
"Kok baru nyampe? Dari mana aja?" tanya Cale sambil memandang Jinwoo dengan mata yang memicing. Seolah-olah marah padahal dirinya sendiri baru sampai lima menit yang lalu.
"Iya maaf, kirain tukang cilok yang di pengkolan," jawab Jinwoo yang baru turun dari motornya. Dia mengelus belakang lehernya sambil tersenyum kaku.
"Ohh," jawab Cale.
"..." Jinwoo tidak berkata apa pun. Dia hanya menatap Cale dengan lekat. Sedikit terpikirkan dengan apa yang dikatakan oleh Cale di telepon. Meski sebenarnya dia sendiri sudah hampir lupa dengan segala hal absurd yang dikatakan oleh Cale.
"Kenapa? Kau tidak mau pergi? Aku sudah siap dibawa ke mana pun olehmu," ujar Cale dengan nada dingin seperti biasanya.
Jinwoo menghela napas lalu berkata, "Mau beli ice cream mochi engga?"
"Haaah?" Cale mengerutkan keningnya. "Ice cream mulu."
"Terus maunya apa?"
"Jajan," jawab Cale singkat.
"Jajan apaan? Jangan yang aneh-aneh."
"Terserah yang penting jangan mie," jawab Cale yang masih kesal dengan sarapannya tadi. Ya, sarapan spesial buatan Alberu.
Jinwoo berdehem. Memikirkan jawaban yang pas untuk sang Tuan Muda Cale.
"Hey." Jemari tangan Cale meraih ujung baju kemeja hitam Jinwoo.
"Iya?"
"..." Cale terdiam beberapa saat.
"Kenapa?" Jinwoo kebingungan dengan apa yang akan dikatakan oleh Cale.
"Kamu bakalan nyari orang lain juga kan?" tanya Cale sambil mengangkat kepalanya. Mau bagaimana lagi, Jinwoo lebih tinggi dari Cale.
"Aku emang ada niat nyari ketua blok yang lain. Dari blok A sampai blok H. Emangnya kenapa?" tanya balik Jinwoo.
"Aku hanya... Kau tahu, setiap orang itu tidak ada yang mau sendirian." Cale berkata sekenanya.
__ADS_1
"Hah?" Jinwoo terkekeh ringan melihat ekspresi Cale. "Ada apa? Takut ditinggal sendirian di kantor?"
Mendengarnya, seketika saja Cale membuang muka. Dia tidak ingin mengakui kalau apa yang dikatakan oleh Jinwoo adalah benar.
"Tenang aja, nanti kamu bakalan aku bawa juga kok." Jinwoo mengelus lembut rambut merah Cale. Berusaha untuk membuat Cale merasa lebih rileks dan nyaman.
"...." Cale menyimak, tapi tidak menanggapi.
"Inginnya aku memelukmu hingga kalap, tapi akan lebih baik kalau kita pergi ke kantor sekarang. Ada banyak hal yang harus kita lakukan." Jinwoo tersenyum.
Cale menggigit bibir bawah bagian dalam. Dia kemudian memakai helm yang diberikan oleh Jinwoo padanya.
Setelah memanaskan motor, Jinwoo pun melajukan motornya dengan kecepatan standar. Tidak cepat, tapi juga tidak lambat.
"Hey..." Lirih Cale sambil menyilangkan kedua tangannya di depan perut Jinwoo.
"Huh?" Jinwoo merasa aneh dengan pelukan yang diberikan Cale dari belakang. "Aku nggak bakalan ngebut, tenang aja."
Cale mendecih. "Bukan begitu bodoh. Authornya lagi pengen dipeluk makanya nasib gue jadi begini."
"Lu nggak nyaman?" tanya Cale memastikan.
"Biasa aja sih. Lagian udah biasa juga sama Haein."
"Anjing lu."
"Heh, nggak boleh ngomong kasar. Nanti gantengnya luntur."
Cale berdehem. "Peduli amat."
"Aku emang peduli." Perkataan Jinwoo membuat Cale terperangah sedikit kesal.
"Kalau suatu hari nanti kamu ngerasa sedih, kesepian, dan terluka... Jangan ragu untuk datang padaku."
"Kenapa harus ke elu?"
"Ya... Enggak harus ke aku juga. Cuman ya, kamu pun harus tahu kalau aku ada di sini. Senantiasa membukakan tangannya untukmu berkeluh kesah."
__ADS_1
"Kayaknya lu salah orang deh. Gue nggak butuh ditemenin. Apa yang gue mau cuman duit."
"Kamu pikir begitu, ya?"
"Ya. Kau cukup beri aku uang dan aku pasti senang."
Jinwoo tertawa mendengar jawaban Cale. "Kamu memang tidak berguna."
"Diem lu." Cale yang kesal langsung mencubit perut Jinwoo sekuat yang dia bisa.
"Heh. Ini masih di jalan. Kamu pengen kita jatuh dari motor?" Jinwoo menggeram kesal.
"Rasain."
"Astaghfirullah... Kamu ini ada-ada aja." Jinwoo sedikit tertawa ringan sebelum kemudian mengemudikan motornya lebih cepat menuju ke kantor.
"Oiya satu hal lagi."
"Nggak kedengeran."
"Jangan bohong."
"Iya-iya. Apa?"
"Kalau misalnya nanti ada orang lain yang lebih berguna dan lebih butuh perhatian. Apa kamu bakalan ngecuekin aku?"
"Kenapa emang?"
"Cuman nanya aja sih."
"Kamu butuh pengakuan? Aku kira kamu lebih suka dilayani."
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?"
"Rahasia."
BERSAMBUNG
__ADS_1