The Hidden World

The Hidden World
Eps.29 Flashback


__ADS_3

𝗙𝗟𝗔𝗦𝗛𝗕𝗔𝗖𝗞 𝗧𝗜𝗚𝗔 𝗧𝗔𝗛𝗨𝗡 𝗟𝗔𝗟𝗨


Note: Selama flashback akan menggunakan sudut pandang orang ketiga.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Suasana ramai di dalam istana. Hari ini adalah hari besar bagi seluruh penghuni Abyss. Ada berbagai macam hidangan yang disajikan di atas meja panjang. Kursi-kursi ditata rapi dengan pernak-pernik yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.



Yamato tengah berdiri di depan gerbang mengenakan pakaian formal kerajaan. Dia diberi kepercayaan untuk mengatasi masalah keamanan selama acara berlangsung. Ada banyak tokoh penting Abyss yang ikut tampil menunjukkan wajah mereka di depan banyak tamu undangan.



"Lihat ini! sahabat lamaku, Joan!"Raja Yasan memeluk seseorang yang saat ini muncul di hadapannya.



Raja Yasan adalah raja generasi ke-13 yang memimpin dan menjadi penguasa di Abyss. Bahkan Kaisar sendiri juga menyukai Raja Yasan. Beliau dikenal dengan Raja yang ramah dan bijaksana. Selama masa pemerintahannya rakyat senantiasa makmur dan terhindar dari konflik-konflik besar dalam politik. Raja Yasan adalah bentuk nyata dari rasa cinta rakyatnya.



"Wah, wah. Hari ini kamu juga terlihat sangat berwibawa, Yasan!" Raja Joan tergelak sembari berpelukan.



Raja Joan adalah raja dari kerajaan Traode yang letaknya tidak jauh dari Abyss. Dua kerajaan ini berada di bawah Kekaisaran yang sama. Mereka sudah saling mengenal sejak masih menjadi putra mahkota. Hingga saat ini hubungan yang mereka bangun semakin membaik.



Di tengah percakapan dua raja itu, Yamato tiba-tiba datang menyela diantara mereka. Ekspresi wajahnya selalu terlihat sama, datar dan dingin. Raja Yasan sudah beberapa kali meminta dia untuk belajar tersenyum. Karena wajah dinginnya itu banyak gadis yang hanya mengaguminya dari jauh dan tidak berani untuk mendekat. Sayangnya ekspresi yang dia tunjukkan saat ini lebih dingin dari biasanya .



"Yang Mulia, mohon maaf mengganggu percakapan anda. Ada orang berpakaian serba hitam yang mengaku sebagai tamu undangan. Saat saya meminta dia untuk menunjukkan kartu undangan, dia mengakatan kalau kartu itu terjatuh saat diperjalanan." Yamato menjelaskan dengan singkat seraya membungkukkan badan sebagai simbol bahwa dia menghormati Sang Raja.



Raut wajah ceria Raja Yasan sedikit luntur. Tersirat rasa cemas yang samar-samar terlihat dari ekspresinya. Tidak lama setelah itu, seorang wanita yang terlihat berusia sekitar lima puluh tahun datang menghampiri. Dia mengenakan gaun merah cerah kesukaannya dengan rambut panjang yang terurai.

__ADS_1



"Ada apa? Kenapa wajah kalian terlihat sangat serius di hari yang membahagiakan seperti sekarang?" Wanita itu menepuk pelan pundak Raja Yasan sambil tersenyum simpul.



"Ada orang yang mencurigakan di depan istana. Aku khawatir dia datang bukan dengan niat baik." Raja Yasan mendesah pelan. Keningnya mulai mengerut, pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.



"Apa dia membawa kartu undangan?" Wanita itu mengalihkan pandangan pada Yamato, menatapnya yang sedang dalam posisi membungkukkan badan.



Yamato dengan cepat menggelengkan kepala.



"Tidak, Yang Mulia Zygia. Orang itu mengatakan bahwa dia menjatuhkannya diperjalanan."




Tapi apa ada orang yang berani datang ke tempat ini disaat penjagaan istana lebih ketat dari biasanya? Ditambah lagi ada banyak tokoh penting yang ikut hadir. Tentunya masing-masing dari mereka membawa pengawal terkuat. Yang lebih mengherankan lagi orang itu hanya datang seorang diri?



Setelah hampir lima menit Ratu Zygia menimbang keputusan, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan orang itu. Dia ingin memastikan sendiri seperti apa 'tamu' yang mencurigakan ini. Yamato sempat tidak setuju dengan keputusan Ratu Zygia, namun dia bersikeras untuk tetap bertemu langsung. Alhasil Yamato mengiyakan permintaan Ratu dan mengantarkannya menemui orang itu.



Selama perjalanan menuju gerbang istana, tangan Yamato sudah bersiap di gagang pedang. Dia sedang mengantar seorang Ratu, jadi tidak boleh lengah sedikitpun. Lebih-lebih lagi Ratu Zygia merupakan tokoh yang berperan besar dalam perkembangan di Kerajaan Abyss.



Saat tiba di taman istana, dari kejauhan Ratu Zygia sudah melihat sosok orang itu dalam kegelapan. Ratu Zygia memang merasakan ada yang aneh, namun dia tetap memantapkan niat untuk bertemu dan berbicara langsung.


__ADS_1


Yamato tetap berjalan di depan, memimpin Ratu sekaligus melindunginya jika saja orang yang saat ini berada di depan sana meluncurkan serangan. Tapi sosok itu tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Seperti patung yang hanya mematung.



Sosok itu memang masih berada di tempat yang sama, tapi entah kenapa melihatnya tidak bergerak membuat insting Yamato merasakan bahaya sedang mendekat.



Benar saja, sebuah belati meluncur dengan cepat ke arah Ratu Zygia. Yamato dengan sigap mengacungkan pedangnya, menangkis belati itu dengan bilah pedang. Belum sempat Yamato mencerna keadaan, serangan belati secara beruntun menyerangnya dari segala arah. Harusnya benturan antara bilah pedang dan belati-belati itu mampu membuat suara yang cukup keras. Tapi sudah lima menit berlalu, tidak ada satupun yang datang untuk membantu.



"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!" Yamato menyeka darah dipipinya. Pipi Yamato tergores oleh ujung belati yang tidak sempat dia tangkis. Tapi saat ini bukan itu yang dia khawatirkan. Ratu Zygia sedang berada di tengah-tengah serangan hujan belati.



Keadaan seperti ini tidak bisa terus berlangsung lebih lama. Semakin lama keadaan ini berlalu, maka Yamato yang akan semakin dirugikan. Dia tidak mengetahui jumlah musuh dan dimana mereka berada.



"Ukh!" Yamato meringis kesakitan. Satu belati berhasil mendarat di bahu kirinya. Walaupun tidak sampai menembus, tapi tetap saja rasa sakit yang dia rasakan sangat luar biasa.



"Apa mereka menyusup saat aku sedang tidak berjaga?" Yamato mengedarkan pandangannya sembari berusaha melepaskan belati yang menancap di bahu.



"Yang Mulia, saya mohon kembalilah ke aula istana. Saya akan menangani keadaan di sini. Yang Mulia harus tetap aman!" Yamato berseru dengan sedikit meninggikan suara. Walaupun dia tahu suaranya terdengar seperti sedang membentak, tapi tidak ada pilihan lain. Ratu Zygia adalah orang yang keras kepala. Dia tidak akan mendengarkan ucapan Yamato begitu saja.



"Apa kamu ingin aku pergi meninggalkanmu? Apa menurutmu itu adalah tindakan yang patut dipuji?" Ratu Zygia mengernyitkan dahi. Yamato tahu kalau jawaban Ratu Zygia akan seperti ini, jadi dia sudah menyiapkan kata-kata untuk membungkam Ratu.



"Yang Mulia, Abyss masih membutuhkan anda. Apa anda tidak memikirkan ribuan rakyat yang akan hidup tanpa pemimpin di masa depan? Anda adalah orang yang paling mengerti situasi Kerajaan akhir-akhir ini dibandingkan dengan siapapun. Jadi saya mohon jangan keras kepala. Jika saya tidak berhasil menyelamatkan anda, maka hal ini akan menjadi dosa yang harus saya tanggung seumur hidup." Yamato mencoba tersenyum dengan wajah yang penuh luka.


__ADS_1


"Bibi, jangan hiraukan aku. Aku yakin ibu menginginkan hal yang sama denganku." Suara serak Yamato seperti meredam suara riuh di taman istana saat ini. Walaupun dengan berat hati, akhirnya Ratu Zygia pergi menuju aula istana, meninggalkan Yamato dengan ribuan belati yang mengarah padanya.


__ADS_2