The Hottest Family

The Hottest Family
009 – What A Coincidence


__ADS_3

"Atmosfer macam apa ini? Gue blank. Nggak tahu apa yang mesti gue tulis." Jooheon mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.


"Lu nulis apaan? Novel? Bukannya novel lu yang kemarin aja nggak laku ya?" sindir Jaeha yang membuat Jooheon semakin kesal.


"Jangan sembarangan. Novel gue itu best seller. Lu tahu sendiri kan semua barang antik yang ada di sini bisa gue dapetin karena nulis novel yang kemarin," balas Jooheon tidak ingin kalah dari bawahannya sendiri. Sang budak no 1 Yoo Jaeha.


"Best seller apaan kalau yang baca cuman dedemit," tandas Jaeha tanpa ragu sedikit pun.


"Setan lu jadi karyawan." Jooheon menatap sinis Jaeha. Apa yang dikatakan Jaeha tidaklah salah, hanya para dedemit yang menyukai novel Jooheon sejak dirinya mendirikan channel pemburu hantu diluar bisnis reparasi dan obat-obatan miliknya.


"Ah, sebentar lagi pulang." Jaeha menatap jarum jam di dinding menunjukkan pukul 16.30 sore. Itu artinya tinggal setengah jam sebelum waktunya pulang. Dirinya sudah tidak sabar untuk pulang dan terbebas dari wajah atasannya yang memuakkan.


"Awas aja lu Jaeha, kalau ada panggilan reparasi bakalan gue bebanin ke elu." Jooheon masih belum bisa memaafkan perkataan Jaeha.


"Orang kurang ajar macam apa yang memanggil tukang reparasi jelang jam tutup kantor?" tanya Jaeha dengan sedikit tertawa merendahkan.


Tiba-tiba saja terdengar sebuah telepon berdering dari ruangan lain. Sontak saja Jooheon dan Jaeha kaget, tapi tentu saja beda ekspresi. Mereka berdua dengan cepat pergi ke ruang sebelah dan mendapati Irene sedang mengangkat telepon.


"Customer baru?" tanya Jooheon dengan mata berbinar penuh antusias.


"Nggak mungkin. Salah sambung kali." Jaeha was-was. Dia tidak ingin benar-benar ditugaskan saat ini juga. Jaeha tahu jelas kalau atasan kurang ajarnya ini tidak akan mau membayar jam lemburnya.


"Heon, ada yang butuh reparasi kulkas dan kran air di blok D. Dia juga minta bantuan untuk bersih-bersih. Aku sudah mengatakan kalau kita akan mengurusnya besok," ujar Irene setelah mematikan telponnya.


"Yess!" Jaeha bersorak senang. Ingin sekali dirinya berkata I Love You 3000 Irene-Chan, tapi itu hanya akan membuatnya sial karena Irene adalah kekasih Jooheon.


"Tidak. Telepon lagi orangnya," ujar Jooheon mematahkan semangat Jaeha.


"Serius?" Irene setengah kaget dengan permintaan Jooheon.


"Ya, katakan padanya kalau kita akan mereparasinya hari ini sampai tuntas meski itu tengah malam sekali pun." Joohen penuh ambisi ingin menyiksa Jaeha.


"Wadahel?!" Jaeha tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Baiklah, aku juga akan meminta alamat rumahnya." Irene tersenyum.


"Irene-chan. Jangaaaan." Jaeha memelas, tapi itu tetaplah tidak ada gunanya. Irene sudah menelepon sang customer dan menuliskan alamat rumahnya di secarik kertas.

__ADS_1


"Sial." Kali ini Jaeha yang mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia tidak ingin bekerja diluar jam kerja.


"Oh ya satu hal lagi." Jooheon menaruh beberapa buku bersegel plastik di depan Jaeha. Tentu saja itu adalah novelnya sendiri yang terdiri dari 5 volume.


"Kalau lu nggak bisa ngejual semua ini, gaji lu gue potong 90% selama setahun!" seru Jooheon yang terasa bagaikan sebilah pisau yang menikam jantung Jaeha.


"YANG BENAR SAJA?!!!" Jaeha terbelalak tidak percaya.


**


Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah di Blok D.


"Syukur deh mereka mau datang," ucap Dokja sambil bernapas lega. Sejak membeli rumah di komplek emas, Dokja sama sekali tidak pernah mengunjunginya, jadi tidak mengherankan bila banyak perabotan dan fasilitas yang rusak karena tidak terawat.


Dokja tahu kalau hari sudah sore, tapi dirinya tidak punya pilihan lain karena dia tidak mungkin bisa membersihkan rumah besar berlantai 2 seorang diri. Bisa dibilang nyaris mustahil akan selesai sebelum malam.


"Kayaknya gue harus ganti nomor," ujar Dokja yang melihat setumpuk pesan dan juga panggilan masuk dari rekan-rekannya. Termasuk pesan makian dari Yoo Joonghyuk karena tiba-tiba memutuskan berhenti.


"Apa salah kalau gue juga kepengen bahagia?" Dokja menghela napas sambil mematikan layar ponselnya dan berjongkok di depan pot bunga. Menatap sebuah kumbang yang tengah berjalan di daun.


DRRRT


Siapa ini? Apa ini Yoo Joonghyuk? Dokja bertanya-tanya, tapi kemudian dia memilih untuk menolak panggilan masuk. Dia masih butuh waktu untuk sendiri.


"Sialan! Nggak diangkat!" Terdengar sebuah suara makian yang berasal dari balik gerbang. Sontak saja membuat Dokja tercekat.


Jangan bilang tadi itu yang telepon tukang reparasi? Gawat. Dokja kaget. Dia pun langsung melesat menuju gerbang dan membukanya sedikit.


"Maafkan saya," ucap Dokja setelah membuka gerbang.


"Huh?" Dokja setengah kaget saat melihat seorang laki-laki muda berwajah bersih di hadapannya.


"Saya dari Kantor Segala Bisa Jooheon. Datang untuk mereparasi," ucap Jaeha seramah yang dia bisa.


...


...

__ADS_1


"Sendiri?" Dokja tidak menyangka kalau yang akan datang hanya satu orang dan itu pun bukan bapak-bapak berkumis tipis.


"Ya." Jaeha mengangguk. Ingin sekali dirinya memaki, tapi dia tahan dengan sepenuh hati.


"Ini kartu nama saya. Bapak bisa menyimpannya." Jaeha menyodorkan sebuah kartu pengenal pada Dokja.


"...." Dokja terdiam melihat kartu pengenal Jaeha. Dia tidak menyangka kalau usianya lebih muda 2 tahun darinya.


"Kayaknya engga usah pake bahasa formal. Usia lu juga ternyata lebih muda dari gue," ucap Dokja sambil menyimpan kartu pengenal Jaeha ke saku celananya.


"Panggil gue abang." Dokja tersenyum pada Jaeha.


"...." Jaeha terdiam. Selain kaget dengan perkataan Dokja, tapi dia juga merasa tidak asing dengan wajah Dokja. Mirip seperti seorang artis yang penah dia lihat memerankan karakter utama di film Penumpang Kereta.


"Ada apa?" tanya Dokja yang merasa sedikit aneh dengan sikap Jaeha.


"Uhm..." Jaeha mengelus belakang lehernya yang tidak gatal. Sedikit enggan untuk memanggil orang yang ada di hadapannya dengan sebutan abang. Jaeha merasa absurd.


"Mau tanya apa?" tanya Dokja ramah.


"Oh iya, masuklah." Dokja melambaikan tangan kanannya. Memberi isyarat agar Jaeha mau mengikutinya masuk ke rumah.


"Tunggu." Tanpa disangka, Jaeha malah menyambar tangan kanan Dokja. Tentu saja hal ini membuat Dokja kaget.


"Wajah lu... eh, wajah a-a-bang mirip Dokja. Pemain film Penumpang Kereta," ucap Jaeha sedikit malu. Kalau ini benar tentunya Jaeha senang karena bisa bertemu dengan artis, tapi kalau salah sudah pasti malu.


"Ya, lu nggak salah kok," jawab Dokja yang membuat Jaeha mengangkat kepalanya dan menatap Dokja dengan tatapan tidak percaya.


"Nama gue Kim Dokja. Salam kenal ya, Yoo Jaeha." Dokja tersenyum sangat ramah.


"..." Jaeha tidak tahu apa yang harus dia katakan. Jantungnya tiba-tiba berdebar karena rasa senang yang membuncah. Ternyata kesialannya tidaklah buruk. Bila bisa, Jaeha bahkan ingin memberikan sekaleng kopi untuk Jooheon si atasan terkutuknya.


"Maaf ya bakalan repot, tapi gue nggak ada pilihan lagi. Gue nggak bisa ngeberesin semuanya sendiri," ucap Dokja yang menyadarkan Jaeha tentang pekerjaannya.


"Ah ya, tidak masalah." Jaeha menarik tangannya dengan sedikit gelagapan. Dia tidak menyangka akan serefleks itu meraih tangan Dokja.


Jaeha menatap punggung Dokja yang perlahan menjauh menuju rumah. Batinnya pun bergemuruh. Ternyata Dokja lebih tampan daripada yang di film. Seandainya saja dia mau jadi model lukisan gue.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2