
Pergelangan tanganku mulai memerah. Ini terasa sangat sakit. Tapi, aku tidak punya tenaga untuk mengeluh. Sekarang kami tengah dikejar oleh tiga monster yang mengerikan. Mereka terlihat sangat haus darah. Seperti sudah hampir bertahun-tahun tidak makan.
Layla menarikku memasuki sebuah ruangan yang terletak di sekitar lantai lima puluh. Sebelumnya kami sudah memasuki ruangan di lantai empat puluh lima untuk menemukan kepinngan terakhir dari teka-teki ini dan mengagkhirinya. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Di dalam ruangan itu sudah ada satu monster yang menunggu kedatangan kami. Itu adalah monster pertama yang kami temui.
Aku dan Layla spontan berteriak. Teriakan kami berhasil mengundang monster lain untuk datang. Tanpa pikir panjang, Layla langsung menarik tanganku, berlari sekencang mungkin untuk menjauhi tiga monter itu. Tapi monster itu jauh lebih cepat dari kami. Mereka berhasil menyusul kami hanya dengan satu lompatan. Layla mengambil sesuatu di balik bajunya. Benda itu berubah menjadi tombak. Layla melemparnya tepat mengenai salah satu mata monter itu.
Suara teriakan pun terdengar sangat keras. Monster itu merasa kesakitan. Beberapa saat kemudian dia sudah tidak bergerak lagi. Apa dia mati? Layla menyiapkan senjata itu dan menancapkan tombak itu tepat di titik lemah monster itu. Layla seolah sudah tahu dimana titik kelemahan mereka.
Seperti pepatah yang mengatakan gugur satu tumbuh seribu. Kami berhasil menaklukkan satu monster,tapi monster yang lain berdatangan. Game sudah dimulai. Aku dan Layla terus berlari menaiki tangga, menuju lantai berikutnya. Kami berlari sekuat tenaga, namun monter-monster itu bisa dengan mudah mengejar kami. Aku menarik tangan Layla, memasuki sebuah ruangan.
“Apa yang kamu lakukan?” Layla menepis tanganku.
“Diamlah!” Aku membungkam mulut Layla. Dia kembali menepisnnya.
“Kamu punya rencana?”
“Tentu saja!” Aku merapatkan tubuhku di balik dinding. Monter-monter yang mengejar kami melewati ruangan yang kami tempati begitu saja. Aku mengembuskan napas lega setelah batang tubuh mereka tidak lagi terlihat.
“Sekarang apa rencanamu?” Layla menatap tajam ke arahku. Aku sedikit menciut melihat tatapan itu.
“Apa peta bangunan ini ada padamu?” Aku mngerutkan dahi. Layla mengangguk, mengeluarkan alat itu dari sakunya. Kartu hologarm menunjukkan peta bangunan dan tempat dimana Arthur dan Nana berada.
“Lihat!" Aku menunjuk dua titik hijau yang berada di lantai lima puluh.
"Meraka ada di lantai lima puluh. Aku bisa berteleportasi ke sana.”
“Benarkah?” Layla menatapku sedikit tidak percaya. Aku mengangguk.
“Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa berteleportasi. Salah satunya adalah titik penerima.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Aku harus menandai suatu tempat sebagai titik tempat penerima teleportasi. Dengan kata lain tempat kita mendarat. Karena aku belum menandai satupun tempat di bangunan ini, jadi aku hanya bisa berteleportasi dengan mengikuti energi mereka.” Aku berjalan ke luar ruangan, melihat ke kanan dan kiri. Aman.
“Ada apa?” Layla menatapku sambil memasukkan kartu hologram itu ke dalam sakunya.
“Teknik teleportasiku masih belum sempurna. Membutuhkan waktu sepuluh detik untuk mengumpulkan energi sebelum berteleportasi. Selama sepuluh detik itu, aku akan memancarkan energi yang besar. Energi itu mungkin bisa mengundang kedatangan monster yang berada di dekat sini. Jadi, aku harus memeriksa keadaan di sekitar kita. Sepertinya aman.” Aku berjalan ke tengah ruangan, diselimuti kegelapan. Layla mengekor mengikutiku.
“Oh, Satu lagi. Untuk saat ini, aku hanya bisa menggunakan teknik ini sebanyak tiga kali. Setelah itu aku akan kehabisan energi dan tidak bisa menggunakan kekuatanku.”
“Teknik yang sedikit merepotkan.” Layla berdiri di sampingku.
“Aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi, setelah aku berhasil menyempurnakan teknik ini, aku bisa menggunakannya semauku.” Aku tertawa.
Kami berpegangan tangan. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi untuk menghubungkan energiku dengan Arthur. Hanya energi dia yang dapat dijangkau, mengingat dia masuk di ruangan tiga puluh. Aku tidak heran mengapa energinya bisa sebesar ini.
Energi disekitarku mulai memadat. Dalam hitungan sepersekian detik, aku dan Layla berteleportasi. Kami merasa terguncang selama beberapa detik sampai guncangan itu berhenti. Aku membuka mata, lalu mendapati Nana dan Arthur yang sedang menatap kami dengan raut wajah bingung sekaligus terkejut.
“Lina? Layla?” Arthur memiringkan kepala. Aku dan Layla berjalan mendekat.
“Kalian berteleportasi?” Arthur menatap kami penuh antusias. Matanya bersinar seperti anak kecil yang kagum melihat sesuatu. Aku mengangguk pelan.
“Kami tidak punya waktu untuk meladeni sifat kekanak-kanakanmu, Arthur.” Layla menggeleng.
“Ayolah! Bukankah itu teknik yang keren?” Arthur membungkukkan badan.
“Permainan sudah dimulai.” Layla menatap dingin. Arthur menegakkan tubuh. Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.
“Sudah dimulai?” Nana mengerutkan dahi. Aku dan Layla menngangguk.
“Tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.” Arthur mengangguk-anggukkan kepala. Demi melihat kelakuanya itu, Layla langsung menjitak kepala Arthur. Mengingat Arthur adalah yang paling tinggi, pukulan itu mendarat di pipinya. Arthur terjatuh. Itu pasti pukulan sekuat tenaga. Aku meringis melihatnya.
\*\*\*\*
__ADS_1
Kami duduk bersila di lantai, memerhatikan dengan seksama peta hologram sambil menyusun rencana.
“Ada sekitar dua puluh monster. Lihat titik-titik merah ini. Besarnya tidak sama. Aku rasa semakin besar titik merahnya, maka monsternya semakin kuat.” Nana mendorong kacamatanya yang berada di ujung hidung.
“Tapi apa ini? Ada titik hijau di lantai satu. Kita ke sini hanya berempat, kan? Apa ada orang lain selain kita di bangunan ini?” Layla menunjuk titik hijau kecil di lantai satu. Titik itu lebih kecil dari pada titik milik kami.
“Apa mungkin ada makhluk lemah di tempat berbahaya seperti ini?” Aku menatap Layla penuhh tanya.
“Itu mungkin saja. Jika kita perhatikan, tidak ada monster di sana. Padahal ada lima monster di lantai dua.” Arthur menatap peta hologram itu serius.
“Terus?”
“Aneh saja. Tidak mungkin jika tidak ada satupun dari lima monster di lantai dua yang tidak turun ke lantai satu.”
“Apa yang aneh dengan itu?” Aku menggeleng, tidak sependapat dengan Arthur.
“Tentu saja aneh.”
“Itu tidak aneh, Allen!” Layla menatap Arthur tajam. Arthur balik menatap Layla dengan raut wajah kesal. Dia tidak suka di panggil Allen, karena nama itu diambil dari nama ayahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Arthur, tapi setahuku dia sangat tidak menyukai ayahnya.
“Saat kita pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, aku yakin kamu juga merasakan tekanan hebat yang ada di lantai satu.” Layla melipat tangan. Jika diingat-ingat, aku memang merasa tekanan yang berada di lantai satu memang sangat besar, sampai membuatku sesak napas.
“Saat itu kita belum mempunyai kekuatan. Bahkan kita belum mengerti tentang energi. Lalu kenapa kita bisa merasakannya? Karena energi di tempat itu sangat kuat. Sampai tidak ada satupun monster yang berani masuk ke sana. Tidak ada yang aneh dengan itu.” Layla mengangkat bahu. Arthur memalingkan wajah.
“Lalu siapa orang yang berada di sana?”
“Entahlah, siapa yang tahu? Kita hanya akan tahu jika kita menemuinya.”
“Tunggu! Apa kalian ingat dengan dua monster yang berada di tabung itu? Kalian ingat ada di lantai berapa?” Aku menatap mereka serius.
“Kalalu tidak salah ada di lantai sepuluh.” Nana menatapku ragu.
“Tepat sekali. Tapi, lihat!” Aku menunjuk lantai sepuluh di peta hologram.
“Tidak ada satupun titik merah di lantai sepuluh. Itu berarti, mereka tidak terdeteksi.” Aku menatap serius.
“Jika itu memang benar, maka kita harus ekstra hati-hati.” Wajah Layla mulai memucat.
__ADS_1
“Kita harus bertukar informasi mengenai kekuatan kita supaya kita bisa membentuk formasi yang sempurna."