The Hottest Family

The Hottest Family
001


__ADS_3

Jinwoo memandang langit biru di luar kaca jendela sejenak sebelum kemudian kembali melihat berbagai kertas dokumen yang ada di mejanya.


Sudah satu tahun dirinya berada di Komplek Emas dan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Mulanya Jinwoo pikir hanya dirinya yang tiba-tiba saja menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Namun ternyata tidak. Ada banyak orang yang juga sama sepertinya. Takdir seolah memaksa agar mereka bisa bertemu satu sama lain.


Toktoktok


Bunyi pintu yang diketuk membuyarkan lamunan Jinwoo.


"Ini aku, Haein. Apa aku boleh masuk?" Sebuah suara yang terdengar sangat manis bagi Jinwoo terdengar dari balik pintu.


"Ya, masuk saja," sahut Jinwoo sembari membereskan dokumen yang ada di mejanya. Lebih tepatnya dokumen data diri para penghuni Komplek Emas.


"Hey, bagaimana pekerjaanmu sekarang? Aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat." Haein tersenyum sambil berjalan mendekati meja Jinwoo. Buket bunga yang ada di genggaman tangannya dia taruh di pinggir meja sebelum kemudian merengkuh leher Jinwoo dengan kedua tangannya.


"Hari pertamamu menjadi ketua komplek pasti berat ya?" tanya Haein setengah berbisik di telinga Jinwoo.


"Tidak juga, tapi aku sendiri pun sebenarnya tidak terlalu berminat menjadi ketua komplek," jawab Jinwoo tanpa banyak bergerak. Dia sama sekali tidak keberatan dengan apa pun yang dilakukan Haein. Entah itu rangkulan, pelukan, atau bahkan hal lain.


Tentu saja tidak keberatan. Haein adalah seseorang yang menjadi alasan bagi Jinwoo untuk tetap hidup dan menjalani hari meski ingatan yang dimiliki Haein tentang kehidupan saat ini sangat berbeda dengan seluruh ingatan yang dimiliki oleh Jinwoo.


Jinwoo merasa dirinya seperti telah bereinkarnasi berkali-kali tanpa melupakan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Bukan hanya ingatan, tapi kekuatannya pun masih tetap dia miliki.


"Apa kau akan bertemu dengan semua penghuni komplek ini?" tanya Haein penasaran.


"Itu terlalu banyak. Cukup para ketua blok saja."


"Ketua blok? Memangnya ada?"


"Tentu saja ada, kalau pun tidak ada aku akan membuatnya ada." Jinwoo tersenyum tanpa ada keraguan sedikit pun.


"Perlu aku bantu?" tanya Haein sembari memainkan kerah jas yang dipakai Jinwoo.


"Tidak usah." Geleng Jinwoo.


"Baiklah kalau begitu. Kalau kau butuh bantuan jangan ragu untuk menghubungiku," ujar Haein yang diakhiri dengan sebuah kecupan di pipi Jinwoo.


"Ya, tentu saja." Jinwoo tersenyum dengan tatapan lembut di matanya.


"Kalau begitu aku pergi dulu, ada yang ingin aku beli di supermarket."

__ADS_1


"Mau aku antar?"


Haein menggeleng. "Lakukan pekerjaanmu, jangan sekali-kali berpikir untuk mengabaikannya."


"Tidak akan."


"Oke. Dadah." Haein pun berjalan keluar melewati pintu dengan bersemangat. Tentu saja bersemangat, ada diskon yang sedang dia kejar di supermarket.


"Baiklah, sekarang kita mulai dari mana?" Jinwoo bergumam pada dirinya sendiri sembari menelisik beberapa kertas di tangannya.


"Cale Henituse," lirih Jinwoo. "Seorang pewaris dari keluarga ternama yang masuk jajaran keluarga kaya di Indonesia."


"Dia tidak sekaya dan sepenting Alberu Crossman, tapi sepertinya dia cocok dengan yang aku inginkan." Jinwoo menyeringai.


Haruskah Jinwoo menghubunginya sekarang juga?


***


Di tempat lain, lebih tepatnya kediaman Cale Henituse.


Laki-laki berambut merah itu baru saja selesai mandi dan berganti baju. Sebagai pewaris keluarga konglomerat, Cale memiliki segudang pakaian yang mewah dan sangat fashionable. Meski begitu, Cale lebih suka memakai baju yang sederhana.


"Tuan Muda Cale," panggil seorang pria tua berambut putih. Suaranya yang tiba-tiba sedikit membuat Cale terkejut.


"Ada apa, Ron?" tanya Cale sembari duduk di pinggir kasur. Kedua kucing bernama On dan Hong langsung berlarian ke pangkuan Cale.


Kedua kucing itu bukanlah kucing biasa, tapi merupakan anak Suku Kucing Kabut yang memiliki kemampuan cukup mengerikan tidak seperti tampilannya yang imut dan lucu.


"Tadi ada panggilan dari ketua komplek yang baru," ucap Ron dengan nada suara tenangnya. Meski terlihat tenang, tapi Cale sadar kalau Ron bukanlah orang yang patut untuk dipermainkan.


"Terus?" tanya Cale singkat.


"Saya katakan kalau Tuan Muda sedang mandi dan dia hanya meninggalkan pesan untuk bertemu," jelas Ron.


"Bertemu? Kapan?"


"Dia bilang masalah waktu disesuaikan saja dengan waktu yang dimiliki Tuan Muda."


Cale menghela napas. Dia tidak mengerti mengapa seorang ketua komplek yang baru ingin menghubungi dan bertemu dengannya. Bagi Cale, hal seperti ini sangat merepotkan. Dia jauh lebih ingin menghabiskan waktu di kamar sembari membaca novel atau sebatas berselancar di media sosial.

__ADS_1


Cale tahu kalau dirinya telah kembali ke dunia moderen, tapi dia tidak kembali ke Korea melainkan ke Indonesia. Tubuh yang dia bawa tetap Cale Henituse bukan dirinya yang dulu.


Hal ini sedikit memusingkan pada awalnya, tapi Cale sudah bisa beradaptasi dengan baik.


"Ketua komplek yang baru siapa namanya? Apa kau bisa memberiku informasi tentangnya?" tanya Cale penasaran.


"Namanya adalah Sung Jinwoo. Dia pemuda berbakat yang mendapatkan kekayaan dan ketenaran hanya dengan kemampuannya sendiri." Perkataan Ron ini terasa bagaikan sebuah tikaman yang sangat dalam di jantung Cale.


Bila dibandingkan dengan kehidupan Cale, tentunya mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh berbeda. Ketua kompleknya yang baru tidak bisa disetarakan dengan seorang Cale yang mendapatkan kekayaan karena garis keturunan.


"Kenapa orang sepertinya ingin bertemu denganku?" tanya Cale penasaran.


"Saya pun tidak tahu, tapi setidaknya Tuan Muda harus memberikannya balasan."


"Oh iya." Cale kemudian terdiam sesaat memikirkan waktu yang pas baginya untuk bertemu Jinwoo sang ketua komplek yang baru.


"Apa perlu saya hubungi lewat telpon?" Ron memberikan penawaran.


"Tidak usah, kabari saja kalau aku akan pergi sore ini ke tempatnya," jawab Cale sembari menyisir rambut merahnya ke belakang.


"Tempat kediamannya atau kantornya?"


"Hah?"


"Tuan Sung punya kantornya sendiri. Kalau Tuan Muda Cale datang sore hari mungkin Tuan Sung sudah berada di perjalanan pulang," terang Ron yang sedikit membuat Cale kesal.


"Memangnya kantornya ada di mana? Masih berada di komplek ini kan?"


"Tuan Sung punya beberapa kantor di tempat berbeda, tapi dia lebih senang berada di kantor pribadinya yang ada di komplek ini," papar Ron.


"Argh... Kau membuatku kesal saja," dengus Cale.


"Kabari saja kalau aku akan pergi ke kantor pribadinya sekarang," tandas Cale masih sedikit kesal.


"Baik Tuan Muda. Apa kau akan pergi bersama Choi Han?" tanya Ron dengan tatapan lekatnya.


Mendengar nama Choi Han membuat Cale kembali berpikir. Dirinya mungkin sangat berbeda dengan ketua komplek yang baru, tapi Cale dapat menebak kalau kepribadian Choi Han yang kuat dan pekerja keras bisa dengan mudah diterima oleh ketua kompleknya yang baru.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2