The Hottest Family

The Hottest Family
031


__ADS_3

"Apa kita terlambat?" tanya Black Dragon Witch. Dia memberi isyarat untuk melihat ke depan. Tepat pada tiga pemuda yang tengah berdiri di teras kantor sambil menatap mereka berdua dengan lekat.


"Mungkin," jawab Gongja ragu.


"Kalau begitu ayo cepat ke sana."


Gongja mengangguk. Mereka pun mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya sampai di teras dan mendapat sambutan hangat dari Jinwoo dan Joheon. Dokja hanya tersenyum ramah


"Nona, bajunya engga basah kan?" tanya Joheon.


"Cuman dikit aja kayaknya," jawab Black Dragon pelan tanpa ada senyum sedikit pun. Gongja masih sibuk melipat payung yang besinya patah satu karena sempat tertiup angin kencang.


"Ayo sini duduk," ucap Jinwoo dengan nada suara ramah sembari menunjuk kursi tunggu yang tidak berada jauh dari Yerim dan Yuhyun.


"Oh, iya." Black Dragon mengangguk ringan.


"Hilih, gatel semua," sindir Dokja sambil menatap datar Jinwoo dan Joheon.


"Sepertinya aku pernah melihatmu," ucap Gongja tiba-tiba. "Tapi di mana ya? Hmmm."


"Oh, hay. Tamu undangan juga?" Dokja mengalihkan pembicaraan. Terlalu norak baginya kalau menyombongkan diri sebagai artis pemain film.


"Iya. Kau juga sama kah? Udah lama?"


"Baru nyampe kok." Dokja tersenyum.

__ADS_1


"Woi, ayo ke atas!" seru Joheon pada Dokja dan Gongja. Jinwoo hanya memberi isyarat tangan untuk mengikutinya.


"Iyaaaa," sahut Dokja yang masih kesal pada Joheon.


"Bentar." Gongja mendekat pada Black Dragon yang sudah duduk di kursi. Tepat di samping Yerim.


"Aku pergi duluan, ya. Kau tidak apa menunggu di sini?" tanya Gongja sambil menatap Black Dragon.


"Tidak masalah, pergilah." Black Dragon tersenyum ramah.


"Yoo." Gongja pun berlalu pergi menyusul Dokja dan yang lainnya menaiki anak tangga.


Setelah kepergian Gongja, suasana pun menjadi sepi. Hanya suara derai hujan saja yang terdengar mengisi keheningan.


"Ah, sial. Batrenya habis." Black Dragon menghela napas memandangi ponselnya. Perempuan berambut ungu asal Ukraina itu lupa tidak membawa powerbank dan batre ponselnya habis karena dipake mencari-cari alamat kantor bersama Gongja.


"Oh, iya. Ada liat terminal kosong kah?" Black Dragon menanggapi Yerim dengan ramah. Mau bagaimana pun dia memang suka dengan anak kecil.


"Bukannya terminal ada di sana ya?" Yerim menunjuk ke arah utara.


"Eh, bu-bukan itu." Black Dragon menggeleng.


"Dasar bodoh. Itu terminal angkot. Dia nanyanya tempat buat ngecas. Masa gitu aja nggak tahu?" sindir Yuhyun dengan nada suara jutek.


"Apa kau bilang?!" Yerim menatap Yuhyun kesal.

__ADS_1


"Bodoh." Yuhyun memutar matanya tidak peduli.


"Ka-" perkataan Yerim terpotong oleh Black Dragon.


"Kau itu sudah dewasa. Seharusnya bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak," ujar Black Dragon pada Yuhyun. Nada suaranya terdengar marah.


"Haaaaaaaah?!" Yuhyun melirik pada Black Dragon dengan tatapan aneh.


"Kakak, dia jahat. Dia kalau dirumah sering banget maki-maki aku dan ngelarang aku main sama waliku." Yerim mengadu pada Black Dragon. Yuhyun bahkan dapat melihat Yerim menjulurkan lidahnya tanda mengejek.


"Apa?!" Black Dragon terlihat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Yerim.


"Kau itu memang tidak punya hati, ya?!" Black Dragon menatap Yuhyun penuh amarah. Jauh lebih marah dari sebelumnya.


"Kau mau percaya begitu saja dengan cecunguk ini? Yang benar saja." Nada suara Yuhyun meninggi.


"Huaaaa. Aku dipanggil cecunguk. Padahal aku paling takut sama itu." Yerim pura-pura menangis.


"... Kau sepertinya memang harus diberi pelajaran rupanya." Black Dragon menatap Yuhyun setajam pisau.


"Dasar bocah kurang ajar," geram Yuhyun.


"Apa? Kau berani mengancam anak tak berdosa seperti ini?!"


Dan cekcok pun kembali berlanjut. Yerim berusaha menahan tawanya. Keinginannya untuk balas dendam pada Yuhyun akhirnya terkabul juga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2