
Kami dan Yamato berpisah di pintu penginapan. Ada dua pelayan yang menemani kami. Satu pelayan laki-laki dan satu pelayan perempuan. Awalnya aku berpikir tempat pemandian air panas pria dan wanita berada di tempat yang berbeda. Ternyata tidak. Pemandiannya tetap berada di satu tempat, hanya dipisahkan oleh dinding kayu. Kami bahkan masih bisa saling berbicara dari balik dinding.
Pemandian air panas di tempat ini adalah yang terbaik. Mungkin ini efek karena aku sudah lama tidak mandi. Rasanya nyaman sekali sampai aku bisa merasakan air yang bergerak di seluruh tubuhku.
"Aaaahhh~ ini sungguh yang terbaik. Aku bersyukur bisa datang ke tempat ini!" Arthur berseru dari balik dinding.
"Kamu bersyukur datang ke tempat walaupun bisa jadi kamu akan mati?"
"Nana, bukannya itu terlalu jahat? Tapi jika aku boleh jujur, walaupun harus mati aku tidak peduli. Asalkan ada banyak nyawa yang bisa aku selamatkan. Aku tidak menyesal dengan itu."
"Arthur, terkadang kamu bisa bersikap dewasa juga, ya! Aku merasa bangga."
"Apa yang membuatmu bangga, Layla? Aku bukan anakmu dan aku juga bukan pacarmu."
"Lagian siapa juga yang mau punya pacar kayak kamu! Orang yang punya watak menyebalkan dan selalu membuat kesal."
"Ada, kok! Lina, kamu mau 'kan jadi pacar aku?"
"Yah, yah! Terserah kalian saja!"
"Aku serius, Lina. Setelah ini aku akan menyatakannya dengan benar. Aku harap kamu bisa menerima pemberianku." Nada suara Arthur sedikit lebih rendah dari sebelumnya.
Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya itu? Ah, aku tidak boleh terbawa suasana hanya karena perkataan biang kerok seperti dia. Aku sangat kenal dengan karakternya. Dia bukan orang yang bisa serius dengan hal seperti ini.
Setelah satu jam lebih kami berendam di pemandian air panas, kami akhirnya mengeringkan diri dan mengenakan pakaian yang tadi dibawa oleh pelayan. Pakaian ini terlihat mirip dengan yang dipakai oleh Liya dan Yamato.
"Menurut kalian, apakah ini pakaian yang memang disediakan oleh pihak penginapan?" Aku memandang pakaian itu, membolak-balikannya.
__ADS_1
"Entahlah. Tapi diantara teman kita, hanya Liya yang memakainya. Lagi pula, ukuran ini terlalu besar untuk kita, kan?" Nana mengangkat kedua alisnya, memandang pakaian yang sedang dia pegang.
Pakaian ini memang memiliki ukuran yang terlalu besar untuk kami. Mungkin pihak penginapan sudah tidak mempunyai ukuran yang pas untuk kami. Aku memakai celana tanpa banyan mengkritik. Beberapa saat setelah aku dengan sempurna memasang celana itu, tiba-tiba celana itu mengecil, menempel dengan sempurna pada kulit.
"Waaah, teknologi seperti ini mengingatkanku pada salah satu novel yang aku baca." Aku bergumam. Nana dan Layla yang berada di sampingku juga segera mencoba pakaian mereka. Hal yang sama juga terjadi. Ternyata pakaian ini memiliki teknologi yang bisa menyesuaikan dengan bentuk tubuh pemakainya.
Setelah selesai memakai baju dan sedikit merapikan rambut, kami berjalan keluar. Di depan pintu sudah ada pelayan yang sejak tadi berdiri menunggu kami. Dia sangat tulen sebagai pelayan. Apakah karena mereka berharap banyak pada kami dan berpikir kami bisa membebaskan mereka?
Pelayan itu menuntun kami keluar seperti sebelumnya. Saat tiba di luar pemandian, aku terkejut melihat penampilan Arthur. Pakaian yang dia kenakan sama seperti milik kami. Karena pakaian seperti ini menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya, maka otot tubuh Arthur jadi terbentuk dengan jelas.
Arthur terlihat sangat berbeda saat mengenakan baju itu. Punggung yang biasanya selalu agak menekuk, kini terlihat sangat tegap. Arthur juga memiliki bentuk tubuh yang bagus. Tubuh yang menjadi idaman semua laki-laki, aku rasa.
Arthur menoleh ke arahku, menatapku dengan tatapan yang lembut dan bersahabat. Apa ini? Apa dia benar-benar Arthur yang aku kenal? Auranya berbanding terbalik dari sebelumnya.
Kami berjalan kembali ke penginapan. Aku lebih banyak diam daripada sebelumnya. Sesekali aku menatap perawakan Arthur dan saat itu pula perasaan yang tidak bisa aku gambarkan ini muncul. Seolah perasaan ini ingin menyampaikan maksud tersendiri padaku.
Saat tiba di penginapan, aku langsung diantar ke kamarku. Ruangan ini sederhana tapi terasa nyaman. Kasur di sini juga lumayan besar, tapi akan terasa sempit jika digunakan oleh dua orang. Aku menghempaskan tubuhku pada kasur empuk. Pikiranku melayang entah kemana. Aku sama sekali tidak bisa fokus.
"Aku kenapa, siiih?!!!" Aku merengek, berguling-guling di kasur. Perasaan ini sangat membuatku tidak nyaman.
"Lina, kamu ada di dalam?"
Saat aku tengah tenggelam dengan perasaanku sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sambil memanggil namaku. Mendengar suara yang sangat akrab itu aku langsung bergegas membuka pintu.
"Yamato, ada apa?" Aku nyengir lebar. Aku tidak tahu terlihat seperti apa ekspreaiku saat ini. Aku hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Walaupun sebenarnya aku memang baik-baik saja, tapi perasaan yang datang secara tiba-tiba ini membuatku frustasi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bilang kalau besok kita akan berlatih bersama di tempat latihan."
"Berdua?!"
"Apa kamu sedang bercanda? Tentu saja bersama dengan teman-temanmu dan juga beberapa orang yang aku kenal."
"Ah, baiklah. Tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"
"Tidak ada, tapi apa yang terjadi. Kamu terlihat sangat tegang."
"Tidak, tidak! Aku hanya kelelahan. Tidak perlu dihiraukan." Aku melambaikan tangan sambil menyunggingkan senyuman. Yamato mengernyitkan jidat, menatapku aneh.
"Sudah malam, aku ingin tidur. Sampai jumpa besok pagi!" Aku membanting pelan pintu kamar, menguncinya. Aku tahu sikapku sangat tidak sopan, tapi aku tidak boleh sampai terlihat aneh saat di depan Yamato.
Aku memutuskan untuk tidur, berharap saat pagi sudah datang perasaan ini akan menghilang. Tapi nyatanya, aku sama sekali tidak bisa tidur. Bukannya ini yang disebut penyiksaan? Aarrghhh!!!! Aku ingin memukul sesuatu.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar. Siapa yang mengetuk pintu di jam segini? Aku memperhatikan jam di dinding. Ini sudah pukul sebelas malam. Apa mungkin itu 'penjaga' tempat ini?
"Tidak, tidak. Mana mungkin, kan? Tidak ada sesuatu yang seperti itu." Aku menghela napas, berusaha meyakinkan diri. Benar, sesuatu seperti hantu itu tidak ada, kan? Saat aku sudah menggenggam gagang pintu, gerakanku terhenti. Di dunia ini bahkan hal yang hanya ada dalam dongeng menjadi kenyataan. Apa hantu juga nyata?
"Siapa?" Aku bertanya dari balik pintu. Beberapa detik aku menunggu, tidak ada jawaban apapun. Aku menelan ludah. Kenapa dia tidak menjawab?
"ጌጎነልጕልዘ ጕጎፕል ጌጎርልዪል ነቿጌቿክፕልዪ? ልዕል ሃልክኗ ጎክቻጎክ ልጕሁ ፕልክሃልጕልክ የልዕልጠሁ. ፕዐረዐክኗ ጌሁጕል የጎክፕሁክሃል. ልጕሁ ጌሁጕልክ ዐዪልክኗ ጋልዘልኗ, የቿዪርልሃልረልዘ."
__ADS_1
"HAAAAAHHH?!!!!"