The Hottest Family

The Hottest Family
019 - There's Dokja


__ADS_3

Dokja perlahan membuka matanya. Dia pun dapat melihat sebuah cermin besar yang ada di hadapannya. Dari cermin itu terlihat kalau Dokja diikat ke sebuah pegangan yang biasa dipakai oleh para penari balet ketika sedang berlatih.


Sedetik kemudian Dokja tersadar kalau ruangan tempatnya berada saat ini adalah tempat latihan balet.


"Apa yang terjadi?" Dokja mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelum dirinya kehilangan kesadaran.


KLIK


Pintu terbuka. Kemunculan orang dari balik pintu itu membuat Dokja terhenyak.


"Ternyata kau sudah bangun." Laki-laki itu tersenyum. Dokja tahu kalau dia adalah Joonghyuk. Orang yang telah membuatnya trauma saat di lokasi shooting film Penumpang Kereta.


"Cepat lepaskan aku!" seru Dokja sambil menatap Joonghyuk dengan tatapan nyalang.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Joonghyuk sambil mengunci pintu. Dia kemudian berjalan mendekati Dokja sembari melonggarkan dasi yang melilit di kerah bajunya.


"A-apa yang ingin kau lakukan?" Dokja mendapatkan firasat buruk hanya dari melihat Joonghyuk.


"Apa yang aku inginkan?" tanya balik Joonghyuk sambil berjongkok di dekat Dokja. Dia kemudian mengangkat kedua kaki Dokja dan menaruhnya di samping kanan dan kiri pinggangnya.


"K-kau?!" Dokja terbelalak menatap Joonghyuk. Apa yang diinginkan Joonghyuk sudahlah jelas, tapi tentu saja Dokja tidak menginginkannya. Bukan hanya karena takut dosa, tapi juga karena dia dan Joonghyuk adalah sesama laki-laki.


"Aku sangat benci kalau ada santapanku yang lari. Jadi hari ini aku akan memakanmu sepuas yang kumau," ucap Joonghyuk dengan nada lembutnya seolah sedang menggoda.


"Sadarlah, aku ini laki-laki," ujar Dokja mengingatkan. Dia berharap Joonghyuk mau melepaskannya.


"Memangnya kenapa?" jawab Joonghyuk santai. Mendengarnya membuat Dokja merasa bagaikan disambar petir. Joonghyuk benar-benar tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau!" seru Dokja tidak terima.


"Kau mau atau pun tidak bukanlah urusanku," ujar Joonghyuk sambil melepaskan dasinya. Dia kemudian mengikatkan dasi miliknya di mulut Dokja. Membuat Dokja tidak bisa bicara sepatah kata pun.


"Bibirmu itu terlihat manis, tapi sayangnya aku harus menutupnya untuk saat ini," keluh Joonghyuk.


Saat ini? Apa yang sebenarnya ada di kepala Joonghyuk?


"Aku bisa saja membawamu ke hotel terbaik di sini." Joonghyuk mulai berceloteh sambil membuka kancing baju yang dipakai Dokja.


"Tapi kau pasti lari." Joonghyuk menatap semua kancing baju Dokja yang telah lepas. Dia pun menyingkapnya dan mulai menaruh telapak tangannya di kulit Dokja.


"Emh." Dokja dapat merasakan pergerakan tangan Joonghyuk yang bergerak mengitari badannya dengan perlahan seperti seekor siput. Membuatnya merasa geli dan ingin menyingkirkan tangan Joonghyuk, tapi sayangnya tidak bisa.


"Ternyata kau sensitif." Joonghyuk tersenyum. "Aku jadi semakin menyukainya."


Perkataan Joonghyuk ini bukankah sebuah pujian, tapi intimidasi.


"..." Dokja merasakan sesasi aneh dalam dirinya. Joonghyuk tersenyum melihat reaksi Dokja.


Dengan kedua tangan yang terikat, Dokja tidak bisa berbuat apa pun selain memaki Joonghyuk di dalam hati. Dia sama sekali tidak ingin melakukannya. Dokja ingin lari dan bersembunyi.


"Reaksimu itu begitu lucu sekali." Joonghyuk tersenyum menatap Dokja. Dia kemudian melihat ke arah bawah. Tepat pada apa yang ada di antara kedua kaki Dokja.


Sial. Dokja tidak bisa menyembunyikannya. Apa yang telah dilakukan oleh Joonghyuk telah membuat badannya bereaksi dengan sendirinya.


"Tenang saja, aku pasti akan memanjakanmu."

__ADS_1


"Mmff."


"Sepertinya kau menyukainya."


Kurang ajar. Rasanya ingin mati saja. Dokja merasa tidak berdaya sama sekali.


"Baiklah, mari kita lihat."


"Waw, apa yang harus aku lakukan dengannya?" tanya Joonghyuk yang diikuti kikikan kecilnya. Tanpa Dokja menjawab pun, Joonghyuk sudah tahu jawabannya. Joonghyuk akan melakukan apa pun yang dia inginkan pada Dokja.


"Hmffh."


"Kau menyukainya bukan?"


"Aku ingin tahu bagian mana saja yang kau sukai." Suara Joonghyuk terdengar sangat lembut, tapi bagi Dokja tetaplah terasa seperti aliran listrik yang mematikan.


"Apa aku juga harus merobeknya ya?" tanya Joonghyuk sambil menarik kemeja bagian lengan milik Dokja.


"Hmmmmf." Dokja menatap Joonghyuk dengan nyalang.


"Sepertinya kau tidak mau ya?"


"..." Dokja masih menatap Joonghyuk dengan nyalang.


"Memangnya aku peduli, haha." Joonghyuk tertawa.


"Kau benar-benar mahakarya." Joonghyuk mengeluarkan ponselnya lalu memotret Dokja.

__ADS_1


Sial. Kurang ajar. Dokja terus memaki. Meski Dokja berusaha untuk menendang Joonghyuk, tapi hasilnya sia-sia saja. Joonghyuk jauh lebih kuat darinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2