The Hidden World

The Hidden World
Eps.21 Nyonya Zygia


__ADS_3

Kami terus berjalan menaiki anak tangga yang lumayan panjang. Saat ini kami sudah berada di lantai dua. Jika terus menaiki tangga seperti ini, berarti orang yang akan kami temui berada di lantai paling atas. Tapi ternyata tidak. Penjaga—maksudku pelayan itu membawa kami menuju ruang perpustakaan. Apa orang itu suka membaca?



Baru beberapa langkah kaki kami setelah memasuki ruangan, kami berhenti di tepat di depan salah satu rak buku yang menempel pada dinding ruangan. Pelayan mengambil satu buku berwarna hitam dari rak, membukanya. Ternyata itu bukanlah sebuah buku, melainkan tempat yang dibuat untuk menyembunyikan sesuatu. Di dalam tempat itu ada sebuah tombol berwarna kuning keemasan. Apa mungkin ini adalah ruangan rahasia?



Plop!



Suara seperti gelembung meletus terdengar setelah pelayan menekan tombol. Rak buku itu bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah pintu tipis yang menyatu dengan dinding. Yamato berjalan mendekati pintu, mengetuk pelan.



"Bibi, aku kembali sesuai janji."



Suara Yamato yang biasanya terdengar berat, entah kenapa saat ini sangat lembut. Aku sampai bisa merasakan emosi dalam suaranya.



"Yamato? Masuklah, nak!"



Suara yang bergetar terdengar dari dalam ruangan itu. Mungkin nyonya rumah sudah tidak mampu untuk berjalan. Apakah keluarga ini mengalami kecelakaan yang membuat suami nyonya meninggal dan nyonya sendiri tidak bisa berjalan?



Tanpa menunggu lama, Yamato menekan tombol kecil di sisi kanan pintu. Sejenak aku melirik raut wajah Yamato. Ekspresinya terlihat sangat jauh berbeda. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang tadi dia tunjukkan. Kali ini dia tersenyum dengan tatapan yang menenangkan.



"Aku masuk, Bibi."



Pintu itu perlahan menghilang, menunjukkan sebuah ruangan sempit yang hanya memiliki satu ventilasi. Kami berjalan memasuki ruangan. Untuk sejenak aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat, namun dengan cepat aku membetulkan ekspresi wajahku.



"Ternyata kamu tumbuh dengan baik. Syukurlah kamu masih hidup. Sudah tiga tahun berlalu, ya!" Seorang wanita yang terbaring di ranjang sempit tersenyum pada Yamato. Wanita itu, wajahnya sangat mirip dengan yang ada di foto. Apa dia adalah nyonya rumah—maksudku Nyonya Zygia?



Nyonya Zygia, jika hanya dilihat dari wajahnya dia memang sangat mirip. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kakinya berubah menjadi tentakel dan mengeluarkan banyak cairan bening. Ada sekitar delapan tentakel yang bergerak-gerak dan dua tentakel yang diam. Apa ini? Aku ingin secepatnya keluar dari tempat ini, tapi aku tidak bisa melakukan itu.



Semua pasang mata saat ini tertuju pada Nyonya Zygia. Tidak ada satupun dari Yamato atau Nyonya Zygia yang memulai percakapan. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Keheningan berlangsung selama sekitar lima menit. Waktu lima menit terasa berlalu begitu lama karena atmosfer yang terasa canggung seperti ini.


__ADS_1


"Yamato, apa mereka..." Nyonya Zygia menatap kami tidak berkedip. Seolah dia sedang memastikan sesuatu.



"Benar, Bibi. Akhirnya hari yang kita nantikan telah tiba." Yamato berjalan mendekati ranjang, memegang tangan Nyonya Zygia dengan lembut.



Apa maksudnya itu? Hari yang mereka nantikan? Dan yang lebih penting, apa hubungannya dengan kami? Aku ingin menyela pembicaraan mereka, namun kalimatku terhenti di tenggorokan. Yamato sudah memperingatkan lebih awal agar bersikap sopan dan tetap diam.



"Tapi kenapa mereka hanya berempat? Ramalan mengatakan setidaknya mereka ada sembilan orang." Nyonya Zygia menatap kami heran. Yamato menoleh, sedikit melirik kami satu persatu. Raut wajahnya sedikit memudar. Senyuman yang dia lukiskan sejak memasuki ruangan juga mulai menghilang.



"Tunggu, kami memang ada sembilan orang!" Arthur berseru. Layla dan Nana yang berada di samping kanan dan Kirinya spontan menginjak kaki Arthur bersamaan. Arthur meringis kesakitan. Padahal Yamato jelas-jelas sudah mengatakan untuk tetao diam. Dasar Arthur! Apa dia tidak bisa diajak serius sedikit?



Yamato membalikkan badan, menatap lurus ke arah Arthur. Lihat, Arthur sudah membuatnya marah.



"Apa itu benar?" Yamato bertanya pelan. Arthur mengangguk yakin.



"Benarkah?" Yamato bertanya dengan lebih antusias. Matanya bersinar penuh harap. Padahal aku berpikir dia akan marah, tapi ternyata tidak. Nyonya zygia tertawa dari tempat tidurnya. Tawa yang terdengar renyah.




"Ah, soal itu... Kami terpisah." Arthur nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya. Ugh! Harus aku akui giginya sangat bersih dan rapi.



"Kalian terpisah? Bagaimana bisa?"



"Maafkan atas kelancangan saya, tapi saya rasa saya bisa membantu." Suara seorang pelayan yang menunggu di ambang pintu membuat kami menoleh ke arahnya.



"Apa maksudmu, Mark?" Yamato mengernyitkan dahi, meminta penjelasan lebih lanjut. Jadi nama pelayan itu Mark. Apakah aku harus memanggilnya Tuan Mark? Tapi bukannya akan terkesan aneh? Soalnya aku tidak memanggil dengan sebutan "Tuan" atau "Tuan Muda" pada Yamato.



"Izinkan saya bertanya pada mereka." Pelayan itu menatap kami sambil membungkukkan badan. Yamato mengangguk cepat.Apa ini? Kenapa aku merasa takut padahal tidak ada yang mengancamku?



"Apa teman kalian terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan? Salah satu dari mereka memakai kacamata. Benar?"

__ADS_1



Aku terkejut. Tentu saja! Bagaimana dia bisa tahu? Apakah mereka juga pernah ke tempat ini?



"Maaf, tapi bagaimana anda bisa tahu, Tuan Mark?" Aku yang sudah tidak tahan hanya diam saja akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.



"Ternyata memang benar. Tolong panggil saya dengan nama saja, Nona." Pelayan itu tersenyum lembut.



"B-baiklah!"



"Sebelum saya menjelaskan, mohon maafkan saya karena telah mengizinkan orang asing masuk tanpa melaporkannya terlebih dahulu pada Nyonya." Mark—karena dia memintaku untuk memanggil namanya saja—kembali membungkukkan badan. Nyonya Zygia mengangguk dari tempatnya.



"Sebenarnya sekitar tiga hari yang lalu ada lima orang yang seumuran dengan mereka di depan gerbang. Awalnya saya ingin langsung mengusir mereka, tapi keadaan mereka sangat tidak meyakinkan. Mereka mengalami luka yang cukup serius. Saya tidak tega untuk mengusir mereka. Akhirnya saya membawa mereka ke penginapan milik pemimpin." Mark berhenti sejenak. Dia menelan ludah, terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya.



"Saya tahu bahwa saya bisa dihukum berat jika membawa sembarang orang ke dalam kota, karena kejadian tiga tahun lalu bisa kembali terjadi."



Lagi-lagi tentang tiga tahun lalu? Sebenarnya apa yang terjadi tiga tahun lalu? Mulutku terasa sangat gatal ingin bertanya karena penasaran. Tapi aku harus bisa mengendalikan diri.



"Saya sampai menyuruh semua pelayan di penginapan untuk tetap mengawasi mereka dan tidak mengalihkan pandangan. Lalu beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Mereka sembuh total hanya dalam hitungan hari. Setelah itu saya semakin merasa takut dan ingin langsung mengusir mereka. Tapi setelah sikap yang mereka tunjukkan dan kenyataan bahwa mereka sangat membantu kami membuatku memilih untuk mengawasi mereka lebih lama. Hingga saat ini mereka masih berada di penginapan."



"Bagus!" Yamato tersenyum senang. Walaupun dia tidak terlalu menunjukkannya, aku tahu bahwa ada lonjakan emosi bahagia dalam dirinya.



"Selain itu, Yamato. Dimana Hugo?" Pertanyaan Nyonya Zygia membuat Yamato mematung.



"Dia juga masih hidup, kan?"



Yamato mengeraskan rahang. Lagi dan lagi ekspresi Yamato berubah seketika. Tangannya mengepal, membuat urat lengan Yamato terlihat jelas.



"Tentu saja, Bibi! Dia masih hidup." Yamato menjawab tanpa menoleh sedikitpun. Dia menengadah, berusaha untuk menahan air mata yang ingin keluar.

__ADS_1



Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Yamato?


__ADS_2