The Hottest Family

The Hottest Family
020 - Dokja, Say Aaah!!


__ADS_3

Kedua mata Dokja terbelalak, peluh di keningnya bercucuran, napasnya pun kembang kempis tidak beraturan. Dokja melihat kedua telapak langannya yang sedikit bergetar. Selimut berwarna putih yang dikenakannya membuat kesadaran Dokja mulai kembali.


Dokja mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sebuah kamar minimalis yang kebanyakan isinya didominasi oleh kanvas dan lukisan. Kamar Jaeha.


"Ada apa?" tanya Jaeha yang baru saja mengenakan tas selempangnya. Dia kemudian menghampiri Dokja yang masih ada di kasurnya.


"A-a-aku tidak pergi ke mana pun kan? Sepertinya aku bermimpi buruk," tanya Dokja dengan suara yang sedikit bergetar dan terburu.


"Ada aku di sini, tenanglah." Jaeha mengusap-usap rambut Dokja dengan lembut. Membuat Dokja merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Sepertinya demammu sudah membaik," ujar Jaeha saat menaruh punggung tangannya di kening Dokja.


"Ja-jaeha..." Tatapan mata Dokja berair.


"Ada apa?" tanya Jaeha sambil menatap Dokja dengan lekat. "Lapar? Aku sudah membelikanmu bubur tadi, tapi mungkin sudah dingin."


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Dokja sambil memegangi tangan kanan Jaeha.


"Aku mau pergi kerja. Lagipula rumahmu pun belum selesai aku tangani."


"Aku ingin ikuut," pinta Dokja yang seketika saja membuat Jaeha kaget.


"Jangan, lebih baik kau istirahat saja di sini."


Dokja menggelengkan kepalanya. "Kau kan tadi bilang kalau aku sudah baikan."


"Tapi bukan berarti kau bisa pergi ke mana pun. Istirahat lagi saja."


"Aku mau ikut. Pokoknya aku mau ikut." Dokja menatap Jaeha penuh ambisi.


"Atasanku itu setan, kau nanti tidak akan nyaman."


"Masa bodoh, lagipula aku pun client kalian juga kan. Aku berhak datang."

__ADS_1


Jaeha menghela napas. "Baiklah, tapi sarapan dulu ya."


"Oke." Dokja mengangguk. Jaeha pun mengambil bubur yang ada di atas nakas dan bersiap untuk menyuapi Dokja.


"Tunggu sebentar."


"Ya?"


"Kau tidak makan?" Dokja menyelidik.


"Aku biasanya langsung makan siang. Tidak usah pedulikan aku." Jaeha tersenyum sedikit kaku.


"Kalau begitu aku tidak mau makan."


"Eh, jangan begitu. Katanya kau mau ikut denganku ke kantor."


Dokja memalingkan pandangannya. "Aku tidak mau kalau hanya aku saja yang makan."


"Abang..." ucap Jaeha lembut sambil tersenyum.


"Huh?" Dokja merasa bagaikan tersentak mendengar Jaeha yang tiba-tiba memanggilnya abang.


"Abang Dokja, ayo buka mulutnya. Keretanya mau lewat," ucap Jaeha yang sudah siap dengan sendoknya.


"Haaaaah?!" Dokja terkejut mendengar kata kereta. Sedikitnya membuat Dokja kembali teringat dengan mimpinya tadi.


Hup. Jaeha tidak membuang kesempatan. Dia berhasil menyuapi Dokja dengan bubur dinginnya. Meski dingin, rasanya tetap saja bubur, tidak akan berubah jadi nastar.


"Nah gitu dong. Ayo makan lagi." Jaeha tersenyum. Berbanding terbalik dengan Dokja yang justru cemberut karena kesal.


PING


Ponsel Dokja yang ada di atas nakas menyala. Ada pesan baru yang dia terima.

__ADS_1


"Sejak kapan ponselku ada di sana?" tanya Dokja kaget.


"Aku yang menaruhnya. Aku pikir kau pasti butuh komunikasi dengan teman-temanmu juga." Jaeha mengambil ponsel dan memberikannya pada Dokja.


"Kau bahkan mengisi semua daya dan menghubungkannya ke wifi," ujar Dokja saat melihat ponselnya sendiri.


Seperti dugaannya, ada banyak pesan yang didapatkan oleh Dokja. Namun, pesan paling baru justru paling menarik perhatiannya.


[Pengirim: 02xxxxxxxxx]


Saya dari kantor Kepala Komplek Emas ingin bertemu dengan anda, Dokja Kim. Silakan datang sore ini ke alamat...........


Terima kasih.


Dokja mengerutkan keningnya. "Ini penipuan atau apaan sih? Tiba-tiba nyuruh datang."


"Ada apa?" Jaeha yang penasaran pun ikut melihat pesan yang tengah Dokja baca.


"Aneh banget kan ini?"


"Kalau disebut aneh ya memang aneh, tapi alamatnya bener lho."


"Hah?" Dokja menatap Jaeha tidak percaya.


"Aku serius. Alamat ini memang alamat kantor ketua komplek emas yang baru." Jaeha balas menatap Dokja.


"Ketua komplek emas yang baru?"


"Iya, nanti aku antar kalau mau pergi ke sana. Bagaimana?" Jaeha menawarkan diri.


"Setuju." Dokja tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Mau bagaimana pun dia juga penasaran dan harus mencari tahu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2