
"Kayaknya ada lagi yang dateng deh." Jinwoo melihat sebuah mobil keluaran Jerman yang baru saja masuk melewati gerbang.
Mobil itu berjalan pelan dan berhenti tepat di depan teras kantor. Saat pintu terbuka, seorang anak remaja laki-laki dengan rambut berwarna merah keluar dari mobil. Dia meloncat cepat ke teras supaya tidak terlalu banyak terkena air hujan.
Kaca spion mobil terbuka menurun, terlihat seorang perempuan berambut abu. "Art, kabari aja kalau udah beres."
"Makasih Tess, tapi tidak usah," tolak Arthur dengan nada suara ramah.
"Kenapa tidak mau? Enak kan bisa berhemaaat." Tessia menggembungkan pipinya.
Arthur tertawa ringan. "Tidak apa, sekalian olahraga malam."
"Hah? Kau pikir hujan ini bakalan berhenti malam ini?" Tessia mengerutkan keningnya tidak setuju.
"Sudah, kau pulang saja. Kasian kakekmu itu, dia pasti ingin istirahat," ujar Arthur sambil menunjuk Virion yang ada di kursi kemudi.
Tessia menghela napas, "baiklah. Jangan terlalu larut."
"Ya, sampai jumpa lagi." Arthur melambaikan tangannya. Mobil yang dinaiki Tessia pun kembali melaju perlahan.
"Dah." Tessia melambaikan tangannya sebelum kaca mobil naik.
"...." Jinwoo terdiam, begitu pula dengan Cale dan yang lainnya.
"Emm, hallo," sapa Arthur ramah untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kau pasti Arthur Leywin, kan?" tanya Jinwoo menyapa balik dengan ramah.
"Iya, ini sama Bapak Jinwoo, ya?"
"Panggil abang aja." Jinwoo tersenyum sambil menepuk pelan pundak Arthur.
"Okay." Arthur mengangguk setuju.
Tidak berselang lama sebuah motor gede berwarna biru dongker masuk melewati gerbang. Meski hujan masih mengguyur, tapi dia tidak mengalami kesulitan sama sekali saat memarkirkan motornya.
Laki-laki yang masih berbalut jas hujan itu turun dari motor lalu berjalan cepat menuju teras.
"Selamat datang," sapa Jinwoo ramah.
Laki-laki itu mengangguk sebelum kemudian melepaskan helm dan jas hujan yang dikenakannya.
"Enggak kok, kamu nggak telat." Jinwoo membalas uluran tangan Yeonwoo.
"Daripada nunggu di sini, mending kita ke atas, yuk." Cale menunjuk ke tangga yang ada di pojok samping kanan.
"Ah, benar. Yuk ke atas." Jinwoo mengangguk setuju.
"Aku boleh ikut?" tanya Yerim antusias.
"Nggak, kau di sini saja," jawab Cale dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Yahh." Yerim kecewa.
"Yerim, kau tunggu di sini bareng Yuhyun, ya. Jangan berantem." Yujin mewanti-wanti Yerim dan Yuhyun.
"Iyaa," jawab Yerim malas.
"Kak, apa kamu tidak akan apa-apa?" tanya Yuhyun dengan nada suara khawatir.
"Kau pikir ketua komplek hantu? Tenang saja, aku baik-baik saja." Yujin menepuk dadanya dengan penuh percaya diri. Dia sedikit kesal karena adiknya Han Yuhyun terlalu mencemaskannya meski hanya untuk hal sepele.
"Langsung panggil aku kalau ada apa-apa." Yuhyun menatap Yujin dengan lekat.
"Iya-iya." Yujin hanya bisa mengangguk meski sebenarnya sangat ingin menjitak Yuhyun.
Cale sudah berjalan muju anak tangga bersama Arthur dan Yeonwoo. Yujin pun menyusul, tapi langkah kakinya terhenti saat melirik pada Jinwoo.
"Pak Jinwoo, kau tidak naik?" tanya Yujin memastikan.
"Panggil abang aja," jawab Jinwoo. "Ada orang lain yang dateng."
"Oke bang." Yujin mengangkat ibu jarinya. "Duluan ke atas kalau gitu."
Jinwoo mengangguk sambil tersenyum. Yuhyun dan Yerim memutuskan duduk di kursi tunggu yang ada di samping dispenser air minum.
Jinwoo menatap lurus ke arah gerbang. Tepat pada sebuah mobil sedan berwarna hitam.
__ADS_1
BERSAMBUNG