The Hottest Family

The Hottest Family
007


__ADS_3

"Kau tidak boleh kasar padaku," ujar Cale sambil menatap Jinwoo dengan lekat. "Itu yang pertama."


"Lalu?"


"Kedua, kau harus bisa menjamin keselamatanku dan orang-orangku."


"Tidak masalah. Terus?"


Cale tersenyum. "Satu lagi akan aku beritahu nanti."


"Huh?"


Cale menghela napas. "Aku mengantuk. Aku ingin pulang sekarang."


"Kamu engga mau ngeberesin apa yang kamu minta? Kenapa satu lagi harus ditunda?"


"Tadinya aku ingin kau berhenti menyebutku dengan sebutan aku-kamu, tapi setelah kupikir itu tidak terlalu penting. Orang sepertimu tetap akan menjadi seseorang yang menyebalkan," jelas Cale yang seketika saja membuat Jinwoo tertawa.


"Baiklah, maafkan aku. Akan aku antar pulang sekarang." Jinwoo bangkit dari lalu berjalan ke arah lemari. Mengambil sebuah helm lalu melemparkannya pada Cale.


"...." Cale menatap sebuah helm berwarna kuning polos bentuk bundar. Sudah dapat ditebak kalau Jinwoo akan mengantarkannya pulang dengan motor.


"Ada apa? Mau pakai helm yang ini?" tanya Jinwoo sambil mengangkat helm berwarna hijau polos yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kalau aku pakai itu nanti aku disangka tukang ojek online," ujar Cale setengah tertawa.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu," ujar Jinwoo sambil memakai helm. Dia kemudian berjalan ke arah Cale.


"Itu berarti kadar fashionmu buruk," sindir Cale.


"Katanya mau pulang? Kenapa mengoceh terus?" Jinwoo mengambil helm di tangan Cale lalu memakaikannya ke kepala Cale.


"Kau ini aneh atau bodoh?" tanya Cale sinis. Tentu saja perkataannya ini membuat Jinwoo mengerutkan keningnya bingung.


"Salahku apa lagi?"


"Banyak," jawab Cale sambil melangkah pergi mendahului Jinwoo menuju pintu. Sebenarnya Cale ingin memarahi Jinwoo kalau mereka tidak seharusnya memakai helm di ruangan, mereka bisa memakainya nanti di luar kantor saat benar-benar akan naik ke motor.


"Huh? Ice cream apa katamu?" Cale menghentikan langkahnya.


"Aku tahu tempat ice cream yang enak di blok D. Kita bisa mampir ke sana dulu kalau kamu mau."


"Terserah kau saja." Cale berpura-pura tidak tertarik. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya, tapi tidak lama kemudian kembali terhenti.


"Eh?!"


"Kenapa lagi? Kamu mau aku gendong?" tanya Jinwoo yang sudah ada satu langkah di belakang Cale.

__ADS_1


"Aku lupa membangunkan naga kecil," ujar Cale sambil berbalik badan. Niatnya ingin kembali ke ruangan Jinwoo, tapi gagal. Jinwoo malah mengangkat Cale dan memangkunya di pundaknya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Cale kaget bukan main.


"Lupakan saja Raon, nanti Beru pasti akan mengantarnya pulang," jawab Jinwoo sambil melangkah menuruni anak tangga.


Pipi Cale bersemu merah. Dia mana pernah terpikirkan akan digendong seperti ini. Seperti anak kecil. Semua ini terjadi karena Jinwoo kuat, Cale hanya bisa pasrah dan berpura-pura mengabaikan tatapan sang resepsionis saat mereka berdua sampai di lantai 1.


"Selamat jalan Pak Jinwoo." Sang resepsionis memberikan salamnya pada Jinwoo.


"Ya, terima kasih," jawab Jinwoo sambil tersenyum. "Aku akan mengantar Tuan Cale pergi, kalau ada yang mencarinya suruh pulang saja."


"Baik, Pak." Angguk sang resepsionis.


Cale diam. Dia menutupi mukanya dengan tangan kirinya. Entah bagaimana, tapi Cale merasa malu dan senang secara bersamaan. Sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.


"Kau bisa turunkan aku sekarang," ujar Cale pelan.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya balik Jinwoo.


"Dasar gila."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2