The Hottest Family

The Hottest Family
004 - Chilling In The Hurry


__ADS_3

Author note: Mari kita menjernihkan pikiran. Maaf update larut malam, seharian ini ada kesibukan yang cukup memakan waktu. Thank you! Selamat membaca^^


**


Apa hal yang paling membosankan di dunia ini selain menunggu? Meski kursi kemudi yang ada di dalam porsche biru itu sangat nyaman, tapi tetap saja Choi Han gelisah. Dia jengah bila harus terus duduk diam tanpa melakukan apa pun.


Ada kalanya Choi Han mengecek ponsel dan sosial media miliknya, tapi sayangnya tidak ada notifikasi apa pun yang bisa membuatnya senang. Saat menggulir beranda sosial media pun dirinya tidak mendapatkan konten yang bisa membuatnya terhanyut dalam dunia virtual.


Apakah ini kesalahan Choi Han karena terus menjomblo?


Choi Han tidak mau menerima justifikasi seperti itu. Dia memiliki prinsip kalau waktunya akan jauh lebih bagus untuk dipakai bekerja di bawah perintah Cale dan keluarga Henituse ketimbang hanya sekedar bercumbu dengan anak orang lain.


"Apa masih lama?" Choi Han melirik ke arah gedung kantor Jinwoo. Tidak terlihat ada tanda-tanda kalau Cale akan pulang cepat.


Choi Han menghela napasnya. Rasa lapar yang tiba-tiba menjalar di perutnya membuat Choi berpikir sejenak. Sepertinya tidak akan jadi masalah kalau dirinya pergi sebentar untuk mencari makan. Choi Han juga bisa sekalian membelikan makanan untuk Cale.


Tidak menunggu waktu lama, Choi Han pun mulai menyalakan mesin. Penjaga gerbang yang melihatnya langsung berinisiatif membukakan pintu gerbang.


"Terima kasih," ujar Choi Han begitu dirinya melewati gerbang bersama porsche biru kesayangan Cale. Meski pun disebut kesayangan, tapi Cale tidak pernah memakainya seorang diri, selalu saja Choi Han yang ada di kursi kemudi.


Choi Han mulanya berniat untuk pergi ke minimarket terdekat, tapi dia memutar kemudi setelah tahu ada perbaikan jalan.


Kenapa tiba-tiba ada perbaikan jalan? Choi Han merasa aneh, tapi dirinya tidak ingin memikirkannya. Saat ini Choi Han hanya ingin mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya yang meronta-ronta sedari tadi.


Setelah sekian lama berkeliling, Choi Han pun sampai di parkiran supermarket. Dia mulai merapihkan kemeja yang dipakainya begitu keluar dari mobil.


Belum juga Choi Han menutup pintu mobil, terdengar derap langkah kaki yang semakin keras.


"Permisi." Seseorang tiba-tiba saja melewati Choi Han dan langsung masuk ke dalam mobil. Sontak saja Choi Han kaget lalu menarik bagian belakang kerah baju seorang laki-laki yang memakai anting hitam di kedua telinganya.


"Siapa kau? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Choi Han dengan tatapan nyalang.


"Namaku Yoojin, Han Yoojin. Aku sedang diikuti seseorang. Kumohon bantu aku bersembunyi," ucapnya sambil mengatupkan kedua belah tangan. Memohon belas kasihan Choi Han.


Melihatnya yang begitu memelas mau tidak mau membuat Choi Han hanya bisa menghela napas kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Tidak lama kemudian seorang laki-laki berwajah garang dengan balutan jas muncul. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari seseorang.


Choi Han menoleh pada Yoojin yang tengah berjongkok di bawah kursi sembari meniup jari telunjuknya, meminta agar Choi Han merahasiakan keberadaannya.


"Baiklah." Choi Han menyerah. Dia pun memakai sabuk pengaman sebelum kemudian menjalan mobilnya keluar dari parkiran. Meski hanya sebentar, tapi Choi Han tidak lupa membayar parkir.

__ADS_1


"Kau sudah aman. Duduklah yang nyaman," ujar Choi Han dengan sedikit melirik Yoojin.


"Ah, syukurlah." Yoojin bernapas lega. Dia mulai duduk di kursi dan memakai sabuk pengaman.


"Aku berhutang padamu, terima kasih," ucap Yoojin sambil tersenyum pada Choi Han.


"Kau mau pergi ke mana? Biar aku antar."


"Sungguh? Terima kasih."


"Ya."


"Aku ingin pergi ke jembatang layang. Ada artis yang sedang syuting di sana dan aku tertarik ingin melihatnya secara langsung," terang Yoojin.


Choi Han mengerutkan keningnya. "Bukannya kau sedang diikuti orang lain?"


"Ah, dia sebenarnya bukan orang jahat. Dia pengawal yang diutus oleh adikku untuk mengawasiku." Yoojin mengelus belakang lehernya. Merasa sedikit malu menceritakannya.


Belum juga Choi Han berkata, Yoojin sudah membuka mulutnya lagi.


"Aku juga butuh kebebasan. Setidaknya untuk hari ini saja. Jadi, kumohon tolong aku." Yoojin kembali menatap Choi Han dengan tatapan berkaca-kaca.


"Ayolah, hanya hari ini saja. Nanti aku traktir makanan yang enak." Yoojin masih tidak menyerah.


"Aku ti-"


Perkataan Choi Han terpotong oleh suara perutnya sendiri. Seketika saja rona merah di wajahnya muncul.


"Aha! Aku tahu tempat makan yang enak. Kau harus mencobanya!" Yoojin tersenyum cerah.


**


Choi Han tertegun melihat deretan makanan yang ada di atas meja. Dari mulai dimsum, nasi goreng, sate, pisang nugget, hingga Thai Tea dan salad buah.


"Jadi namamu Choi Han ya? Ayo di makan. Jangan sungkan," ujar Yoojin sambil tersenyum.


"Apa ini tidak berlebihan?" Choi Han menatap Yoojin dengan tatapan tidak percaya.


"Tenang saja, adikku kaya. Dia tidak akan keberatan bila aku memakai uangnya hanya untuk hal-hal seperti ini," jawab Yoojin jujur.

__ADS_1


Jujur itu memang baik, tapi apa yang dikatakan oleh Yoojin membuat Choi Han kehilangan kata-kata. Bukankah hal-hal seperti menghabiskan uang adiknya adalah sebuah aib? Kenapa Yoojin begitu santai sekali?


Sikap Yoojin yang senang menghabiskan uang ini membuat Choi Han teringat pada Cale. Mau bagaimana pun keduanya memiliki sebuah kesamaan yang tidak bisa dibantah oleh Choi Han. Kaya dan lemah.


"Ada apa? Bukannya kau lapar?" tanya Yoojin heran.


"Ah, i-iya. Terima kasih." Choi Han pun mulai memakan dimsum yang ada di dekatnya. Lapar yang sedari tadi melilit perutnya membuat Choi Han begitu menikmati dimsum yang masuk ke mulutnya.


"Lezat sekali," ujar Choi Han dengan wajah ceria.


"Sudah kubilang kan." Yoojin tersenyum. "Ayo makan lagi yang banyak."


"Terima kasih." Meski Choi Han merasa tidak enak menerima banyak traktiran dari Yoojin, tapi akan jauh lebih tidak enak lagi bila Choi Han menolaknya.


"Adikku itu seorang pimpinan perusahaan besar dan sekarang sudah menyasar pasar internasional." Yoojin mulai bercerita sambil sesekali menyeruput greentea latte miliknya.


"Dia pintar, tampan, berbakat, dan sangat kaya. Aku merasa seperti sampah kalau disandingkan dengannya."


Choi Han hanya menyimak sambil menikmati makannya. Mendengar kata sampah membuatnya kembali teringat pada Cale yang sering disebut sampah oleh orang lain.


"Aku memang tidak berguna, tapi aku tahu dia sangat menyayangiku dan aku pun menyayanginya." Yoojin tersenyum sambil mengaduk greentea dengan sedotannya.


"Dia sangat mengkhawatirkanku hingga menugaskan pengawal untuk mengawasiku. Menyebalkan rasanya," keluh Yoojin.


"Mas Yoojin." Choi Han mulai bersuara.


"Ah?"


"Jangan menyebut dirimu sampah. Adikmu sangat menyayangimu. Bukankah dia akan sedih kalau ternyata orang yang dia sayang memiliki pemikiran seperti ini?" tanya Choi Han sambil memandang lekat Yoojin.


"Kau benar. Terima kasih." Yoojin Tersenyum.


"Percayalah, Mas Yoojin pasti punya bakat yang terpendam. Entah apa pun itu, tapi pasti sangat berarti bagi orang-orang yang ada di sekitar." Choi Han tersenyum.


"Sekali lagi, terima kasih Choi Han. Aku menyayangimu."


"Eh?" Choi Han tiba-tiba bersemu merah mendengar apa yang dikatakan oleh Yoojin.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2