The Hidden World

The Hidden World
Eps.27 My Arthur


__ADS_3

Mataku tertutup, tapi aku tidak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur saat Arthur juga tidur di ranjang yang sama denganku? Ditambah lagi dia sedang telanjang dada. Apa yang sebenarnya Arthur pikirkan? Kenapa si idiot ini dengan nyamannya tidur seperti itu? Tidak, tidak, aku harus berhenti memanggilnya idiot atau semacamnya. Arthur yang sekarang sudah berbeda dari yang aku kenal sebelumnyasebelumnya, mungkin.



"Lina, kenapa kamu masih belum tidur?" Arthur berbisik di telingaku, membuatku ber-uh pelan. Aku membuka mata perlahan, menagkap wajah Arthur yang tepat berada di atas kepalaku.



"Kamu akan kelelahan saat latihan besok kalau kamu masih terjaga." Arthur melingkarkan tangannya di perutku, menyeret tubuhku lebih dekat. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya saat kulit lenganku menyentuh otot perut Arthur. Apa dia memang orang yang suka olahraga?



Tanpa sadar tanganku meraba perutnya. Aku tenggelam dalam rasa ingin menyentuhnya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tapi saat ini aku hanya berpikir tidak ingin ada orang lain yang boleh memilikinya.



Apa sebelumnya aku mempunyai perasaan seperti ini? Padahal aku tidak pernah merasakan hal yang sama pada orang lain. Aroma rubuh Arthur terasa lembut menyapa hidungku. Parfum apa yang dia pakai? Wanginya sangat manis.



"Ada apa?" Arthur mengubah posisi, beranjak memposisikan tubuhnya berada di atasku. Aku terkejut dengan yang dia lakukan. Napasku tertahan saat aku melihat wajahnya yang seperti ingin memakanku. Aku membuang muka, beralih menatap sesuatu yang lain.



Saat ini jantungku berdegup kencang. Pikiranku melayang tidak karuan. Jika terus seperti ini, aku bisa jadi gila.



"Lina, jangan mengalihkan pandanganmu." Jari-jari Arthur menekan pipiku, mengubah posisi kepalaku, membuat wajah kami kembali saling bertemu.



"Tatap aku! Apa aku masih belum pantas untuk mendapat tatapan hangatmu?" Arthur mengecup pelan, menyisakan warna merah di pangkal leher yang terlihat jelas.



"Mulai saat ini, kamu sudah menjadi milikku. Tidak akan aku biarkan ada orang lain yang merebutmu dariku. Aku berjanji akan melindungimu, Lina!" Suara bisikan Arthur merangsek masuk ke telingaku. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Tubuhku terasa panas. Aku susah payah menahan tangan yang sedari tadi ingin menyentuhnya.



"Jangan ditahan. Sentuh bagian manapun yang kamu mau. Malam ini, kita akan menghabiskan waktu bersama."


__ADS_1


Angin berembus kencang, masuk melewati sela-sela jendela. Setelah mengatakan kalimat itu Arthur kembali merebahkan tubuhnya pada kasur. Meninggalkanku dengan wajah yang memerah. Dasar sialan! Bagaimana dia bisa dengan santainya berkata seperti itu?



Aku menepuk keras kedua pipiku, berusaha untuk keluar dari lamunan dan kembali tidur. Aku bisa mendengar dengan jelas suara napas Arthur. Di satu sisi aku merasa senang dan di sisi lain aku merasa frustasi dibuatnya.



\*\*\*\*



Aku tidak tahu pukul berapa aku bisa benar-benar tertidur. Bahkan saat tidurpun sosok Arthur masih saja menghantuiku. Aku juga sempat beberapa kali terjaga. Aku kelelahan setelah hampir semalaman tidak tidur.



"Hei, Lina!" Sayup-sayup aku mendengar suara Arthur. Aku ingin meresponnya, tapi aku terlalu ngantuk. Bahkan aku tidak mampu untuk menggerakkan alisku.



"Bangun, sayang. Kita akan latihan hari ini." Arthur menggoyangkan tubuhku. Tapi aku tetap tidak merespon. Bayangkan saja, aku baru terlelap beberapa jam lalu tapi sudah dibangunkan dan disuruh untuk latihan. Yang benar saja!




"Hati-hati!" Arthur mengambil posisi lengan berada di depanku, bersiap menangkap tubuhku jika saja aku terjatuh. Aku melambaikan tangan pada Arthur, memberitahunya bahwa aku bisa berdiri.



Aku menatap Arthur dari kaki sampai kepala. Dia masih belum memakai baju atasnya. Apa dia tidak kedinginan telanjang dada semalaman?



"Cepat rapikan rambutmu. Aku akan menunggu di luar." Arthur mengecup keningku, tersenyum, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Aku membatu, tidak bergerak untuk beberapa detik. Kenapa aku merasa ada yang aneh? Kami melewati malam hanya dengan tidur bersama, kan? Tapi kenapa sikap Arthur seperti seolah kami sudah melakukan sesuatu yang spesial?



"Aarrghh!!!" Aku menendang kaki ranjang, mengacak-acak rambut. Aku memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal aneh lagi dan bergegas merapikan rambut. Setelah selesai bersiap, aku menuruni tangga bersama Arthur. Suasana penginapan terasa sepi. Memangnya sudah pukul berapa sekarang sampai penginapan seperti tidak berpenghuni?



Penginapan tidak memiliki lift, sehingga kami harus berjalan melewati tangga jika ingin berpindah lantai. Penginapan ini memiliki dua lantai basement. Lantai pertama basement atau lantai B1 letaknya tepat berada di bawah lantai satu dan lantai B2 berada di bawahnya. Lantai B1 adalah lantai tempat berbagai artefak dipajang dan disusun rapi di dalam rak kayu. Sedangkan tempat latihan kami berada di lantai B2.

__ADS_1



Jarak antara satu lantai dengan lantai lain cukup jauh karena tinggi setiap lantainya juga lebih tinggi daripada bangunan berlantai yang sering aku temui. Lantai B2 dilengkapi dengan teknologi tinggi, sehingga tempat ini tahan setidaknya pada sihir dibawah tingkat tujuh dan kekuatan yang setara dengan itu.



Aku mendapati sosok Mery dan Seli saat kami sudah sampai di tempat latihan. Aku pikir tempat ini akan memiliki warna yang dominan gelap, ternyata aku salah. Tempat latihan justru sangat terang. Bahkan ada beberapa lampu berwarna merah dan biru yang ikut menerangi tempat ini.



"Lina, kamu sudah baikan?" Mery berlari menghampiriku saat melihatku turun dari tangga. Seli juga berlari mengekor di belakangnya.



"Seperti yang kalian lihat!" Aku mengangkat bahu, tersenyum. Meski mereka mencoba untuk membalas senyumanku, aku tahu sedang ada sesuatu yang mengganggu di pikiran mereka. Aku ingin bertanya tentang itu, tapi aku urungkan dan memilih untuk bertanya hal lain.



"Dimana yang lainnya? Kenapa mereka tidak ada di sini padahal penginapan sudah sepi?"



"Yamato mengajak mereka ke lantai B1. Apa kalian tidak bertemu?" Seli menatapku heran. Aku dengan cepat menggelengkan kepala. Kami sama sekali tidak melihat ada orang saat melewati lantai B1. Walaupun kami tidak mengeceknya secara menyeluruh, tapi dengan jumlah orang yang banyak seharusnya kami bisa tahu jika ada orang yang berada di lantai itu.



Kami memutuskan untuk menunggu Yamato dan yang lainnya. Sambil menunggu mereka, Arthur memutuskan untuk berlatih tekniknya terlebih dahulu. Aku, Mery, san Seli hanya diam melihat Arthur berlatih. Dia adalah orang yang masuk ke ruangan dengan nomor paling tinggi. Harusnya dia memiliki teknik yang luar biasa.



Arthur berjalan mendekati rak kecil di pojok ruangan. Rak itu diisi oleh beberapa baju yang dilipat rapi. Aku langsung menyadari kalau Arthur ingin membuka baju sebelum latihan.



"Arthur, ja—" Aku membungkam mulut dengan tanganku sendiri. Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku harus menghalanginya jika dia ingin membuka baju?



"Hmm..ternyata kamu tidak mau ada orang lain yang melihat tubuhku, ya?" Arthur tersenyum licik. Mery dan Seli menatapku bersamaan. Tatapan mereka haus ingin mendapatkan penjelasan.



"Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Apapun itu!" Aku melambaikan tangan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku beralih menatap Arthur, berharap dia akan membantuku menjelaskan pada mereka. Alih-alih menjelaskan, Arthur malah membalikkan badan sambil melambai padaku. Arthur, dasar culas!

__ADS_1


__ADS_2