
Angin berembus kencang seolah ingin menyapaku yang sedang membeku. Aku mematung menatap mereka, menunggu penjelasan yang akan mereka berikan.
"Tidak ada hal spesial yang terjadi. Dia datang hanya untuk menemuiku dan aku mengusirnya. Hanya itu." Yamato berusaha meyakinkanku.
"Walaupun kejadiannya memang seperti itu, tapi aku ingin tahu kejadian lebih rincinya. Seperti apa yang dia katakan atau apa yang dia inginkan. Tidak mungkin dia datang hanya untuk menemuimu tanpa ada tujuannya kan?" Aku mengerutkan dahi.
Saat ini aku benar-benar dibuat kesal. Padahal dia tahu aku hanya ingin membantunya, kenapa dia berusaha menyembunyikan banyak rahasia? Layla, Nana, dan Arthur juga seperti sudah bersekongkol dengannya. Sebenarnya apa yang terjadi? Sikap mereka justru membuatku tidak tenang.
"Lina, lebih baik kamu tidak mengetahuinya. Setidaknya untuk saat ini. " Arthur yang masih menopang tubuhku berbisik. Suaranya terdengar berat tapi lembut.
"Apa maksudmu? Apa aku tidak berhak untuk tahu? Apa yang sebenarnya kalian coba untuk sembunyikan dariku?" Aku meninggikan suara. Wajahku merah karena marah. Mereka seenak jidat memutuskan sesuatu. Mereka pikir aku akan menerima begitu saja?
"Tidak perlu marah begitu. Walaupun kami tidak memberitahu, kamu pasti akan tahu dengan sendirinya. Setidaknya tolong mengerti. Seperti halnya kamu yang susah menjelaskan tentang aku pada mereka, mereka juga susah untuk menjelaskan kejadian tadi padamu." Yamato tersenyum, menepuk lembut pundakku. Aku tertegun sejenak, mencoba mencerna kalimat yang Yamato lontarkan.
Mengingat bagaimana susahnya aku menjelaskan tentang Yamato, mereka pasti punya alasan tersendiri kenapa mereka tidak bisa menceritakannya.
"Baiklah, kita anggap masalah ini selesai. Aku tidak tahu apakah kalian sudah menemukan semua kata kuncinya, tapi aku sudah mengetahui semuanya. Jadi, kita akan menuju lantai satu sekarang." Yamato berjalan memimpin.
"Apa dia bilang? Dia tahu semuanya? Lalu untuk apa kita susah payah mengumpulkan kata kunci?" Nana nyengir lebar, menatap kesal punggung Yamato.
Walaupun aku juga merasa kesal, tapi tidak ada yang patut disalahkan. Mungkin harusnya kami bersyukur ada Yamato yang setidaknya mengenal dunia ini lebih baik daripada kami.
"Hei, apa kalian ingat titik hijau di lantai satu yang ada di peta hologram?" Nana berbisik. Suara sedikit keras jika dibilang bisikan.
"Hampir saja aku lupa. Yah, apapun itu kita akan tahu sebentar lagi." Layla merogoh sakunya, mengaktifkan peta hologram.
__ADS_1
Titik hijau di peta itu masih tidak berubah. Tetap berada di tempat yang sama. Apakah dia tidak bisan terus berada di sana?
"Untuk sekedar informasi saja. Arf-ak tidak ada di sini sekarang. Dia sudah dibawa pulang untuk melanjutkan tugasnya." Yamato mengepalkan tangan. Walaupun aku hanya melihat punggung jangkung di depanku dan tidak dapat melihat raut wajahnya, aku tahu apa yang sedang dia rasakan.
'Melanjutkan tugas.'
Itu adalah kata-kata yang tidak ingin Yamato dengar. Melanjutkan tugas, kan? Kalau begitu tugas mereka bukannya melanjutkan eksperimen tidak masuk akal itu? Apa yang sebenarnya para bedebah itu inginkan? Dasar brengsek! Mereka membuatku benar-benar ingin mencincang daging mereka.
"Aku akan membuat kalian merasakan apa yang mereka rasakan." Aku bergumam pelan. Entah yang lain mendengarnya atau tidak, aku tidak peduli. Aku benar-benar akan membuat mereka merasakannya. Orang-orang sialan itu!
"Lina?!" Arthur menepuk pundakku. Aku terperanjat, menoleh menatap wajahnya.
"Kamu tidak apa-apa? Wajah kamu terlihat pucat." Arthur menempelkan keningnya.
"Tapi suhu kamu normal."
"It's oke! Aku baik."
"Memangnya kamu bisa gendong aku sampai lantai satu?"
"Lina, kamu meremehkan aku ya? Aku ini orang yang masuk ke lantai tiga puluh. Walaupun secara fisik tidak ada yang berubah, tapi kekuatan yang aku punya jauh lebih kuat dari yang sebelumnya." Arthur nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya.
"Iya, iya! Aku baik-baik saja, kok!" Aku tersenyum, mencoba meyakinkan Arthur.
Dengan berlari akhirnya kami sampai di lantai satu dalam waktu 15 menit. Entah karena aku yang semakin kuat atau tidak, tapi kepadatan energi di lantai satu sudah memudar. Aku menatap jauh ke depan. Sejak beberapa waktu lalu aku sudah tidak sabar ingin segera keluar dari tempat ini. Aku ingin merasakan udara bebas. Dan ingin segera bertemu dengan mereka.
Meski samar, aku sudah melihat pintu batu itu dari kejauhan. Yah, aku juga penasaran dengan keberadaan titik hijau di peta yang tidak bergerak dari tempatnya. Aku sedikit menundukkan kepala, melihat kepalan tangan Yamato yang sangat kuat sampai urat di lengan dan tangannya menonjol keluar.
Meskipun aku tahu apa yang dia rasakan, tapi aku tidak bisa mengerti perasaan itu sepenuhnya. Bohong jika aku mengatakan aku mengerti apa yang dia rasakan. Membayangkannya saja sudah membuatku lemas. Dijadikan kelinci percobaan? Bahkan aku tidak pernah membayangkan itu sebelumnya.
__ADS_1
Saat jarak kami hanya tinggal beberapa meter dari pintu, aku melihat ada burung elang yang bertengger pada kayu dekat pintu batu. Darimana kayu itu berasal? Saat kami memasuki lantai satu, aku tidak melihat ada kayu seperti itu di dekat pintu. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Bisa saja aku melewatkan kayu ini saat masuk.
"Hei, ini bercanda, kan?" Layla menghampiri elang itu, menatapnya lamat-lamat.
"Kenapa?!" Aku mengernyitkan kening, menatap Layla bingung. Memangnya apa yang salah dengan burung elang?
Aku mengedarkan pandanganku, menyapu setiap sudut tempat di depanku. Tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Apa titik hijau itu sudah pergi? Padahal aku sangat ingin tahu.
"Apa mungkin ini adalah jenis burung Elang ajaib? Seperti di dalam dongeng."
"Bisa jadi. Karena yang selama ini kita alami selalu hal yang tidak masuk akal."
Samar-samar aku mendengar percakapan Layla dan Nana. Aku menoleh, menatap mereka yang sedang mengati burung elang. Apa maksud mereka?
Di sisi lain, Yamato mengetuk pintu batu. Pintu itu menunjukkan layar hologram. Yamato memasukkan kata kunci.
"Oh, iya. Hampir saja aku lupa. Setelah kita berhasil memasukkan sandi, kita tidak akan bisa kembali ke luar."
"Haaah?!" Arthur melongo.
"Jadi kita terjebak di tempat ini? Lalu apa gunanya kita memecahkan teka-teki?!" Aku menghela napas berat, memegang kening. Jadi, dari awal kita memang tidak bisa keluar dari tempat ini?
"Tidak, kita akan berpindah tempat. Burung itu adalah utusan dari tempat tujuan kita selanjutnya." Yamato memetik jari. Burung elang tersebut terbang ke arahnya, bertengger di bahu Yamato.
"Tujuan selanjutnya?"
"Benar, petualangan kita belum selesai. Aku berjanji akan membawa kalian kembali. Jadi tenang saja. Yah, walaupun aku tidak bisa berjanji akan menjaga kalian tetap aman. Tempat ini masih permulaan." Yamato tersenyum kecut. Tangannya meraih kepala burung elang, mengelusnya pelan.
"Semua ini masih permulaan?"
"Yah, sama seperti game tutorial. Setelah ini kalian akan memasuki game utama. Tentu saja mulai dari level terendah sampai kalian bisa terbiasa."
"Tapi kami bisa benar-benar kembali, kan?"
__ADS_1
"Harusnya begitu. Tapi tidak ada yang akan tahu jalan pikiran gadis gila, kan?"