
Yoo Jae-Ha. Bila namanya disingkat akan jadi YJH. Tidak ada bedanya dengan singkatan Yoo Joong-Hyuk. Apakah ini sebuah kebetulan atau hidup sedang mengajak Dokja untuk bercanda? Dokja sama sekali tidak ingin memikirkannya, tapi kenyataannya tetap saja terpikirkan.
Dokja menghela napas lalu berjalan menghampiri Jaeha yang baru saja selesai memperbaiki kran air. Meski Jaeha terlihat seperti seorang amatiran, tapi apa yang dia kerjakan benar-benar rapih dan profesional.
Don't judge the book by its cover. Mungkin itulah pribahasa yang cocok untuk menggambarkan seorang Jaeha.
"Sudah selesai?" tanya Dokja berbasa-basi.
Jaeha melirik sambil menutup kran air. "Ya."
"Hebat sekali." Dokja tersenyum.
Bukannya membalas senyum, Jaeha malah menghela napas dan menatap Dokja dengan sedikit sinis. Aura yang dipancarkannya jauh lebih mengintimidasi daripada sebelumnya.
"Lu kenapa natap gue kayak gitu?" protes Dokja.
"Kita sedang tidak ada di Jakarta. Dan aku tidak ingin memakai kata sapaan gue-elu pada orang yang tidak sepadan denganku," jawab Jaeha yang seketika saja membuat Dokja terhenyak.
"Emangnya lu tahu apa soal sepadan? Lu nggak ngaca diri apa?" tanya Dokja dengan nada suara meninggi. "Jangan buat gue emosi."
__ADS_1
Jaeha menghela napasnya. "Jangan buat gue emosi." Jaeha meniru gaya bicara Dokja.
"Tuan Dokja yang terhormat, lebih baik kau tanggalkan saja sikap aroganmu itu. Di komplek emas ini banyak orang baik yang akan canggung bila kau memakai gaya bahasa seperti itu," terang Jaeha dengan santainya. Baginya meladeni Jooheon jauh lebih menantang ketimbang meladeni Dokja yang menurutnya bagikan seekor kucing yang basah kuyup.
"Maksud lu apaan?" Dokja menarik kerah baju Jaeha dan menatap matanya dengan tatapan nyalang. Dokja sangat membenci orang yang suka ikut campur dengan kehidupan orang lain, terlebih pada orang yang baru ditemui seperti Jaeha.
"..." Jaeha hanya diam. Menatap Dokja dengan tatapan iba. Tentu saja Dokja menyadarinya, hal ini membuatnya tersinggung, tapi Dokja pun menyadari kalau kehidupannya itu memang menyedihkan.
Jaeha kembali menghela napas. "Kau tahu, author yang nulis fanfic ini tidak pandai menulis cerita angst atau yang bernuansa sedih. Jadi, cobalah untuk membahagiakan diri. Entah itu denganku atau dengan semua pria tampan yang ada di komplek emas ini."
Mendengarnya, seketika saja membuat Dokja tertawa ringan. Seringan angin yang tidak bisa memindahkan batu. Dia pun melepaskan tangannya dari Jaeha.
"..."
"Tapi aku lapar, boleh aku minta waktu untuk istirahat?" tanya Jaeha jujur. Setelah pulang dari kantor, dirinya langsung pergi ke kediaman Dokja, jadi Jaeha tidak memiliki waktu untuk makan meski itu hanya sesuap bakpau.
"Haha." Kali ini Dokja tertawa lebih rileks daripada sebelumnya.
"Aku serius."
__ADS_1
"Haha.. Maafkan aku. Ayo kita pergi cari makan," kata Dokja yang diakhiri dengan sebuah senyuman.
Melihat Dokja tersenyum membuat Jaeha sedikit terkesiap. Dia tidak menyangka kalau Dokja akan langsung mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Syukurlah kalau begitu," lirih Jaeha pelan. Hampir tidak bisa didengar oleh Dokja.
"Tadi kau bilang apa?" tanya Dokja penasaran.
"Aku tidak punya uang. Aku harap kau mau membelikan makanan untukku. Tidak perlu steak, pizza saja cukup," ujar Jaeha yang seketika saja membuat Dokja kembali tertawa.
"Haah? Apa kau tidak malu mengatakannya?"
"Oh baiklah, kau bisa membelikanku apa pun. Aku akan menerimanya dengan senang hati."
Dokja menghembuskan napasnya pelan. "Kalau begitu ikuti aku, ada tempat yang ingin aku datangi."
"Oh, oke."
BERSAMBUNG
__ADS_1