
"Ada apa? Kamu mau pesan ramen juga?" tanya Jinwoo dengan nada suara yang lembut. Seketika saja Cale merasa bagaikan disengat ubur-ubur. Sangat mengerikan.
"Hey..." lirih Cale.
"Hey juga," balas Jinwoo.
"Maksud gue tuh bukan itu." Kali ini nada suara Cale meninggi disertai gebrakan meja. Untung saja kaca mejanya kuat sehingga tidak pecah saat mendapat gebrakan.
"Huh?"
"Bisa engga sih lu nggak usah pake aku-kamu? Biasa aja!" bentak Cale. Dia sudah tidak mau peduli lagi dengan apa yang namanya tata krama dan kesopanan. Orang yang ada di hadapannya sudah cukup mengikis kesabaran Cale.
"Emang kenapa?" tanya Jinwoo masih dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. "Kamu baper?"
Baper? Bawa perasaan? Mendengar ini sontak saja Cale terperanjat.
"Enak aja?!" Tangan kanan Cale yang terkepal melesat secara refleks menuju Jinwoo, tapi...
Jinwoo tidak mengelak sama sekali dari tinju yang dilakukan oleh Cale, dia justru berhasil menahan serangan Cale dan menggenggam erat pergelangan tangan Cale.
"Kamu ternyata lucu juga ya," ucap Jinwoo yang diikuti oleh kekehan kecilnya.
Kurang ajar. Cale merasa kesal dan malu di saat yang bersamaan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pertemuannya dengan sang ketua komplek baru akan berjalan dengan seabsurd ini.
Cale ingin menghempaskan tangan Jinwoo, tapi genggamannya sangat kuat. Cale bahkan merasa sedikit sakit karenanya.
[Bodoh! Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Dia sepuluh juta kali lebih kuat darimu] Suara Naga terdengar di kepala Cale.
Sepuluh juta? Cale merasa sangat direndahkan oleh Naga. Cale ingin membalas perkataan naga, tapi dirinya tidak bisa. Memangnya kenapa kalau lebih kuat? Lelaki itu sangat menyebalkan.
"Lepaskan!" bentak Cale, tapi Jinwoo tidak peduli dan malah semakin erat memegangnya.
"Ugh..." Cale merasa kesakitan. Kedua matanya menatap Jinwoo dengan tatapan sinis. Bila saja Cale kuat, dia sangat ingin sekali mengikat Jinwoo lalu membuangnya ke dasar lautan.
Gigi cale bergemerutuk karena kesal. Namun, orang yang ditatapnya justru memiliki ekspresi yang sangat berbanding terbalik dengan Cale. Jinwoo tersenyum, bahkan kedua matanya pun sama sekali tidak menunjukkan kekesalan.
Cale dapat menyadari kalau tatapan Jinwoo sangat tenang dan bahkan bersahabat. Senyuman yang terlukis di wajahnya pun semakin membuatnya terlihat mempesona. Meski berat, tapi Cale harus mengakui kalau wajah orang yang sedang tersenyum di hadapannya cukup tampan.
"Uhuk." Cale memaksakan dirinya untuk batuk agar perhatiannya tidak terpaku pada Jinwoo.
"Bisa kau lepaskan?" tanya Cale dengan nada suara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku pinjam sebentar?" tanya balik Jinwoo yang seketika saja membuat Cale bertanya-tanya.
"Hah?!"
Jinwoo menarik lengan Cale dan menaruh telapak tangan Cale di pipinya. Cale tentunya dapat merasakan hangat pipi Jinwoo di kulitnya. Saking hangatnya sampai Cale tidak bisa mengatakan apa pun.
"Kamu itu lemah dan tidak berguna," ucap Jinwoo yang membuat emosi Cale kembali mendidih.
[Ya, dia memang lemah] Naga menimpali perkataan Jinwoo. Membuat Cale semakin merasa kesal dan ingin segera pergi dari tempatnya berada.
"Aku memang tidak berguna." Cale mencengkram pipi Jinwoo dengan jemarinya. Dia sudah tidak peduli lagi kalau Jinwoo akan marah. Salah siapa yang main tarik tangan orang lain?
Jinwoo terkejut dengan apa yang dilakukan Cale. Senyuman di wajah Jinwoo pun mulai luntur.
"Lantas kenapa kau ingin bertemu dengan orang tidak berguna sepertiku?" tanya Cale yang semakin menguatkan cengkramannya.
"Itu karena..." Jinwoo membalas cengkraman Cale dengan menaruh jemarinya di sela-sela jemari Cale. Saat kekuatan Cale menurun, Jinwoo pun menarik tangan Cale dan mengecup telapak tangannya.
"Ngapain sih?!" Cale refleks melotot karena terkejut.
"Kamu memang tidak berguna, tapi justru itu yang membuatku menginginkanmu," jawab Jinwoo sambil melepaskan tangan Cale.
Jinwoo menghembuskan napas pelan lalu meraih tabletnya. "Aku lapar. Akan aku pesankan takoyaki untukmu."
"Aku ingin makan seafood," lirih Cale dengan tatapan yang mengarah ke bawah. Bagi Jinwoo, reaksi Cale sangat lucu. Seperti seekor kelinci yang sedang bergetar karena kedinginan.
"Ahaha." Jinwoo tertawa. "Baiklah Tuan Muda Cale. Kita akan makan seafood."
Cale diam. Dia sangat ingin menjambak Jinwoo, tapi percuma saja. Kekuatannya sama sekali tidak bisa disandingkan.
Lantas apa yang diinginkan orang sekuat Jinwoo dari Cale? Apakah uang? Rasanya tidak. Jinwoo sudah cukup kaya dan itu sudah tidak diragukan lagi.
Bila memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jinwoo, Cale sedikit berpikir kalau yang diinginkan Jinwoo tidak akan jauh dari sebuah malam yang panas. Memikirkan hal ini membuat kepala Cale bagaikan direbus.
Tunggu, bukankah Jinwoo sudah punya pacar? Cale berusaha untuk tetap berpikir jernih, tapi pada ujungnya tetap saja keruh.
"Sejujurnya aku sedang mencari ketua untuk setiap blok yang ada di komplek ini," ujar Jinwoo yang membuat gemuruh di kepala Cale teralihkan.
"Ketua blok?" tanya Cale memastikan apa yang didengarnya. "Kau ingin aku jadi ketua blok H?"
Jinwoo mengangguk. "Ya."
__ADS_1
"Kau pasti bercanda." Cale menatap Jinwoo dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tidak pernah bercanda."
"Hah?!" Cale mengerutkan keningnya. "Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku tidak berguna?"
"Ya, kamu memang tidak berguna."
Cale mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih. Apa yang telah dilakukan Jinwoo dan semua perkataannya membuat Cale muak. Dia merasa dipermainkan dan dipermalukan sekaligus.
"Aku menolak." Cale menyandarkan punggungnya ke sofa dan melipat kedua tangannya di dada. Dia juga mengalihkan mukanya dari Jinwoo.
"Jangan menolak. Lagipula aku tidak akan banyak membuatmu bekerja."
"Huft."
"Aku serius Cale. Kamu tidak perlu melakukan apa pun selain pendataan. Itu pun bisa didelegasikan ke orang lain."
Cale diam. Dia menyimak dan menimbang apa yang ditawarkan oleh Jinwoo. Terdengar sangat menguntungkan baginya, tapi Cale tidak ingin segampang itu menerima keinginan Jinwoo.
"Aku merahasiakan kebiasaan mabukmu juga."
Ujung mata Cale melirik ke arah Jinwoo. Cale memang suka mabuk, tapi dirinya hanya mabuk di kediamannya sendiri. Meski begitu, hanya orang terdekat dan kalangan crazy rich saja yang tahu kebiasaan minum Cale.
"Aku tidak merasa harus untuk merahasiakannya." Cale masih memalingkan pandangannya. Tidak ingin melihat wajah Jinwoo.
"Sungguh? Baiklah kalau begitu."
Keheningan pun mulai menyelinap. Jinwoo dan Cale tidak mengucapkan sepatah kata apa pun lagi.
Cale pikir Jinwoo sudah menyerah untuk memintanya menjadi ketua blok, tapi sayangnya tidak.
"Apa yang ada di dalam kotak ini alkohol?" tanya Jinwoo sembari menunjuk box yang ada di atas meja. Cale hampir saja melupakannya.
"Aku akan mengizinkanmu mabuk di sini kalau memang itu yang kamu mau."
Cale tercekat. Apa yang dikatakan Jinwoo tidak masuk akal. Entah apa rumor yang beredar kalau Cale mabuk di kantornya.
Ah, tunggu. Ini terdengar menarik. Haruskah Cale mencobanya?
BERSAMBUNG
__ADS_1