The Hidden World

The Hidden World
Bab 11 Bertemu Aryek


__ADS_3

Aku berlarian di lorong gedung. Napasku memburu. Tenagaku sudah hampir mencapai batasnya. Aku tidak kuat lagi jika harus berlari lebih lama. Jika saja aku bisa menguasai tektik teleportasi, aku pasti dengan mudah bisa berpindah tempat.



Kami berempat kembali terpisah. Kali ini lebih parah. Jika sebelumnya kami terpisah menjadi dua kelompok, kali ini kami terpisah menjadi empat. Kami hanya bisa mengandalkan kekuatan individu untuk bisa bertahan dari serangan monster-monster itu. Padahal beberapa waktu lalu kami masih membahas tentang kekuatan masing-masing, tapi sekarang itu terasa tidak berguna.



Aku memasuki salah satu ruangan, mengatur napas. Aku tidak tahu apa aku sedang beruntung atau tidak. Monster yang mengejarku adalah salah satu dari dua iblis yang dikatakan Liebe. Tapi beruntungnya, monster itu berjalan sangat lambat. Aku rasa dia tidak bisa berlari. Ditambah lagi, sedari tadi dia tidak meluncurkan serangan apapun padaku.


“Apa yang lain baik-baik saja? Jika Aryek sudah keluar, berarti moster yang satu lagi, Arf-ak, dia pasti juga sudah keluar dari tabung itu. Jika dilihat dari bentuk tubuhnya yang jauh lebih kecil, pasti dia juga jauh lebih lincah. Aku harap monster itu belum berhadapan dengan satupun dari mereka.” Aku bergumam pelan.


Suara napasku masih menderu kencang. Aku bisa merasakan ada beberapa monster yang mendekat. Sama seperti aku yang bisa merasakan keberadaan mereka, mereka juga bisa merasakan keberadaanku. Sial! Padahal energiku belum pulih sepenuhnnya.


Aku berdiri, memasang kuda-kuda. Mereka semakin mendekat. Jumlahnya satu, dua, sebelas, tidak! Mungkin jumlah mereka sekitar lima belas monster. Jumlah yang sangat mengerikan. Bukankah jumlah semua monster ada dua puluh? Mengapa ada sampai lima belas monster di sekitar sini? Aku menghela napas berat.


“Baiklah, tidak ada gunanya mengeluh. Sebelum mereka sampai di sini, aku akan berteleportasi. Ini memang berisiko, tapi mustahil untuk menghadapi monster sebanyak itu. Apalagi Aryek juga berada di sekitar sini.” Aku menggeram.


Baru kali ini aku merasa hampir putus asa. Aku menarik napas panjang, mengembuskannya. Aku memejamkan mata. Energi tubuhku keluar, memadatkan energi-energi di sekitarku. Aku harap mereka tidak akan sampai dalam sepuluh detik. Plop! Energi yang memadat di sekitarku tiba-tiba meletus.


“AAAAARRRRGGGHHHHH!!!!” Aku meraung.


“Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! SIAAAL!!!!” Aku menggigit bibir bawah. Aku kehabisan energi di detik-detik terakhir. Sekarang aku tidak bisa menggukan kekuatanku. Aku benar-benar tidak berdaya.


Hawa keberadaan monster-monster itu semakin mendekat. Tapi entah kenapa, jumlah keberadaan mereka semakin berkurang. Walaupun jumlah mereka berkurang, keberadaan Aryek masih terus mendekat. Apakah iblis itu bertarung dengan monster-monster yang lain? Baiklah, berhubung jalannya yang sangat lamban dan dia juga mengamuk di luar sana, aku akan memanfaatkan kesenpatan ini untuk memulihkan energiku. Liebe juga mengajariku cara memulihkan energi lebih cepat dari biasanya, mengingat teknik teleportasiku yang menguras banyak energi.

__ADS_1



Aku duduk bersila di lantai ruangan, memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Cara untuk mengumpulkan energi lebih cepat adalah dengan memaksa energi di sekitarku masuk lewat kepala dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Liebe bisa melakukannya tanpa harus bermeditasi sepertiku. Bermeditasi memiliki risiko tersendiri. Saat aku sedang memaksa energi masuk ke tubuhku, aku tidak bisa merasakan hawa keberadaan di sekitarku. Jika ada moster yang mendekat, aku tidak akan bisa menyadarinya. Ini memang risiko yang terlalu besar untuk diambil dalam keadaan seperti ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mengambil risiko itu atau aku akan kalah tanpa mencobanya.



Waktu berlalu hampir lima menit. Aku membuka mata, mengatur napas. Waktu lima menit sudah cukup untukku menggunakan kekuatan dan satu teleportasi. Degg!! Aku terdiam. Aku merasakan hawa keberadaan Aryek tepat di belakangku. Keringat dingin mulai keluar. Aku kembali mengatur napas, berusaha untuk tetap tenang dan terkendali. Liebe selalu mengatakan padaku untuk tetap tenang dalam situasi apapun. Rasa panik hanya akan menutup pintu menuju jalan keluar.



Aku berdiri perlahan, memberanikan diri untuk menoleh dan melihat Aryek yang sekarang sedang memperhatikanku.


'Siapa kamu? Kamu bukan penghuni dunia ini. Apa kamu menembus pembatasnya?'


Aku kembali terdiam. Ada suara yang menggema di kepalaku. Apa ini? Suara siapa ini? Apa ini sebuah ingatan?


Suara itu kembali bergema, membuatku sedikit merasa tertekan.


'Apakah kamu adalah orang yang diramalkan oleh orang itu sepuluh tahun yang lalu?'


Orang itu? Siapa?


'Aku akan membantumu. Berbaliklah, aku berada tepat di belakangmu.'


Berada di belakangku? Tapi saat ini aku hanya bisa merasakan Aryek yang berada di sana, tidak ada hawa keberadaan yang lain. Apa aku tidak bisa merasakan keberadaannya? Levelnya berada jauh di atasku? Apakah dia lebih kuat dari Liebe? Atau mungkin suara yang bergema di dalam kepalaku adalah suara Aryek sendiri?

__ADS_1



Aku menarik napas panjang, berbalik. Benar saja, hanya ada Aryek di sana yang sedang duduk di ambang pintu.


“Apa kamu yang berbicara padaku?” Aku memasang kuda-kuda, bersiap jika tiba-tiba Aryek menyerangku. Dia sedikit mendongakkan kepalanya. Mata kami bertemu.


'Kamu bisa mendengar suaraku?'


Dia berdiri, berjalan mendekatiku.


“Jika memang aku bisa mendengar suaramu, lalu kenapa?” Aku beringsut mundur, menjaga jarak dengan Aryek yang semakin mendekatiku.


'Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Kenyataan bahwa kamu bisa mendengar suaraku saja sudah membuatku merasa lebih baik.'


Dia kembali duduk di tengah ruangan. Matanya yang begitu banyak itu terlihat sangat teduh saat menatapku.


“Apa yang membuatmu senang?”


'Karena sekarang aku mempunyai teman untuk berbicara. Seperti yang kamu lihat, aku tidak punya hidung ataupun mulut. Seluruh wajahku hanya ada mata. Aku selalu ingin bercerita dengan orang lain. Tapi, saat ada orang yang masuk ke bangunan ini dan bertemu denganku, mereka selalu berteriak memanggilku monster dan lari menjauh. Aku berusaha mengejar mereka, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku bahkan tidak bisa menjelaskan keadaanku pada mereka mengingat aku tidak mempunyai mulut.'


“Ada orang yang masuk ke bangunan seperti ini?”


'Beberapa dekade lalu tempat ini adalah tempat hiburan. Setiap sepuluh lantai ada hiburan yang berbeda. Dilantai satu sampai sepuluh adalah hiburan berupa permainan kejar-kejaran dan petak umpet dengan para pemburu.'


Suara itu berhenti sejenak. Suara yang menggema di kepalaku memang membuatku sedikit tertekan, tapi saat dia mulai bercerita, entah kenapa aku merasa dia sedang ingin menyampaikan sesuatu padaku.

__ADS_1


Entah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh monster yang berada di depanku ini. Aku juga tidak tahu masa lalu seperti apa yang dterjadi di tempat ini. Tidak ada pilihan lain selain tetap mendengarkan ceritanya.


__ADS_2