
Aku terdiam mendengar itu. Otakku berusaha untuk memcerna maksud dari ucapan Liebe. Namun tidak ada gunanya. Seberapa keraspun aku berpikir, kalimat Liebe terlalu ambigu untukku.
Liebe menghela napas berat. Dapat terlihat dengan sangat jelas beban pikiran dari raut wajahnya yang kusut.
“Temanmu memiliki kekutan yang sangat luar biasa. Kalian akan diuntungkan jika dia bisa mengendalikannya. Namun berbanding terbalik dari itu, jika dia hilang kendali kalian yang akan dirugikan. Bahkan kalian bisa saja mati jika tidak dapat mengalahkannya.”
Aku terkejut. Jika Arthur memang memiliki kekuatan yang berbahaya seperti apa yang yang sudah Liebe katakan, maka ini akan menjadi semakin buruk atau menjadi semakin baik tergantung pada Arthur. Aku harap si 'pangeran negeri dongeng' itu bisa mengendalikannya. Tidak, aku yakin dia bisa bahkan dalam sekali coba. Dia adalah Arthur, spesies yang terlahir berbeda. Dia pasti bisa.
“Apa sudah tidak ada pertanyaan lagi?” Liebe berdiri, menatapku sambil menunggu jawaban daeiku. Aku memberi jeda sejenak, kemudian menggeleng pelan. Aku rasa sudah tidak memiliki pertanyaan lagi.
“Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, kita langsung masuk ke latihan. Kita tidak punya banyak waktu. Sebelum waktu yang ditentukan habis, maka kamu harus bisa menguasai semua kekuatanmu.” Liebe berjalan menjauh. Aku berdiri, berjalan mengekorinya.
“Warna ramuan yang kamu minum?”
“Kuning.” Jawabku cekatan. Liebe memetik jarinya. Seketika ruangan menjadi gelap seolah terlihat sedang berada di malam hari.
“Sekarang duduk bersila!” Liebe berseru sambil menunjuk ke arahku. Aku segera melakukan apa yang dia katakan tanpa banyak bertanya.
“Pejamkan matamu. Rasakan energi yang mengalir dalam tubuhmu. Energi memang sudah memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Namun, butuh waktu puluhan tahun untuk bisa mengendalikannya." Liebe memberikan sedikit arahan sebagai permulaan dari latihan.
"Ramuan itu berfungsi agar dapat mengendalikan kekuatan dengan lebih mudah dan cepat. Hanya saja, beda ramuan yang diminum, maka beda juga kekuatan yang didapat. Kamu hanya perlu merasakan aliran energi yang meluap-luap di dalam tubuhmu. Jika kamu sudah bisa merasakannya, maka kamu sudah boleh membuka matamu."
Aku mencoba untuk mengikuti instruksi dari Liebe, namun tidak ada yang aku rasakan selama beberapa menit ke depan. Dibalik kegelapan, samar-samar aku mendengar suara Liebe yang terdengar sangat jauh.
Selang beberapa jam aku baru bisa merasakannya. Sesuatu yang bergerak sangat cepat dalam pembuluh darahku. Dia terus bergerak dan semakin cepat. Aku membelalak, terjaga dari meditasi. Napasku tersengal, terengah-engah.
__ADS_1
“Sepertinya energimu terlalu besar untuk stamina yang kamu miliki sekarang.” Liebe menjulurkan sebotol air putih padaku.
“Aku rasa ini akan sedikit melelahkan. Setidaknya hanya untukmu. Berdiri! Aku akan langsung masuk pada latihan berat. Jadi, persiapkan dirimu untuk ini.” Liebe menoleh, tersenyum.
“Angkat tanganmu.” Liebe menatapku. Aku mengangkat kedua tanganku.
L
iebe menggeleng. “Tidak, maksudku salah satu tanganmu yang terasa meliki energi yang sangat kuat.”
Aku mengangkat tangan kananku. Aku menoleh, menatap Liebe, bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Liebe hanya menyeringai lebar menatapku. Aku kembali menatap tanganku dan WOW! Ada cahaya redup keluar dari telapak tanganku. Aku terperanjat, jatuh terduduk. Cahaya itu juga ikut menghilang.
“Sepertinya kamu mempunyai bakat. Orang biasa akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengeluarkan cahaya seperti itu. Tapi kamu bisa melakukannya dengan sekali coba. Bahkan aku belum memberi instruksi selanjutnya.” Liebe berjalan menjauh. Aku bergeming.
“Bagaimana caraku bisa mengeluarkan cahaya seperti itu?”
“Entahlah, siapa yang tahu? Bagaimana kamu bisa mengeluarkan cahaya itu hanya kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Kamu yang merasakannya, bukan aku. Jadi bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan konyol seperti itu?” Liebe mendengud pelan, kembali mengisap rokoknya.
“Bagaimana kalau kita mencoba kekuatan yang lain dulu? Aku ingin tahu seberapa berbakat kamu dalam hal ini.” Liebe berjalan mendekat, mengembuskan asap rokoknya di depan wajahku. Aku terbatuk.
“Liebe! Bisa tolong hentikan kebiasaanmu yang suka merokok itu? Aku tahu kamu jauh lebih tua dariku. Tapi aku tidak merasa tenang dengan itu.” Aku menatap Liebe dengan wajah masam.
“Oh, apa ini mengganggumu?” Liebe memiringkan kepala.
“Ayolah, tidak perlu menanyakan sesuatu yang sudah terlihat jelas apa jawabannya.” Aku memutar bola mata.
__ADS_1
“Baiklah, maaf kalau begitu.” Liebe membuang rokoknya, menginjak dengan sepatu bot sepahanya. Ruangan kembali terang.
“kita mulai pada tahap kedua.” Liebe mengentakkan kakinya. Tanah berguncang kuat. Aku dengan susah payah mempertahankan posisiku yang sedang berdiri. Tanah tempat Liebe berpijak terangkat ke atas. Aku menengadah, menatap punggung Liebe yang terus menjauh.
“Oiii, Lina! Kamu bisa mendengarku?” Liebe berteriak dari ketinggian tiga puluh meter. Aku menyipitkan mata, mencoba melihat dia yang berada di atas sana.
“Ya, aku dengar!” Aku balas berteriak.
“Sekarang kamu lakukan seperti yang aku lakukan.”
“Tapi bagaimana cara-” Kalimatku terhenti. Tanah di bawahku tiba-tiba terangkat dengan sendirinya. Tubuhku gemetar, mengingat aku takut dengan ketinggian. Tanah tempatku berpijak berhenti setelah separuh perjalanan. Aku mendesah, mencoba untuk tidak melihat ke bawah. Tanah pijakan Liebe menyusut, menyeimbangkan posisi denganku.
“WAAH!! Aku tahu kamu berbakat, tapi aku tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan ini padahal tadi kamu masih ingin bertanya bagaimana cara melakukannya.” Liebe melongo, menggeleng-gelengkan kepala. Aku menggeleng, mengangkat bahu. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Liebe menatapku lamat.
“Dilihat dari gelagatmu, apa kamu takut ketinggian?” Liebe melompat, memijakkan kaki di daerahku. Aku mengangguk.
“Bukan hanya takut, tapi sangat takut.”
“Heeh, ternyata bukan kamu yang berbakat, tapi energimu yang bisa mengerti kemauanmu. Kamu tahu, pada dasarnya energi sama seperti makhluk lain yang bersemayam dalam diri. Dia bisa menguntungkanmu tapi bisa juga mencelakaimu.” Liebe menatapku kagum. Aku bergeming.
“Saat kamu melihatku mengendalikan tanah, kamu juga ingin melakukannya. Karena itulah energimu melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan tanpa kamu sadari. Namun, disaat bersamaan kamu merasa takut dengan ketinggian. Karena itu juga pijakanmu berhenti separuh dari krtinggian pijakan yang aku buat. Hmmm, menarik!” Liebe melipat tangan, menatapku lurus.
"Aku tarik kata-kataku yang mengatakan kalau latihan ini akan sulit untukmu. Justru sebaliknya. Latihan ini akan berjalan sangat mudah. Kamu terhubung dengan energimu. Kalian bisa saling mengerti. Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya. Tapi dengan ini kamu bisa menyelesaikan latihan lebih cepat dari waktu yang diberikan.” Liebe melompat girang.
“Dengan senang hati aku akan mengajarimu semua yang aku tahu. Tapi jangan hanya karena kamu memiliki tali penghubung dengan ‘makhluk lain’ itu kamu bisa menguasai semuanya. Itu tidak bisa dijadikan sebagai jaminan.” Liebe mencolek hidungku, tesenyum manis.
__ADS_1