The Hottest Family

The Hottest Family
010 – [JinCal] See You In My Dream


__ADS_3

“Sampai jumpa lagi di mimpiku,” ujar Jinwoo sambil tersenyum.


“Kau pikir sekarang jam berapa? Maghrib juga belum,” jawab Cale sambil memberikan helm pada Jinwoo.


“Memangnya tidak boleh? Aku ingin jadi yang pertama mengatakannya padamu.” Jinwoo tersenyum sambil menerima helm dari Cale.


“Omong kosong.” Cale membuang mukanya. Sikapnya ini membuat Jinwoo terkekeh ringan.


“Siapa yang bilang kosong? Ada isinya kok.”


“Hah?!” Cale kembali menatap Jinwoo dengan tatapan aneh. “Kau bercanda?”


“Aku tidak bercanda.” Jinwoo masih tersenyum.


“Orang aneh sepertimu mana bisa aku percaya.” Cale bermuka datar menatap Jinwoo.


“Aku tidak aneh,” elak Jinwoo. “Aku hanya terlalu spesial untukmu.”


“Spesial? Memangnya martabak?”


“Yaudah, kalau aku martabak, kamu mau tambahin toping apa? Keju? Kacang? Atau telur?”


Mendengarkan celotehan Jinwoo membuat Cale menyunggingkan bibirnya lebih ke kiri 2cm. Bagaimana mungkin seorang ketua komplek bersikap seperti ini? Cale tidak habis pikir.


“Jadi kamu mau isi topingnya pake apa?” tanya Jinwoo lagi.


Cale menghela napas. “Pake cintamu bisa nggak?”


“Bisa banget. Mau berapa jam?” Jinwoo tersenyum lebih lebar.


“Huh?” Cale kehabisan kata-kata. Jinwoo selalu saja bisa menjawab perkataan Cale dengan segala keabsurdannya.

__ADS_1


“Mau aku gendong sampai ke kamar?” tanya Jinwoo menawari. Mendengarnya membuat Cale bagaikan tersetrum aliran listrik.


“Haaaaaaaaaaah?!” Cale melepas sepatu kanannya lalu mengangkatnya tinggi. Sudah siap untuk menimpuk Jinwoo dengan sepatunya.


“Eh, mau diapakan sepatunya?” tanya Jinwoo sedikit kaget.


“Sana gih pergi, kalau enggak ini sepatu bakalan ngelayang!” ancam Cale.


Bukannya takut, Jinwoo malah menghela napas. Dia kemudian turun dari motornya dan melangkah mendekati Cale. Tentu saja Cale melangkah mundur dengan perasaan was-was.


“Mau apa?!” Cale menatap Jinwoo dengan nyalang.


“Haha.” Jinwoo menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Tawanya terdengar cukup keras.


“Kenapa ketawa? Ngejek?” Cale mengerutkan keningnya tidak suka.


“Aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan semenarik ini. Ekspresi wajahmu itu sangat menggemaskan sekali, haha.” Jinwoo masih tertawa.


“....”


“Terserah kau sajalah.” Cale membuang muka. Dia sudah cukup kesal.


“Jangan begitu.” Jinwoo meraih tangan kanan Cale yang masih memegang sepatu.


“Mau apa?!”


“Jangan biarkan kakimu kotor.” Jinwoo mengambil sepatu Cale.


“Heh!”


“Biar kubantu pakai sepatu.” Jinwoo berjongkok lalu mengangkat kaki kanan Cale.

__ADS_1


“Anjir authornya kurang ajar, katanya bromance tapi rasa BL,” protes Cale.


“Kenapa? Kamu ingin dekat dengan laki-laki lain kah?” tanya Jinwoo sambil menatap Cale.


“Jangan aneh-aneh. Cepat pakaikan sepatuku!” seru Cale kesal.


Bukannya memakaikan sepatu ke kaki Cale, Jinwoo malah berhenti dan menatap Cale dengan tatapan dingin.


“Hah? Ada apa lagi denganmu? Bukannya kamu ya yang ingin memakaikanku sepatu?”


“Tapi sekarang moodku berubah. Aku harus bagaimana?” tanya Jinwoo dengan ekspresi yang terlihat bingung.


“Memangnya itu urusanku? Cepat kembalikan sepatuku!”


Jinwoo bangkit. “Kalau tidak mau bagaimana?”


“Hah?!” Cale setengah tidak percaya dengan perkataan Jinwoo.


Tidak berselang lama, Jinwoo tiba-tiba saja melemparkan sepatu Cale melewati gerbang rumah Cale.


SRASSH


Suara air terdengar. Bisa ditebak kalau Jinwoo melemparkan sepatu Cale tepat ke dalam kolam ikan.


“Kau?! Apa yang kau lakukan?!” Cale murka.


“Semenjak sepatumu tidak ada, aku akan antar sampai ke kamar,” ujar Jinwoo yang kemudian mengangkat Cale layaknya seorang suami yang mengangkat istrinya.


“Apa yang kau lakukan?!” Cale berontak tidak terima, tapi Jinwoo tidak peduli.


“Tenang saja, aku hanya akan melemparkanmu ke atas kasur,” ucap Jinwoo sambil tersenyum.

__ADS_1


“Astaghfirullah.”


BERSAMBUNG


__ADS_2