
Hening untuk sejenak. Perlahan aku mulai menangkap percakapan yang samar terdengar. Seperti ada beberapa orang yang bertengkar. Apa aku pingsan lagi? Saat baru tiba juga aku sempat pingsan. Sebenarnya apa penyebab ini terjadi?
"Jawab atau aku yang akan menggorok kerongkonganmu!"
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Aku teman Lina, Yama—Ah, maksudku, Aryek!"
"Kamu pikir kami akan percaya? Jelas baru kali ini kami melihatmu!"
"Tidak, ini bukan pertemuan pertama kita. Kalian juga melihatku saat aku berada di dalam tabung, kan?"
"Aku ingat! Tadi kamu bilang namamu Aryek kan? Bukankah itu nama salah satu makhluk aneh yang kita temui di lantai sepuluh?"
"Ah, aku mengingatnya. Satunya lagi kalau tidak salah namanya Arf-ak."
"Iya, benar! Sekarang kalian percaya?"
"Kalau itu memang benar, bukannya justru berbahaya? Mungkin kamu bisa menipu Lina, tapi jangan berharap kamu bisa melakukan hal yang sama pada kami."
"Tidak, bukan seperti itu!"
Perlahan aku membuka kelopak mataku. Pandanganku kabur, kepalaku juga terasa sangat sakit.
"Lina!" Terdengar suara seseorang memanggilku. Dengan keadaan pandanganku yang kabur, samar-samar aku melihat ada yang berjalan mendekat.
"Berhenti!" Sosok yang lain menghentikan langkahnya.
"Jangan berani menyentuh Lina!" Suara itu terasa sangat familiar.
"Ar-thur?" Aku terbatuk pelan. Arthur dengan lembut mengangkat kepalaku, mendaratkan di lengan keras miliknya.
__ADS_1
"Bodoh, jangan membuatku selalu khawatir." Arthur mendekap tubuhku. Hangat.
"Lebih baik kamu segera pergi dan jangan pernah menunjukkan diri di hadapan kami lagi."
Aku menoleh ke asal suara. Saat pandanganku mulai membaik, aku menangkap raut badan yang tidak asing. Mataku membelalak seketika. Tidak percaya dengan sosok yang saat ini berada di tengah-tengah kami.
"Yamato? Benar, Yamato, 'kan?" Aku mencoba bangkit walau badanku terasa sangat sakit.
"Jangan memaksakan diri, lebih baik kamu beristirahat." Arthur menopang tubuhku.
Saat aku memaksakan diri untuk bergerak, aku merasakan otot-ototku seperti tertarik. Tulangku juga terasa remuk. Walau aku terlihat baik-baik saja jika dilihat sekilas, tapi rasa sakit ini sangat luar biasa. Aku hampir tidak bisa menahannya.
"Lina, duduk bersila. Aku akan menyembuhkanmu." Yamato berjalan menghampiriku. Walau Layla sempat menghentikan, tapi dia tidak acuh.
Aku memposisikan diri duduk bersila di lantai ruangan. Yamato ikut duduk di belakangku, mengalirkan energi pada tubuhku. Aku merasakan energi yang cukup besar mengalir memenuhi pusat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Beberapa menit berlalu. Yamato masih belum selesai berkutat dengan energi yang dia alirkan. Padahal aku sudah merasa jauh lebih baik. Tapi dia tetap meneruskannya. Sekitar dua puluh menit kemudian, Yamato akhirnya selesai. Aku menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Tubuhku terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Saat aku ingin berterima kasih, aku tiba-tiba teringat pada sosok yang Yamato temui tadi. Aku hendak betanya, tapi suara Yamato mendahuluiku.
"Aku tidak akan menjawabnya walaupun kamu memohon." Dengan nada suara yang tegas, Yamato menolak mentah pertanyaanku. Padahal aku belum menanyakan apapun.
Layla dan Nana menatap awas pada Yamato. Wajar saja mereka seperti itu. Kali ini adalah kali pertama mereka bertemu dengan wujud asli Aryek.
"Tenang, tenang! Dia ada di pihak kita." Aku susah payah mengeluarkan suara. Arthur menyokong tubuhku, membantuku berdiri. Yamato tetap bergeming di tempatnya. Wajar saja di seperti itu, energi yang dia alirkan pada tubuhku tidaklah sedikit. Pasti dia membutuhkan waktu untuk pulih.
"Apa yang terjadi setelah aku pingsan?!" Aku menatap Layla dan Nana bergantian. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku pingsan. Aku juga penasaran kemana perginya pria yang menjadi lawan bicara Yamato tadi.
"Lina, bukannya kamu yang harusnya lebih dulu memberi penjelasan pada kami?" Layla yang sedari tadi menatapku penuh cemas, sekarang tatapannya sangat dingin mengarah padaku. Aku menciut, membuang muka.
__ADS_1
Mereka diam, menunggu jawaban dariku. Tapi aku tidak tahu harus mulai darimana untuk menjelaskannya.
"Dia Aryek."
"Kalau itu kami juga tau!"
"Itu adalah tubuh aslinya."
"Apa maksudmu monster yang kita lihat itu adalah kostum?" Layla menautkan alis. Pembahasan ini menjadi beban untukku. Mengingat kembali mimpi buruk itu dan mengingat hal buruk yang sudah aku katakan pada Yamato, semua itu terus berputar di kepalaku.
"Lina?" Suara Arthur yang lembut memecah lamunanku. Aku menggeleng oelan, menepuk keras kedua pipiku. Aku harus fokus!
"Itu adalah tubuh aslinya, setidaknya sebelum dia berubah menjadi monster." Aku tersenyum kecut. Tetap saja susah untukku menjelaskan pada mereka. Akan lebih baik jika mereka melihatnya sendiri agar mereka bisa menilai seperti apa Yamato.
Hening. Layla dan Nana diam tanpa merespon apapun. Ekspresi mereka masih terlihat sangat kebingungan dan haus penjelasan. Aku mengerti perasana mereka. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk merenung. Semua informasi dibutuhkan unruk bertahan hidup.
Saat ini aku harus bisa membuat mereka percaya kalau Yamato berada dipihak yang sama dengan kami. Mereka harus saling mempercayai agar bisa menyerahkan punggung mereka tanpa ragu. Aku tahu itu! Tapi beri aku waktu untuk menjelaskannya. Mentalku lelah terus menerima serangan tanpa istirahat. Belum lagi tubuhku yang selalu dipaksa untuk bergerak.
"Kalian tidak boleh memaksanya seperti itu. Lina adalah gadis yang baik, tapi dia juga sangat rapuh." Terdengar suara dari belakangku. Yamato beranjak bersiri. Dia sudah selesai memulihkan diri. Dilihat dari wajahnya yang lesu, sepertinya dia belum sepenuhnya pulih.
Yamato berjalan mendekati kami. Melihat hal itu, tentu saja Layla dan Nana bersiap untuk memasang kuda-kuda. Aku menggeleng pelan pada mereka. Mengisyaratkan untuk menunjukkan sikap yang lebih bersahabat. Seandainya mereka tahu tentang mimpi buruk itu, mereka tidak mungkin bersikap seperti ini, kan?
"Aku yang akan menjelaskannya, karena aku rasa menjelaskan hal ini akan terlalu sulit untuk Lina. Walaupun aku tidak tahu kalian akan percaya atau tidak. Yah, itu keputusan kalian. Tapi aku berharap kalian bisa memercayai ucapanku." Yamato tersenyum lembut. Layla dan Nana akhirnya menurunkan penjagaan mereka pada Yamato. Melihat senyum itu, entah kenapa Lina merasa aneh.
Yamato menceritakan secara rinci dan perlahan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dia terlihat seperti pemimpin di mataku saat ini. Sepertinya Yamato memiliki jiwa untuk menjadi seorang leader. Kharismanya sangat kuat dan khas. Bahkan Layla dan Nana dibuat tertegun olehnya.
"Jadi begitu. Aku paham. Lalu apa hubungannya kamu dengan pria yang kita temui tadi?" Layla memegang dagu, pertanda kalau dia sedang berpikir.
"Dia adalah Ilmuwan gila itu." Dengan nada suara rendah, tatapan Yamato terlihat menerawang.
Aku sontak terkejut mendengar perkataan Yamato. Apa yang di bilang barusan? Orang itu adalah Ilmuwan gila yang muncul di mimpi buruk?
"Tidak mungkin!" Mataku membelalak.
"Kalian harus menceritakan apa yang terjadi saat aku pingsan. Tidak boleh ada yang terlewat sedikitpun!" Ujarku dengan suara napas yang menderu.
__ADS_1
Ini tidak mungkin, kan?