
Ada hal yang jauh lebih mengerikan ketimbang bertemu dengan orang yang sangat dibenci. Sangat mengerikan karena bisa muncul kapan saja tanpa bisa diketahui orang lain.
Hal itu tidak berwujud, tapi keberadaannya bisa sangat berbahaya. Setiap waktu akan berbisik pada sang pemilik tubuh: Aku ingin mati.
Aku ingin mati.
Aku ingin mengakhiri kehidupan yang kelam ini.
Aku sangat ingin mati saat ini juga.
Semua bisikan itu hanya bisa didengar seorang diri dan terasa bagaikan sebuah rantai yang mencekik leher dengan sangat kuat sekali.
"Ugh..." Dokja membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pening sekali. Napasnya pun tidak beraturan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jaeha yang dapat melihat keringat di kening Dokja. Dia tahu kalau Dokja sudah bermimpi buruk hingga mengigau tentang kematian dengan wajah sangat gelisah.
"A-aku... Aku ingin minum," ujar Dokja sambil bangkit dari pembaringannya.
"Sebentar." Jaeha pun mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Dokja.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Dokja setelah meneguk setengah gelas. Napasnya yang semula kacau kini sudah membaik.
Jaeha mengambil gelas dan menaruhnya di atas nakas. Dia menatap Dokja dengan lekat. Tidak ada kata-kata apa pun yang keluar dari mulut Dokja, begitu pula dengan Jaeha.
"Maaf." Jaeha tiba-tiba saja memeluk Dokja dengan erat. Membuat Dokja terkejut dan sedikit mendorongnya, tapi Jaeha bergeming.
"Apa yang kau la-" Perkataan Dokja terpotong.
"Jangan menolakku," ujar Jaeha yang membuat Dokja semakin tidak mengerti.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan dan apa yang sedang kau alami, tapi aku tahu kalau ini bisa sedikit mengurangi bebanmu," ucap Jaeha dengan nada lembut. "Aku harap ini membantu.
"...." Dokja terdiam. Dia tidak suka bila ada orang lain yang ikut campur dengan masalah hidupnya, tapi Dokja tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada Jaeha. Entah bagaimana dirinya tidak bisa marah.
Dokja menggigit bibir bawahnya sendiri. Pelukan yang diberikan Jaeha membuatnya merasa hangat. Bukan hanya badan, tapi hati Dokja pun merasakan ada kehangatan yang tidak bisa dia jelaskan.
Dokja tahu dirinya menyedihkan, Dokja pun tahu kalau kehidupannya sangat kelam, tapi dirinya tidak membutuhkan nasehat atau pun instruksi dari orang lain. Dia masih punya otak untuk berpikir dan membuat rencana. Apa yang benar-benar dia butuhkan hanyalah perhatian dan pengertian.
Dokja menelan salivanya sendiri. Perlahan tangannya mulai merangkul punggung Jaeha dan memeluknya dengan lebih erat seperti seorang anak kecil yang tengah memeluk boneka kesayangannya.
__ADS_1
Jaeha mulanya sedikit terkejut karena Dokja mau membalas pelukannya, tapi kemudian dia pun tersenyum tanpa mengatakan apa pun. Membiarkan Dokja memeluknya selama yang diinginkannya.
Jaeha tahu bagaimana rasanya sakit hati, amarah, dan juga kehilangan motivasi untuk hidup. Semua itu terasa sangat menyakitkan dan menyesakkan. Setiap detik selalu terdengar bisikan untuk mengakhiri hidupnya.
Disaat seseorang sedang berada di fase serendah ini, apa yang diperlukannya hanyalah ruang untuk didengarkan dan kesadaran kalau dirinya punya tempat untuk berteduh.
Sayangnya tidak semua orang memahami hal ini dan seringnya bersikap sebaliknya. Menghakimi dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Mereka menyebutnya sebagai saran atau nasihat kepedulian. Padahal semua itu hanya membuat kondisi bertambah parah.
Ada kalanya satu pelukan tanpa penghakiman jauh lebih menentramkan jiwa ketimbang untaian kata yang menjelaskan akan ada banyak orang yang sedih dengan kematianmu.
Tanpa terasa air mata Dokja menggenang di pelupuk matanya. Dia pun menutup kelopak matanya, membiarkan air mata jatuh ke pipinya.
"Bertahanlah sedikit lebih lama lagi," lirih Dokja sambil menaruh kepalanya di pundak Jaeha. Dia memeluk Jaeha lebih erat dari sebelumnya.
"Tidak apa, aku ada di sini untukmu." Jaeha mengusap punggung Dokja dengan lembut.
Dokja tersenyum.
Beberapa menit berlalu, Dokja pun tertidur dengan sendirinya. Jaeha pun dengan hati-hati membaringkan Dokja dan menyelimutinya.
__ADS_1
"Semoga mimpi indah," ucap Jaeha sambil mengusap lembut kepala Dokja. Wajahnya kini jauh lebih rileks daripada sebelumnya.
**