The Hidden World

The Hidden World
Bab 6 Dimensi Pelatih Liebe


__ADS_3

"Selamat datang di tempat pelatihan dan selamat atas kelulusan kalian. Kalian yang memiliki keberuntungan dan insting yang tajam berhak mendapatkan ini. Tempat ini bertujuan agar kalian dapat menguasai kekuatan kalian setidaknya sebanyak enam puluh persen.”


Suara itu terdengar menggema, entah darimana asalnya. Ruangan ini membesar dan terdapat banyak hologram manekin yang berjejer hingga di depan pintu ruangan lain. Aku menatap Nana, dia mengangguk. Nana berjalan paling depan diikuti Layla, aku, kemudian Arthur yang berada di paling belakang. Nana memegang gagang pintu, memutarnya, lalu mendorong pintu itu. Di dalam ruangan itu terdapat empat pintu lagi dengan penomoran.


“Ini adalah ruangan khusus untuk kalian berlatih. Manekin akan memberikan kartu nomor pada kalian. Masuklah sesuai dengan nomor yang tertera.”


Suara itu kembali bergema.


“Ini lebih mirip game dari pada teka-teki.” Arthur melangkah maju menuju pintu yang terbuat dari besi dengan angka tiga puluh. Salah satu hologram manekin baru saja selesai memberikan kami kartu hologram yang tertera angka di permukaannya.


“Kami memiliki tiga puluh ruangan. Semakin tinggi angka ruangan yang kalian masuki, maka semakin kuat pula kekuatan kalian. Namun, kekuatan yang kuat juga sulit dikendalikan. Jadi, kalian harus berlatih sangat keras.”


Dia mengatakan memiliki tiga puluh lantai. Jadi Arthur adalah yang paling kuat diantara kami. Nana dan Layla melangkah bersamaan. Nana memasuki ruangan sembilan belas dan Layla memasuki ruangan enam belas. Hanya tersisa ruangan lima belas. Aku memperhatikan kartu nomor ditanganku. Disana tertera nomor lima belas. Apa ini artinya aku adalah yang paling lemah? Ayolah. Aku berjalan mendekati pintu itu, membukanya.


Ini tidak seperti aku sedang berada di dalam ruangan. Ini lebih terlihat seperti aku berada di suatu tempat yang hanya terlihat hamparan rumput sejauh mata memandang. Tidak ada pohon, binatang, batu, dan apapun itu. Di sini hanya terdapat rumput dan tanah. Bahkan pintu yang aku lewati tadi juga menghilang. Apa ini jebakan?


Ditengah-tengah kebingunganku, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh menghamtam tanah mengeluarkan suara bum keras seperti meteorit. Debu beterbangan. Angin hembusannya sangat kuat hingga mampu menyeret mundur tubuhku. Aku memejamkan mata.


“Eh? Seorang anak perempuan?” Aku mendengar sumber suara dari balik tumpukan debu yang melayang di udara. Seseorang menghampiriku dari balik kabut itu. Dia seorang wanita yang masih muda. Tubuhnya yang hanya memakai bikini terlihat sangat ramping. Wanita itu mengisap rokok, lalu mengembuskannya tepat di depan wajahku. Aku terbatuk pelan.


“Bocah, siapa namamu?”


“Lina!”

__ADS_1


“Heeh, Lumayan. Namaku Liebe. Panggil aku Liebe, hanya Liebe.” Wanita itu menatap dingin. Aku mengangguk.


“Kak Liebe. Eh?” Aku memiringkan kepala. Aku tahu dia menyuruhku untuk memanggilnya Liebe. Tapi terasa aneh bagiku memanggil orang yang lebih tua tanpa kata sebutan.


“LIEBE!” Dia melotot.


"Aku tidak suka merasa lebih tua. Anggap saja aku teman seumuranmu. Itu akan mempermudahkanmu dalam belajar.” Liebe berjalan menjauh.


“Aku tidak akan banyak basa-basi. Mari kita lihat apakah kamu bisa menguasai semua kekuatan atau hanya sebagian. Oh, mungkin kamu bahkan tidak bisa mengendalikan satupun?” Liebe tersenyum, menatapku penuh tanya. Aku hanya diam membisu.


“Aku akan mulai dengan penjelasan mengenai kekuatanmu. Tapi sebelum itu ada yang menggangguku. Tanyakan saja apapun yang mengganggu pikiranmu. Kamu tidak akan bisa mengeluarkan bakatmu yang sesungguhnya jika kamu tidak bisa fokus hanya karena kamu memiliki beberpa pertanyaan yang belum terjawab.”


“Eh?” Mataku mengerjap-ngerjap. Aku memang memiliki beberapa pertanyaan.


“Silahkan saja.” Liebe menatapku. “Sudah aku katakan, anggap saja aku sebagai temanmu. Tidak usah bersikap gugup seperti itu.”


“jadi, tempat apa ini?” Aku menatap Liebe di depanku dengan seksama. Liebe mengembuskan asap rokok.


“Tempat apa ini? Entahlah. Aku juga tidak terlalu mengerti. Tapi aku rasa kamu juga tahu bahwa dalam satu dunia tidak hanya ada satu kehidupan. Dalam satu dunia terdapat dunia lain di dalamnya. Itulah yang kita sebut dengan dunia paralel, beberapa kehidupan di dunia yang berjalan sejajar dalam dimensi yang berbeda.” Liebe menatapku.


“Sepertinya kamu tidak puas dengan penjelasan itu.”


“Bagaimana kamu bisa berada di sini, Liebe?”

__ADS_1


“Aku? Sepertinya kamu salah paham kepadaku. Aku makhluk duna ini, sedangkan kamu adalah makhluk asing dari dimensi dunia yang berbeda. Cairan yang kamu dan teman-temanmu minum adalah ramuan. Di dunia ini ramuan itu disebut dengan senjata imperial. Hanya keturunan ningrat yang dapat meminumnya.” Liebe berjalan ke arahku, duduk di sampingku. Dia menepuk-nepuk rumput di sebelahnya, mengisyaratkan aku untuk duduk berdampingan.


Aku menelan ludah. Aku rasa dia bukan orang yang berbahaya. Walaupun dia mengatakan kalau dia adalah makhluk dunia ini dan aku adalah makhluk asing, tapi dia tidak jauh berbeda denganku. Tubuhnya seperti manusia pada umumnya. Dia tidak terlihat seperti makhluk aneh. Aku menerima ajakannya, mengambil posisi duduk.


“Kalau ramuan itu hanya bisa diminum oleh para ningrat, kenapa aku dan teman-temanku bisa meminumnya begitu saja?” Aku menatap Liebe di sebelahku. Liebe mengembuskan asap.


“Sebenarnya aku berharap tidak harus menceritakan hal ini pada siapapun. Tapi, entah kenapa instingku mengatakan akan terjadi sesuatu yang baik jika aku memberitahukan ini padamu.” Liebe tersenyum, menengadah, menatap hamparan langit biru. Liebe melempar puntung rokoknya ke udara. Puntung rokok itu kemudian terbakar hingga menjadi abu.


“Baiklah, darimana aku harus memulainya?” Liebe kembali menengadah, menyipitkan mata, terpejam.


“Kamu tahu, aku memiliki tuan dan beliau memiliki seorang putri yang cantik, sangat cantik dan imut. Tapi dia memiliki kelainan, itu sudah bawaan dari lahir.”


“Sejak lahir? Kelainan seperti apa itu?” Aku bertanya, tidak sabar menunggu kelanjutannnya.


“Kamu ingin tahu? Dengarkan baik-baik apa yang akan aku ceritakan. Semuanya dimulai waktu tuanku menyewa sirkus yang hanya tampil di dalam ruangan khusus untuk putrinya. Semua yang ditampilkan di sirkus tidak ada yang bisa membuat putri tertawa. Sampai suatu tragedi terjadi. Disaat salah satu pemain sirkus melakukan aksi yang berbahaya dan dia tewas seketika. Apa kamu tahu apa yang dilakukan oleh pemain sirkus itu?" Liebe menatapku. Napasnya terdengar tidak beraturan.


"Dia masuk kedalam lemari dan meminta rekannya untuk menusukkan sepuluh pedang pada lemari itu. Disaat pertunjukan berlangsung, darah tiba-tiba keluar dari dalam lemari. Semua orang tentu sangat panik saat itu. Para rekannya langsung membuka lamari itu dan mendapatinya sudah mati dengan tiga tusukan yang menembus tubuhnya. Pada saat yang bersamaan putri tertawa sangat keras seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Seolah dia sangat menikmati pertunjukannya.” Liebe mengembuskan napas panjang.


Aku mematung mendengarnya, tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku ingin tahu seperti apa putri itu.


“Aku tahu, kamu pasti ingin tahu siapa putri yang bernasib malang itu. Dia menyukai pakaian putih karena warna darah akan nampak jelas di sana. Liebe, lihat! Jika aku mengenakan gaun ini dan mandi darah, maka warna gaunnya akan berubah menjadi merah. Karena itu aku benci warna merah. Jika aku mengenakan gaun merah, warna darahnya tidak akan terlalu terlihat. Itu yang dia katakan. Waktu itu aku hanya bisa tersenyum. Dia juga mengatakan kalau dia membenci rambutnya yang berwarna merah dan keriting. Dia tidak suka sesuatu yang menyamai warna darah.” Liebe menghempaskan punggungnya pada hamparan rerumputan.


Gaun putih? Rambut merah dan keriting? Aku seperti pernah bertemu dengannya.

__ADS_1


“Bagian inilah yang sangat menyakitkan untukku. Saat malam hari setelah acara sirkus itu, ketika semua orang sedang terlelap dalam tidur mereka, aku mendengar tuanku menjerit kesakitan. Aku yang saat itu sedang bertugas untuk berjaga di malam hari langsung menghampiri ruangan beliau. Apa kamu tahu apa yang aku temukan? Aku melihat putri dengan gaun putihnya yang penuh bercak merah dan tangan yang memegang pisau dapur. Kemudian aku melihat tubuh tuanku yang sudah kaku dengan seprai yang sudah berubah warna. Putri menatapku sambil tersenyum dan berkata, 'Liebe, perasaan apa ini? Aku merasa ingin melakukannya dan aku merasa bahagia. Aku suka melakukan ini.' Setelah dia mengatakan itu, aku jatuh pingsan.”


__ADS_2