The Hottest Family

The Hottest Family
023 - Who Is He? (Jooheon Blok C)


__ADS_3

"Kuah soto-nya enak banget," ucap Dokja dengan mata yang berbinar.


"Syukurlah kalau suka." Jaeha tersenyum sebelum kemudian melanjutkan makannya. Bukannya tidak ingin membeli makanan yang lain, tapi Jaeha sengaja mencari yang tidak banyak pembelinya supaya tidak terlambat pergi ke kantornya.


"Kau sebenernya kerja apaan sih? Banyak banget barang-barang aneh di sini," ujar Dokja sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang biasa dipakai Jaeha bekerja.


"Kan sudah kubilang, reparasi."


"Reparasi barang antik juga? Kukira cuman reparasi kran air dan rumah aja." Dokja menatap Jaeha yang baru saja selesai menghabiskan soto miliknya.


"Bosku itu setan, jadi aku sudah terbiasa melakukan segala hal." Jaeha tersenyum bangga, tapi nyesek. "Sudahlah, habiskan makananmu."


Dokja mengangguk. Dia kemudian lekas menghabiskan makanan miliknya.


"Kayaknya di komplek A lagi hujan gede deh." Jaeha melihat ke luar jendela. Kedua tangannya sibuk membukakan tutup botol teh manis.


"Di sini cuman hujan gerimis aja ya."


"Mau tetep ke sana? Masih belum bener-bener pulih kan?" Jaeha menaruh botol teh manis ke samping mangkok soto Dokja.


"Entahlah." Dokja terlihat berpikir.


Tidak berselang lama, pintu pun terbuka cukup keras. Dokja bahkan sampai tersedak saat akan minum.


"Minumnya pelan-pelan," ucap Jaeha yang buru-buru menepuk punggung Dokja.

__ADS_1


"...." Joheon yang tadinya mau meneriakkan nama Jaeha jadi terdiam.


"Udah engga apa-apa kok," ujar Dokja setelah terbatuk beberapa kali. Jaeha bernapas lega mendengarnya.


"Siapa dia?" tanya Joheon pada Jaeha sambil menunjuk Dokja.


"Lu bisa nggak sih kalau dateng ketok pintu dulu?" protes Jaeha.


"Suka-suka gue lah, kan gue bos elu," balas Joheon dengan nada suara yang meninggi.


Jaeha menghela napas. "Iyadah, terserah lu. Mau ngapain lu ke sini? Nggak jadi pergi sama si Irene?"


"Jawab dulu dia siapa? Ngapain lu bawa orang luar ke kantor?"


"Cuman sekali aja. Lagian dia juga lagi sakit. Jadi gue engga tega kalau ninggalin dia sendirian." Jaeha berusaha memberikan penjelasan pada Joheon.


"Lu sih engga ngebiarin gue bersosialisasi. Sekali-kali gue juga boleh dong punya temen sendiri." Jaeha kembali protes.


"Tapi dia siapa dulu?" Joheon masih menunjuk-nunjuk Dokja dengan jari telunjuknya.


"Gue yang kemarin nelpon," sela Dokja yang sudah tidak tahan ingin bicara.


"Hah?" Tanda tanya bermunculan di kepala Joheon.


"Iya, dia yang waktu itu nelpon pas kita mau tutup," jelas Jaeha sedikit malas.

__ADS_1


"Ohh, ternyata elu orangnya." Sebuah senyuman licik kini terlukis di wajah Joheon.


"I-iya, hehe." Dokja tertawa sedikit canggung.


"Gue sendiri belum beres ngurusin rumah dia. Paling nanti sore gue lanjut. Lu ada apaan ke sini?" tanya Jaeha mengembalikan perhatian Joheon.


"Gue dapet chat dari ketua komplek," jawab Joheon yang seketika saja membuat Dokja dan Jaeha saling melirik.


"Apa isi chat-nya nyuruh buat datang sore ini?" tanya Dokja memastikan.


Joheon menangguk. "Ya, seperti itu. Lu kok tahu sih?"


"Gue juga dapet soalnya." Dokja mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan yang sebelumnya dia dapatkan.


"Isinya sama persis, nomornya juga." Joheon bolak-balik melihat layar ponsel Dokja dan ponsel miliknya.


"Gue kira ini penipuan, tapi sama kayak gini kayaknya bukan deh ya." Dokja mengajak berpikir.


"Kalau begitu ya, kita harus pergi sore ini. Mau bareng?" tanya Joheon.


"Kalau boleh." Dokja tersenyum mengiyakan.


"Yaudah, kenalin gue Joheon. Temen sekaligus atasan dia juga," ujar Joheon sambil menunjuk Jaeha dengan ibu jarinya.


"Gue Dokja. Salam kenal juga."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2