
Yamato menekan tuas yang muncul setelah kata kunci dimasukkan. Kemudian lantai bergetar hebat seperti akan runtuh.
"Persiapkan diri kalian. Kita akan jatuh."
"Apa?! Jatuh?" Belum selesai kebingunganku, lantai di bawah kami sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Kemudian masing-masing dari mereka saling menjauh.
Aku mencoba untuk melompat menghindari retakan itu, tapi ternyata aku sudah terlambat. Retakan di bawah kami sudah sepenuhnya terbuka, membuat tubuh kami terjun bebas ke bawah. Kami berteriak, termasuk Arthur. Ternyata dia bisa juga berteriak seperti itu.
Yamato memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia terjun dengan begitu anggun. Burung elang yang bertengger di bahu Yamato tetap berada di tempatnya seolah dia tidak merasakan tekanan dari udara saat terjun bebas.
Sekitar lima belas menit berlalu. Kami masih belum melihat dasarnya. Kepalaku sudah pusing sedari tadi. Bahkan Layla sudah beberapa kali pingsan. Arthur juga tidak bisa bertahan lama. Aku beberapa kali menangkap dia ingin muntah, tapi menelannya kembali. Melihat itu tentu aku merasa jijik, tapi aku tetap memaklumi.
Dua puluh lima menit. Kami melihat cahaya berpendar dari bawah. Apakah itu adalah dasarnya? Beberapa detik kemudian kami tiba-tiba mendarat diatas sesuatu yang empuk. Tubuh kami terpental-pental. Cahaya silau menyeruak memasuki retinaku. Aku menyipitkan mata, masih membiasakan mataku dengan cahaya yang masuk. Samar-samar aku melihat pemandangan yang menakjubkan.
Aku tidak tahu harus menyebut tempat ini apa. Mungkin ini duplikat dari surga? Ada banyak makhluk yang terlihat mirip seperti hewan, tapi berbeda dengan apa yang pernah aku lihat. Ukuran mereka juga sangat jauh lebih besar. Mungkin bagi ras raksasa ukuran hewan-hewan ini akan terasa sama seperti di dunia manusia. Tapi apa di dunia ini memang ada raksasa?
Tanaman-tanaman yang tumbuh di tempat ini juga memiliki ukuran yang tidak wajar. Ini seperti kami memang berada di kawasan raksasa. Dari kejauhan, aku melihat ada pohon besar yang mengambang. Akarnya seperti melilit keristal berwarna biru cerah. Warna keristal itu berpendar-pendar. Tidak terlalu silau, tapi cukup menawan.
"Apa kita sedang berada di dunia fantasi?" Layla merangkak mendekatiku.
"Tidak ada yang normal di tempat ini–hei, Arthur! Jangan muntah disini!" Nana menimpuk kelapa Arthur, membuatnya tersungkur. Aku rasa Arthur sudah kehabisan tenaga.
"Aaah!!! Akhirnya aku kembali. Sudah lama sekali, ya!" Yamato meregangkan tubuh, berjalan ke depan kami.
"Selamat datang di Abyss dan selamat datang di kampung halamanku." Yamato berbalik, tersenyum menghadap kami.
"Sangat indah, kan? Walaupun terlihat indah, tempat ini masihlah sesuai namanya 'Abyss'. Tidak akan ada 'keindahan' yang kalian temukan disini." Yamato melompat turun, mendarat dengan anggun. Sesuatu yang saat ini kamu duduki terlihat seperti gelembung udara raksasa. Tempat ini menakjubkan.
Aku tidak tahu apa yang dia maksud, tapi aku memilih untuk tetap diam tanpa bertanya apapun. Kami ikut melompat turun, menyusul Yamato yang sudah berada di bawah.
"Tunggu! Aku butuh istirahat sebentar." Arthur berseru dengan suara seraknya. Sekarang dia benar-benar berbeda dari beberapa puluh menit yang lalu. Dia terlihat seperti orang yang kekurangan gizi dan tidak makan berhari-hari. Lingkar hitam di matanya semakin menambah kesan 'gelandang' pada dirinya.
"Apaan coba? Orang yang masuk ke ruangan tiga puluh malah tepar karena hal beginian?" Layla mencibir.
"Ini tidak ada hubungannya. Huweek! Memangnya kamu tidak mual, hah? Kamu saja pingsan berkali-kali!" Arthur mencoba berdiri, menopang tubuhnya meski terhuyung-huyung. Layla mendengus mendengar perkataan Arthur.
__ADS_1
Arthur berjalan pelan mendekatinya, berusaha untuk menopang Arthur. Tinggi kami hanya beda sepuluh senti, tapi berat badan kami beda sampai 20kg. Dia melatih ototnya, pantas saja kalau berat badannya lebih berat daripada orang-orang yang mempunyai tinggi setara dengan dia.
"Aah~Linaku! Kamu memang yang paling mengerti ak–huweeek!!!" Arthur kembali memuntahkan cairan bening. Aku mual melihatnya, spontan mendorong Arthur untuk menjauh.
"Bilang-bilang dulu kalau mau muntah!" Aku berteriak. Mataku berkaca-kaca karena mual. Bisa-bisanya dia muntab di dekatku seperti itu?
"Maaf!"
"Jalan sendiri saja!" Aku mendengus, pergi melompat menyusul yang lain. Arthur masih berada di atas sana dan masih terlihat mual.
"Sebaiknya kalian tidak meninggalkan dia sendirian. Bisa saja satu menit kemudian dia sudah hilang." Yamato menoleh, menatap kami yang berjalan membuntutinya.
"Chira, pergi bantu dia." Yamato mengelus elang yang sedari tadi betah bercokol di bahunya. Burung itu melesat terbang, melambung tinggj ke udara. Sesaat kemudian, cahaya yang menyilaukan muncul.
"Aku lupa memperkenalkan dia, ya? Dia adalah Chira, burung spiritual yang aku pelihara."
"Burung spiritual? Maksudmu dia bukan burung biasa?"
"Tapi kamu tidak bilang kalau burung itu adalah burung spiritual dan dia adalah peliharaanmu."
"Makanya aku bilang kalau aku lupa memperkenalkan dia, kan?"
"Hmmm.." Aku mengeraskan rahang, merasa kesal. Entah kenapa semakin hari sikap Yamato semakin menyebalkan.
Aku mendongak, kembali memperhatikan burung elang yang tadi berada di udara. Sekarang dia sudah berubah bentuk. Apa dia bertransformasi?
"Burung spiritual, ya?" Gumamku pelan.
Aku tidak tahu burung spiritual itu burung yang seperti apa. Apa mereka punya kekuatan spiritual? Atau mereka hanya pecahan spiritual?
Ukuran burung itu berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Tingginya bahkan melebihi tinggi Yamato. Chira melayang, kakinya tepat berada di atas kepala Arthur. Kepakan sayap Chira mampu membuat angin yang bisa menerbangkan pakaian kami.
__ADS_1
"Apa semua makhluk spiritual memang punya ukuran sebesar ini?"
"Tidak, mungkin saja itu bukan ukuran sebenarnya. Bisa jadi dia memiliki kekuatan untuk memperbesar tubuh?"
Nana dan Layla kembali membahas hal yang tidak aku mengerti. Sebenarnya apa yang mereka bahas dari tadi? Sembari terus memperhatikan, Chira perlahan mengangkst tubuh Arthur dengan kakinya. Dia sedikit menancapkan cakar di bahu Arthur, membuat bahunya sedikit berdarah. Tapi herannya, Arthur tidak meringis kesakitan. Apa dia terlalu mabuk sampai tidak merasakan sakit?
Chira membawa tubuh Arthur, mendaratkan tubuhnya perlahan tidak jauh dari kami. Yamato berjalan menghampirinya, mengelus dada Chira yang besar.
"Anak baik!" Setelah tersenyum tipis, Yamato berjalan ke samping Chira, memanjat sayap Chira yang sudah menjulur, seperti mengisyaratkan untuk menaikinya.
"Kalian juga cepatlah naik. Kita akan pergi menunggangi Chira. Jangan lupa untuk membopong dia!" Yamato berteriak dari atas. Sekarang dia sedang duduk di leher Chira. Melihat perawakannya yang sekarang, entah kenapa membuatku merasa ingin lebih mengenalnya.
"Hei, jangan hanya bengong disana! Kalian mendengar apa yang aku katakan. Cepatlah! Atau gerbang akan tertutup."
Gerbang? Apa kita akan pergi ke suatu tempat yang luas seperti istana? Lagian siapa yang akan membopong Arthur? Dia pikir Arthur masih anak balita yang harus dibopong? Aku menoleh ke arah Arthur, memperhatikannya lekat-lekat. Yah, setidaknya kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Ka-kalian tidak perlu membantuku. Aku bi-bisa sendiri." Dengan napas terengah-engah, Arthur terlihat masih sedikit susah untuk berdiri.
"Ya, baguslah kalau begitu!" Layla mendengus, membuang muka. Meskipun Arthur bilang begitu, aku tahu Arthur sebenarnya berharap ada yang membantu dia berjalan. Walau saat ini dia bisa berdiri tapi jujur saja, dia tidak bisa berjalan. Jangankan untuk melangkah, menggerakkan kaki saja dia masih tidak bisa. Apa ini Arthur yang aku kenal? Monster yang aku lihat di dalam bangunan waktu itu, apa makhluk yang sama dengan yang ada di hadapanku saat ini?
Aku mendesah, ber-hah pelan. Aku berjalan mendekari Arthur, melingkarkan lengan kirinya pada leherku.
"Cepatlah, aku akan membantumu."
"Terima kasih, Lina."
"Tapi ini tidak gratis!"
Arthur terkekeh pelan mendengar itu. Aku tidak tahu ini hanya perasaanku atau bukan, tapi aku merasa Arthur sudah banyak berubah. Padahal belum sampai setengah bulan, tapi dia sudah menunjukkan perubahan.
"Aaah~ Aku tahu Lina pasti akan membantu pangeran yang malang ini."
Yah, dia berubah. Maksudku berubah menjadi orang yang semakin menyebalkan.
__ADS_1