The Hidden World

The Hidden World
Eps.24 Mengambil Peran


__ADS_3

Ruangan lengang seketika. Setelah Percy, Harry, dan Liya bercerita secara bergantian, kami semua hanya terdiam. Kejadian tiga tahun lalu. Bukankah itu terlalu kejam? Bagaimana bisa ada manusia yang seperti itu?



"Ah, aku berubah pikiran. Ayo kita selamatkan mereka." Arthur berdiri. Tatapannya terlihat begitu tegas. Tersirat keyaninan yang sangat mendalam dari sorot matanya.



"Sekarang kamu mengerti, Arthur? Padahal tadi kamu adalah orang pertama yang menentang keputusan seperti ini. Tapi pada akhirnya, kamu juga orang pertama yang menyetujuinya." Liya mendesah, tersenyum sambil mengeluarkan suara kekehan pelan.



"Jadi, kalian juga setuju untuk mengambil peran yang merepotkan ini?" Harry berdiri dari tempat duduknya, menatap kami bergantian.



"Sebelum kalian memutuskan, aku akan memberikan gambaran resiko yang akan kalian tanggung." Suara yang akrab di telingaku tiba-tiba memecah suasana. Di pojok ruangan, sosok seseorang perlahan mulai terlihat.



"Maaf karena aku menyusup dan menguping pembicaraan kalian. Jujur saja, awalnya aku tidak yakin. Tapi setelah mengamati kalian dengan mata kepalaku sendiri, aku jadi yakin. Aku yakin kalau kalian bukanlah orang yang seperti aku pikirkan." Yamato berjalan ke arah kami. Dia sudah berganti pakaian. Pakaian yang dia kenakan saat ini tidak jauh berbeda dengan yang dipakai Liya. Hanya berbeda warna saja.



"Apa maksudmu tidak seperti yang kamu pikirkan?" Sifat menjengkelkan Arthur kembali kumat. Haaah, anak ini. Tidak bisakah dia diam sebentar saja? Yah, walaupun begitu aku juga ingin tahu jawaban yang akan diberikan Yamato.



"Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena sudah berprasangka buruk pada kalian. Aku pikir kalian adalah mata-mata yang dikirim oleh mereka."



"Haaah?!!" Arthur melongo, menatap Yamato tidak percaya. Apakah kami terlihat seperti pengkhianat? Begitulah sekiranya yang dikatakan ekspresi Arthur.



"Kita juga tidak bisa menyalahkan dia. Semuanya sudah tertulis di buku ramalan. Lina, coba buka buku itu. Ada penanda yang sudah aku tempatkan untuk menandai bagian-bagian penting. Bukalah penanda kelima." Liya menunjukkan jari pada buku yang sedari tadi aku pegang.



Tanpa pikir panjang, aku segera melakukan apa yang Liya perintahkan. Aku menghitung penanda sampai di penanda kelima, lalu membuka halaman buku. Bahkan isinya penuh dengan huruf-huruf asing. Aku menengadah, menatap Liya, meminta penjelasan.



"Lihat baris ke sepuluh di lembar sebelah kanan."



Aku menghitung baris dari atas sampai ke bawah. Sampai akhirnya aku menemukan tulisan yang ternyata memang tidak bisa aku baca.


ነልልፕ ዘልዪጎ ሃልክኗ ዕጎፕቿክፕሁጕልክ ፕቿረልዘ ፕጎጌል, ጌቿዪዘልፕጎ-ዘልፕጎረልዘ የልዕል ፕቿጠልክ ሃልክኗ ልጕልክ ጠቿዪቿክኗኗሁፕ ነቿኗልረልክሃል.

__ADS_1


"Saat hari yang ditentukan telah tiba, berhati-hatilah pada teman yang akan merenggut segalanya." Liya bermonolog.



"Tanpa aku uraikan kalian pasti sudah tahu maksudnya, kan?"



Yah, aku mengerti. "Teman yang merenggut segalanya" mungkin yang dimaksud adalah seorang pengkhiat. Orang yang berpura-pura menjadi teman kami dan tiba-tiba menusuk kami entah dari depan atau dari belakang. Situasinya menjadi semakin rumit saat ini.



"Baiklah, sekarang giliranku untuk memberikan penjelasan pada kalian tentang seperti apa konsekuensi yang akan kalian dapatkan jika kalian bersedia mengambil peran itu." Yamato menatap kami serius. Aku tahu, mengambil peran seperti ini memang tidak mudah.



"Apa kalian siapa jika harus kehilangan salah satu bagian tubuh atau bahkan harus kehilangan nyawa? Peran yang akan kalian ambil bukanlah peran figuran. Tetapi kalian akan menjadi pemeran utama saat hari yang ditentukan sudah tiba." Yamato menghela napas pelan.



Aku mematung mendengar itu. Aku tahu kalau konsekuensinya pasti akan berat, tapi aku tidak berpikir sampai harus mengorbankan nyawaku.



"Jika kalian merasa tidak sanggup, kalian bisa menolaknya. Lagipula hal ini tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku berterima kasih karena kalian sudah berniat membantu. Tapi aku tegaskan lagi, jika kalian memang ingin melanjutkan peran ini, maka kalian harus siap kehilangan segalanya yang ada di sekitar kalian saat ini."



"Aku siap!" Dengan tegas aku mengajukan diri. Kematian memanglah hal yang menakutkan, tapi apa yang lebih menakutkan dari kematian? Siksaan yang tiada hentinya. Jika semua orang disini akan mengalami hal yang sama seperti yang Yamato alami, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.




"Aku tahu dan aku siap dengan semua itu."



"Apa yang membuatmu sampai melakukan sejauh ini? Padahal kami sama sekali tidak memiliki hubungan."



"Karena melihat mereka mengingatkanku padamu, Yamato. Mengingatkan aku pada orang yang harus aku lindungi."



"Aku juga akan ikut!"



"Akupun begitu!"

__ADS_1



"Yah, tidak ada salahnya, kan? Kita akan menjadi pahlawan dan mati sebagai pahlawan."



"Bodoh, kalian pikir aku butuh perlindungan dari kalian? Aku yang lebih tua diantara kalian. Jadi, bukankah seharusnya aku yang melindungi kalian?" Yamato berjalan ke arahku. Tangan besarnya mengelus lembut rambutku yang berantakan.



"Dasar tsundere!" Mery mencibir dari balik pintu.



"Tsundere?" Yamato menautkan alis sambil menatap pintu kayu. Aku terkekeh pelan melihat reaksi Yamato.



"Maksudnya adalah kamu orang yang tidak bisa jujur pada diri sendiri." Aku mencubit hidung Yamato. Dia terlihat terkejut saat aku melakukan itu. Apakah di dunia ini tidak boleh memegang hidung?



"Benarkah? Kalian memang aneh."



"Karena kami adalah sekumpulan orang aneh!"



Suara tawa mengambang di langit-langit ruangan. Tentu saja aku ikut tertawa bersama mereka. Mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi kami bisa berbincang sambil tertawa seperti ini. Tidak ada yang tahu seperti apa perkembangan skenario kedepannya. Tapi aku berharap semuanya akan berakhir baik. Jika ini adalah sebuah cerita, aku mengharapkan sebuah akhir yang bahagia.



"Lebih baik kalian segera membersihkan diri. Sudah berapa hari kalian tidak mandi? Lihat tubuh kalian! Kotor, dekil, berantakan, masih untung tidak ada yang bau badan." Yamato membungkuk, memperhatikan kami sambil memonyongkan bibir.



Benar juga, sudah lama sejak terakhir kali aku membasuh tubuh dengan air. Aku sampai lupa kalau belum mandi karena masalah yang terus berdatangan.



"Pergilah ke lantai bawah. Disana sudah ada pelayan yang akan membawa kalian ke tempat pemandian air panas. Nikamati waktu mandi kalian. Pastikan untuk membersihkan seluruh tubuh. Aku yakin kalian akan merasa jauh lebih baik setelah itu."



Aku mengangguk. Semakin aku perhatikan, ternyata Yamato adalah orang yang hangat. Pasti dia melalui hal-hal berat yang membuatnya terpaksa menjadi orang seperti ini. Walaupun tidak ada akhir bahagia untukku, aku berharap akan ada akhir bahagia untuknya.



"Ayo jalan, aku akan mengantar kalian sampai pintu depan." Yamato melambaikan tangan pada kami.

__ADS_1



"Apa dia memang orang yang hangat seperti itu?" Layla berbisik pelan di telingaku. Aku tahu, pasti mereka dikejutkan oleh sikapnya. Aku juga termasuk. Andai saja aku bisa bertemu Yamato sebelum insiden tiga tahun lalu. Aku ingin tahu orang seperti apa dia sebenarnya.


__ADS_2