
“Kau terlambat,” ujar Cale dengan mata yang memicing. Semua orang yang ada di ruangan juga memandang ke arah pintu. Pada keempat orang yang baru saja masuk.
“Senyum dong. Kan sekarang udah lengkap semua,” jawab Jinwoo sambil berjalan ke arah Cale.
“Hmmm.” Cale hanya berdehem menanggapi Jinwoo.
“Lu nggak ada kursi lagi?” tanya Joheon saat melihat sofa yang sudah terisi oleh Yujin, Yeonwoo, Arthur, dan Dokja.
“Nggak ada, udah lu duduk lesehan aja noh di lantai,” celetuk Dokja sambil tersenyum meledek.
“....” Joheon hanya diam menatap Dokja dengan 1001 kutukan yang tidak dikatakan.
“Ini ada kursi bekas hajatan tentangga sebelah, pake aja dulu.” Jinwoo membuka lemari dan mengeluarkan beberapa kursi.
“Oh, makasih.” Gongja menerima kursi dan memakainya tanpa banyak protes.
“Hah?” Urat kepala Joheon sedikit berkedut, tapi dia pun menerimanya juga. “Paling nggak nanti ini kursi bisa gue lemparin ke dia.”
“Woi.” Dokja mengerutkan kening saat mendapatkan tatapan Joheon padanya.
“Heh.” Cale mencubit pinggang Jinwoo hingga Jinwoo mengaduh.
“Ack.. Kenapa tiba-tiba?” tanya Jinwoo heran.
“Lu kenapa nggak bilang ada kursi hajatan?” Kekesalan tergambar jelas di wajah Cale.
__ADS_1
“Oh, maaf ya. Lupa.”
“Hih.” Kedua mata Cale terlihat sinis.
“Maaf, jangan marah. Aku bener-bener lupa.”
“Huh.” Cale memalingkan pandangannya.
“Seriusan. Kamu juga tahu sendiri kan kalau aku sibuk bikin bakwan sejak tadi.”
Cale menghela napas. “Terserahlah, tapi jangan diulang lagi.”
“Okay.” Jinwoo mengangguk.
“Ambilin kursi buat gue.”
“Kurang asem lu.”
“Bercanda.” Jinwoo terkekeh.
“Eh gue di sini kayaknya jadi pajangan doang deh,” ucap Arthur santai sambil mengambil bakwan yang ada di piring.
“Ya, sama.” Yeonwoo mengangguk.
“Kalian ini bicara apa? Kan yang penting hadirnya aja dulu,” respon Yujin sambil tersenyum riang. Dia kemudian melahap bakwan yang ada di tangannya. Dokja hanya mengangguk sambil mengunyah bakwan.
__ADS_1
“Eh gue juga mau dong.” Joheon langsung mengambil piring bakwan yang ada di meja.
“Kenapa lu ambil semua?” protes Dokja.
“Kan di sana masih ada satu piring lagi. Berbagi dong,” balas Joheon.
“Kita berempat dan lu makan sendiri, rakus lu,” cecar Dokja.
“Sok tahu. Gue nggak sendiri.” Joheon duduk di kursinya sambil menyodorkan piring bakwan pada Gongja.
“Nggak makasih, gue lagi diet,” respon Gongja.
“Hah?! Jangan ngadi-ngadi lu.” Joheon mengerutkan keningnya. Dokja yang melihat hanya bisa tertawa-tawa.
“Ssssttt.” Cale memberikan isyarat untuk diam.
“Oke gaiss, makannya santai aja ya. Kita serius, tapi santai aja.” Jinwoo tersenyum. Semua orang pun menoleh sambil menyimak.
“Mungkin kalian semua engga ngerti kenapa ada di sini. Gue pun sebenernya sama, tapi karena sudah terjadi ya nikmati saja.” Jinwoo mulai berceloteh.
“Hah?” Cale sedikit tidak senang dengan perkataan Jinwoo.
“Kalau gitu kita langsung perkenalan aja ya. Namaku Sung Jinwoo dari blok A. Seperti yang kalian tahu, aku ketua baru di komplek emas ini. Mulai sekarang kalian semua akan jadi kelua blok di masing-masing blok kalian. Mohon kerjasamanya."
"Haaaaaaah?!” Semua yang ada di ruangan selain Cale dan Jinwoo terperangah bukan main. Belum juga memperkenalkan diri sudah dijadikan ketua blok saja.
__ADS_1
SEASON 1 END
**