The Hidden World

The Hidden World
Bab 7 Tentang Monster


__ADS_3

Setelah dia bercerita tentang si putri, diapun tertidur. Tubuhnya tenggelam dalam rumput liar yang panjang. Aku memperhatikan wajah yang terlihat seperti seorang wanita tak berdaya saat sedang tertidur. Dia yang seorang perokok tetap memiliki warna bibir yang merah, tipis, dan bulat. Dia yang sekarang adalah Liebe yang berbeda.


Aku ikut berbaring di sampingnya sambil menunggu dia terbangun. Bahkan di ruangan ini terdapat langit biru yang nampak sama seperti yang aku lihat di luar sana. Sebenarnya tempat apa ini? Apa ini benar-benar sebuah ruangan? Jika memang iya, berarti dunia ini memiliki tekhnologi yang sangat maju.


“Ah, apa aku tertidur?” Liebe menggeliat, beranjak duduk, mengucek-ngucek matanya. Aku mengangguk.


“Maafkan aku.” Liebe beranjak berdiri.


“Yosh, kita akan masuk ke latihan.” Liebe menatapku yang berada di sampingnya. Aku terdiam. Liebe memang sudah bercerita panjang lebar, tapi dia belum menjawab pertanyaanku.


“Ah, maafkan aku. Aku lupa. Tempat ini juga permintaan dari putri. Aku yakin kalau kamu dan teman-temanmu sudah pernah bertemu dengannya. Dia membangun tempat ini dan menjadikan beberapa pelayannya sebagai kelinci percobaan untuk dijadikan monster di tempat ini. Dia menaruh banyak kamera pengawas dan menonton pertunjukan ini dari ruangannya.” Telapak tangan Liebe mengeluarkan sebatang rokok dan korek.


“Monster? Maksudmu dua makhluk aneh yang ada di dalam tabung dengan cairan hijau?” Aku mengernyitkan dahi. Liebe yang tadinya sedang memetik korek api terhenti, menoleh ke arahku.


“Tabung dengan cairan hijau?” Liebe menatapku serius. Aku mengangguk yakin.


“Dimana kamu menemukannya?”


“Di lantai sepuluh.”


“Sial! Bagaimana itu bisa berada di sana? Pasti putri brengsek itu menyuruh para pelayan untuk memindahkan mereka ke lantai sepuluh.” Liebe menggigit ibu jari.


“Siapa namamu tadi? Ah, Lina! Ingat, mereka bukan monster yang aku maksud. Mereka bukan sekedar monster, mereka sudah seperti iblis. Jadi, lebih baik kamu menjauh dari tempat itu.” Liebe balik badan, terkejut.


“AAAARGH! Aku lupa! Setelah kamu dan teman-temanmu selesai menguasai kekuatan kalian, monster yang sesungguhnya akan dilepas. Mereka mungkin akan menghancurkan tabung itu dan membebaskan makhluk terlarang.” Liebe mengacak rambutnya, berusaha mengatur napas. Dia terlihat sangat panik. Daritadi dia mondar-mandir kesana dan kesini seolah sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Tunggu, Liebe. Aku masih punya satu pertanyaan yang sangat penting untukku. Bagaimana aku, lebih tepatnya kami bisa masuk ke dunia ini?”


“Aku tebak, pasti kamu sedang ingin berkemah atau mungkin ingin berburu binatang di hutan. Apa aku salah?” Liebe menatapku. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.


“Sekarang aku yang bertanya. Saat kamu memasuki hutan, apa hutan itu ada dalam peta?” Liebe menatapku sembari melipat kedua tangannya di dada. kali ini aku menggeleng.


"Tidak! Seingatku yang seharusnya terdapat hutan di peta berubah menjadi jejeran rumah. Lalu kami terus maju dan menemukan hutan yang tidak ada di peta. Kami pikir peta itu yang salah.”


“Itu dia letak kesalahannya. Hutan yang kalian masuki adalah portal menuju dunia lain.”Liebe membelalak menatapku. Sorot matanya menyiratkan kekesalan yang alami.


“Hah?!” Aku melongomelongo, menatap Liebe dengan penuh tanda tanya.


"Jiwa kita memiliki energi. Setiap orang memiliki warna dan energi jiwa yang berbeda. Dari sekian banyaknya jiwa di dunia, hanya beberapa jiwa yang bisa menghubungkan energinya dengan portal antar dunia. Apa kamu merasakan sesuatu yang aneh saat berada di hutan itu?" Liebe kembali menatapku. Aku mengangguk pelan. Semua penjelasannya membuat sesuatu yang buram itu menjadi sedikit lebih terlihat jelas.


“Berarti jiwa milikmu yang mempunyai energi penghubung portal antar dunia.” Liebe terkekeh pelan. Aku hanya bergeming mendengar itu.


“Karena kamu tidak menyadari adanya kemampuanmu, energimu membuat sebuah ilusi. Kamu belum bisa mengendalikan energimu itu, tentu saja! Karena itulah energimu berbuat sesukanya. Seandainya kamu memasuki hutan sesuai yang ada di peta, dimana itu adalah rumah yang kamu lihat, andai saja kamu memasukinya kamu akan melihat hutan yang sebenarnya dan ilusi itu akan menghilang." Liebe menghela napas pelan, memegangi keningnya yang mengerut.


"Tapi kamu dan teman-temanmu malah terus maju dan malah memasuki hutan ilusi yang dibuat oleh energi dari jiwamu. Energi itu menghubungkan portal antara tempat dimana kamu akan masuk dengan hutan di dunia lain. Itu sebabnya kalian tidak sadar kalau sedang berada di hutan dunia yang berbeda.” Liebe mengangkat kedua tangannya, menggeliat.


“Baiklah, apa sudah tidak ada pertanyaan?” Liebe tersenyum. Belum sempat aku menjawab, dia tiba-tiba berteriak histeris.


“WEEEEH! Aku harus melanjutkan penjelasanku yang tadi. Sampai dimana? Emm.” Liebe memegang dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jari, berpikir.


“Ah! Ingat, jika para monster benar-benar membebaskan iblis itu, ini akan sangat berbahaya. Tidak hanya untuk kalian, tapi juga untuk negeri ini.”

__ADS_1


Para monster? Apakah akan ada banyak monster yang akan kami hadapi? Aku rasa ini benar-benar menjadi kacau. Ini diluar dugaanku. Oh Tuhan, aku memang berharap mendapat petualangan yang seru dan menantang, tapi apa ,menurutmu ini tidak terlalu berlebihan? Tidak, ini bukan hanya berlebihan, tapi sudah diluar nalar dan akal sehatku.


“Apa tidak ada cara supaya mereka tetap berada dalam tabung?”


“Aku rasa tidak ada. Aku ingin sekali membantu kalian dan menjaga tempat iblis itu berada agar mereka tidak terbebas. Tapi setiap orang sudah memiliki cip yang ditanam di tubuh mereka masing-masing. Jika mereka melangggar aturan yang sudah ditetapkan pada mereka, cip itu akan meledak dan menghancurkan tubuh menjadi beberapa bagian. Itu sangat mengerikan. Aku tidak boleh keluar dari ruangan ini, jika aku melanggarnya aku akan mati.”


Aku menelan ludah. Ini lebih parah lagi. Sebenarnya seberapa hitam negeri ini? Sejauh ini aku belum pernah melihat satupun cahaya yang menyeruak menembus kegelapan di dalamnya. Aku tidak yakin aku sanggup jika harus mendengar semua tentang negeri ini. Jika aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan putri itu, aku ingin berbicara padanya.


“Liebe?” Aku memanggilnya.


“Intinya sekarang kamu harus bisa menjadi yang terkuat.”


“Mungkin tidak.” Aku menatap Liebe sambil mengernyitkan dahi.


“Maksudmu?”


“Salah satu temanku masuk ruangan nomor tiga puluh.”


“HAAAAH!!!” Liebe melongo, menatapku seolah tidak percaya.


Aku tidak menyangka sifat Liebe akan seperti ini. Tadi saat pertama kali bertemu dia terlihat sangat dingin dan berwibawa. Tapi sekarang dia terlihat seperti orang yang berbeda. Sebenarnya Liebe itu ada berapa?


“Temanmu ada di ruang tiga puluh? Warna cairan yang dia minum?”


“Hitam.”

__ADS_1


Liebe menelan ludah. “Hitam katamu?” Dia menatapku kosong. Aku mengangguk.


"Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh putri? Aku rasa disatu sisi kalian akan baik-baik saja walau iblis itu adalah lawan kalian dan disisi lain kalian sangat berada dalam bahaya walaupun tidak berhadapan dengan musuh."


__ADS_2