
Aku mengutuk Arthur dalam hati. Aku baru sadar kalau dia sengaja membuat situasi seperti ini terjadi. Ternyata aku yang mengira Arthur sudah berubah itu salah. Faktanya dia tetap menjadi orang yang sama, bahkan lebih menyebalkan dari biasanya.
"Lina benar. Itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami hanya melewati malam bersama." Arthur tersenyum dengan raut tidak berdosanya. Ingin sekali aku menjitak kepalanya itu. Bisa-bisanya dia dengan entengnya mengatakan sesuatu yang bisa dengan mudah menyulut kesalahpahaman.
"Kami memang melewati malam berasama. Tapi maksudnya memang hanya melewati malam bersama-sama. Maksudku kami tidak melakukan apapun. Sungguh!"
"Jadi apa yang kalian lakukan saat 'melewati malam bersama' jika kalian tidak melakukan apapun?" Seli menatapku menyelidik.
"Seli, bukannya kita tidak sopan kalau terus mengganggu hubungan orang yang baru saja terjalin semalam?" Mery berbisik genit. Walupun aku bilang itu bisikan, tapi aku masih bisa dengan jelas mendengarnya.
"Ternyata kalian sudah sampai."
Yamato berjalan ke arahku disusul yang lain di belakangnya. Baru kali ini aku merasa sangat bersyukur karena mereka datang di saat yang tepat. Wajah Mery dan Seli berubah masam saat melihat batang hidung Yamato.
"Baiklah, kita akan langsung mulai latihan. Aku sudah menyiapkan artefak yang aku rasa akan cocok untuk kekuatan kalian." Yamato dengan pelan menurunkan kardus besar yang dia bawa. Di dalamnya ada banyak jenis artefak yang bisa kami pakai. Tapi aku heran, bagaimana cara Yamato mengetahui kekuatan kami?
"Lina dan Arthur, aku belum mengetahui seluruh kekuatan kalian karena kalian tidak ikut latihan tadi. Jadi aku memilihkan artefak sementara yang bisa kalian pakai. Kita akan memilih artefak baru besok." Yamato mulai membagikan artefak-artefak yang ada di dalam kardus.
Ternyata mereka sudah latihan sebelum kami datang. Itu salahku karena aku bangun kesiangan sampai Arthur juga tidak ikut latihan sebelum ini. Yamato memberikan artefak berupa kalung sederhana tanpa liontin dan sepasang sarung tangan berwarna putih. Tanpa berpikir lagi aku langsung mengenakan artefak itu. Tidak ada perasaan yang berbeda. Aku tidak merasakan apapun setelah memakainya.
Aku menatap Arthur yang berada tidak jauh dariku. Dia mendapatkan sesuatu seperti tongkat besi yang terlihat sudah agak berkarat. Wajah Arthur berubah masam saat tahu dia mendapatkan artefak yang "tidak keren" menurut seleranya.
"Sekarang kita uji artefak masing-masing. Aku akan memberikan penjelasan sebelum kalian memulainya. Harry, majulah!" Yamato menganggukkan kepala, memberi isyarat pada Harry untuk segera melakukan apa yang dia perintahkan.
__ADS_1
Harry menerima artefak gelang berwarna biru muda yang cerah yang menempel dengan sempurna di pergelangan tangan kanannya. Saat Harry mengangkat tangan kanan, gelang itu hancur menjadi kepingan kecil. Lalu dengan cepat kepingan-kepingan itu berubah menjadi sebilah pedang panjang yang terlihat pas dengan Harry.
Harry mengayunkan pedang secara vertikal, membuat sesuatu yang terlihat seperti stalagmit es memanjang sampai menyentuh dinding bersamaan dengan hembusan angin yang cukup kuat. Bahkan atap di atas Harry juga membentuk stalaktit kecil.
"Waaah!!" Aku melongo melihatnya. Meski ayunan pedang Harry masih terlihat sangat kaku, tapi serangan yang dia lancarkan sangat luar biasa. Jika percobaan pertama saja sudah sehebat ini, bagaimana jadinya jika Harry berhasil menguasai dan menyesuaikan diri dengan artefak itu sepenuhnya? Ugh! Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bersemangat.
"Padahal Harry mendapat artefak yang sangat keren. Kenapa aku malah dapat artefak sampah seperti ini?" Arthur mencibir sambil menatap tongkat yang kini berada di genggamannya.
"Bagus!"
Suara tepuk tangan mengambang di langit-langit ruangan. Pertunjukan yang menakjubkan! Pedang yang dipegang Harry kembali ke bentuk semula menjadi gegelang.
"Selanjutnya, Seli."
"Aku berharap besar pada artefak itu. Hanya untuk sekedar informasi, cincin itu awalnya adalah cincin sihir kesayangan Lord Ifrit, penguasa region iblis. Kami berhasil merebut artefak ini saat perang tiga tahun lalu. Aku harap kamu bisa mengeluarkan kekuatan sejatinya." Yamato menghela napas.
Seli memakai sebuah cincin emas dengan batu yang merah menyala. Seli berdiri tegap, mengatur napas. Perlahan kedua tangannya bergerak memutar, membenruk lingkaran api. Saat lingkaran itu sudah membentuk dengan sempurna, batu merah yang berada di cincin Seli menyala, membuat lingkaran api yang Seli buat semakin membesar. Lalu lingkaran itu mengeluarkan semburan api yang sangat dahsyat. Kekuatan yang luar biasa. Aku rasa Seli bisa meratakan kota ini hanya dengan beberapa serangan saja.
"Walaupun tidak sesuai harapan, tapi kerja bagus. Kamu bisa menguasai kekuatan cicin itu meski hanya sekitar sepuluh persennya saja." Yamato memberikan tepuk tangan. Kami dikejutkan oleh pernyataan Yamato. Kekuatan seperti itu baru sepuluh persen? Bagaimana jadinya jika bisa menggunakan seratus persen dari kekuatan cincin itu?
"Kalian tidak perlu terkejut. Walaupun Seli bisa menguasai kekuatan cicin itu sampai batas maksimal, aku masih belum yakin dia bisa mengalahkan Lord Ifrit. Dia adalah Raja iblis yang bekerjasama dengan kaisar kami saat ini. Jadi, besar kemungkinan kita akan berhadapan dengannya. Dia lawan yang sangat kuat dan berbahaya." Tatapan Yamato menerawang. Mungkin dia sedang mengingat kejadian tiga tahun lalu.
"Oke, Seli sudah cukup! Selanjutnya Liya. Sebelumnya kamu tidak bisa mengendalikan lebih dari satu elemen di saat bersamaan, kan? Artefak itu akan membantumu agar kamu bisa mengendalikan dua elemen sekaligus."
__ADS_1
Liya mengangguk paham dengan penjelasan Yamato. Dia berjalan ke arah Seli, memberi tos padanya. Liya mendapatkan artefak sepasang anting. Tapi masing-masing dari anting itu memiliki bentuk yang berbeda. Liya bersiap, memasang kuda-kuda. Liya mengangkat kedua tangannya dan disaat yang bersamaan dua antingnya bersinar. Salah satu dari mereka mengeluarkan cahaya biru pekat dan satu lainnya mengeluarkan cahaya kuning terang.
Kami menyipitkan mata karena silau dengan cahaya yang dikeluarkan artefak itu. Beberapa saat kemudian cahaya itu memudar. Bersamaan dengan itu, di depan Liya saat ini sudah ada bola air yang sangat besar. Bagian permukaan bola itu mengeluarkan percikan listrik atau petir, ya? Aku tidak tahu pasti.
"Yamato, bagaimana kami bisa fokus bertarung kalau artefak itu mengeluarkan cahaya yang terang seperti ini?!" Aku menatap Yamato penuh tanya.
Memang benar kekuatan dari artefak itu sangat luar biasa. Tapi jika setiap mengaktifkan artefak harus ada cahaya seterang itu, maka artefak itu tidak bisa digunakan dalam medan pertempuran.
"Tenang saja. Cahaya itu hanya keluar saat pertama kali memakainya. Itu seperti sedang menyesuaikan diri dengan pengguna. Setelah ini tidak akan menjadi masalah." Yamato tersenyum lebar sambil menatap Liya di depan sana. Bola air yang Liya buat semakin membesar, bahkan yang tadinya hanya ada percikan listrik, sekarang malah ada bola-bola petir yang mengelilingi permukaan air.
"Elemen Liya akan sangat menguntungkan untuk serangan yang berskala luas. Menggabungkan dua elemennya akan mampu untuk menumbangkan antek-antek Raja Iblis."
Aku menatap Yamato yang bergumam sendiri sedari tadi. Dia sangat antusias memperhatikan Liya dari jauh. Aku tidak tahu apakah dia antusias karena perpaduan kekuatan Liya atau karena Liya sendiri. Tapi yang pasti pandangan Yamato saat ini terkunci padanya.
Setelah Liya menunjukkan sedikit "atraksi" pada kami, Yamato memujinya dengan terus terang. Setelah itu kami kembali bergiliran. Arthur berjalan dengan tongkat di genggamannya. Artefak itu berfungsi supaya Arthur bisa mempertahankan bentuk tubuh manusianya tapi dengan kekuatan yang hampir dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.
Nana mendapatkan artefak gelang perak yang dihiasi manik-manik. Gelang itu membuat Nana bisa menggunakan black hole dengan kurin waktu yang lebih lama. Lalu Layla Mendapatkan artefak gelang kaki yang meningkatkan kemungkinan keberhasilan sihir penciptaan miliknya.
Mery tidak mendapat artefak untuk kekuatan penyerangan, tetapi dia mendapatkan batu hijau yang membantunya menguasai teknik healing dengan baik. Walaupun beberapa orang mengira teknik healing tidak diperlukan dalam pertempuran, sebenarnya teknik ini sangat dibutuhkan sebegai salah satu pengukur persentase kemenangan.
Percy adalah satu-satunya orang yang mendapat artefak, tapi terasa seperti tidak mendapatkannya. Artefak yang dia miliki berupa kacamata yang bisa menghilangkan keberadaan dia secara menyeluruh saat dia mengaktifkan teknik raib miliknya. Mengingat Percy memang memakai kacamata, jadi ini akan seperti dia tidak mendapatkan artefak apapun.
"Baiklah, kita akan berlatih secara terpisah untuk tiga bulan ke depan. Terserah kalian ingin berlatih dimanapun, bahkan di luar Abyss juga tidak masalah. Asalkan hindari region Raja Iblis dan jangan mendekati wilayah para Ilmuwan. Sampai bertemu saat kalian sudah menjadi lebih kuat!"
__ADS_1
"Yah, yah! Sampai bertemu saat game inti sudah dimulai!"