipion memetik jari. Ruangan di sekitarku berputar. Kami berpindah ke ruangan yang lain.


Aku melihat begitu banyak mutan di tempat ini. Manusia modifikasi yang dibuat oleh para ilmuan gila itu. Mereka memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari manusia pada umumnya. Namun, mereka belum kehilangan hakikat mereka sebagai manusia.



Beberapa ilmuan kembali datang ke ruangan. Kali ini mereka membawa tabung besi yang cukup besar. Mereka memasangkan selang ke salah satu dari kelinci percobaan mereka pada tabung itu. Tabung itu berisi gas yang berwarna agak biru. Mutan itu sedikit demi sedikit menghirup gas dari tabung besi itu. Gas apa itu? Oksigen? Tidak mungkin oksigen memiliki warna yang seperti itu.



Mereka kemudian mengecek ke mesin yang berada di samping mutan itu, tersenyum.


“Ini adalah ingatanmu, benar?” Aku mengeraskan rahang.


“Ya!” Scipion menjawabku dengan singkat.


“Lantas apa yang kamu lakukan selama eksperimen yang gila ini berlangsung? Jika kamu mengetahui hal ini, bukankah berarti kamu juga sedang berada di sini?” Aku menggeram kesal, mengepalkan tangan. Scipion melirikku, kemudian kembali menatap para peneliti itu.


“Saat penelitian ini berlangsung? Aku rasa aku hanya berbaring tidur di atas ranjang.” Dengan entengnya Scipion mengatakan hal seperti itu. Aku tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia inginkan. Bukankah dia juga adalah korban?


“Apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukkan padaku? Apa kamu ingin menunjukkan karma yang menimpamu karena kamu hanya diam dan menyaksikan ini, begitu? Karma mendatangimu dan mengubahmu menjadi monster, lalu kamu menyeretku ke sini untuk apa?” Aku menampar Scipion dengan keras. Dia hanya menghela napas panjang, tidak mempedulikanku.


“Yah, mungkin ini adalah cerita tentang karma yang menyapaku dan merasa nyaman tinggal bersama denganku. Mungkin ini adalah karma karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat semua hal gila ini terjadi.” Dia meneteskan air mata.


“Hah?! Apa ini? Kamu menangis karena menyesal? Jangan membuatku tertawa. Seharusnya orang sepertimu diberi hadiah yang lebih besar oleh karma.”

__ADS_1


“Begitukah?” Scipion menengadah, menghela napas. Dia kembali memetik jarinya. Ruangan kami kembali berputar, berganti menjadi ruangan yang lain.


__ADS_2