
"Apa kau ingin tahu apa yang ada di dalam kotak ini?" tanya Cale sambil menepuk-nepuk box yang ada di atas meja. Mencoba untuk menarik perhatian Jinwoo.
"Haruskah aku ingin tahu?" tanya balik Jinwoo. Perkataannya ini sudah cukup untuk membuat mood Cale jatuh. Lagi.
"Kau memang menyebalkan," decih Cale kesal. Jinwoo yang ada di depannya seolah tidak mau berhenti bermain-main dengannya.
Jinwoo hanya mengulas senyum miring di wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Tidak lupa tatapan tajamnya menatap Cale bagaikan sebuah pisau yang sedang mengiris puding strawberry.
Cale menghela napas. "Ini hanya teh herbal, bagus untuk meningkatkan staminamu."
"Sungguh?"
"Ya, aku berikan ini padamu, tapi harus kau ingat kalau aku tidak mau menerima keinginanmu untuk menjadi ketua blok," jelas Cale. Dia pun bangkit dari duduknya dan mulai melangkah.
"Mau ke mana?" tanya Jinwoo. "Kita belum makan bareng."
"Aku tidak butuh. Semakin lama melihatmu semakin membuatku mual," jawab Cale sinis.
"Mual?"
"Sudahlah, jangan pernah menghubungiku lagi." Cale memalingkan wajahnya dari Jinwoo.
"Memangnya sudah berapa bulan? Apa ada gejala lain selain mual? Atau ada sesuatu yang ingin dimakan? Mungkin mangga muda?" tanya Jinwoo berturut-turut.
"Sialan?! Kau pikir aku ibu hamil apa?!" Cale menatap Jinwoo dengan tatapan penuh amarah.
"Ah, lupakan saja. Aku pergi." Cale membuang mukanya lalu kembali melangkah menuju pintu.
Saat tangan Cale menggapai pegangan pintu, tiba-tiba saja tangan Jinwoo meraihnya. Membuat Cale gagal untuk membuka pintu.
"Mau ke mana?" Jinwoo menaruh tangan kirinya di pintu. Tepat di sebelah telinga Cale.
"Kau?!" Cale menoleh ke belakang. Dia terkejut karena jaraknya sangat dekat dengan Jinwoo.
Bagaimana bisa? Padahal Cale tidak mendengar ada suara langkah kaki selain suara miliknya. Pergerakan Jinwoo benar-benar tidak bisa diduga sama sekali. Dia sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari angin.
"Tuan Jinwoo Yang Terhormat, sudah tidak ada apa pun yang bisa kita bicarakan lagi. Jadi jangan menghalangi." Cale menatap Jinwoo dengan sinis.
"Sebentar lagi makanan datang. Lagipula pengawalmu sudah pergi setengah jam lalu," ucap Jinwoo yang terdengar seperi serba tahu padahal dia sama sekali tidak beranjak dari ruangan.
"Kau pikir siapa? Jangan asal bicara."
__ADS_1
"Percayalah padaku. Pengawalmu sudah pergi."
"Tidak mungkin. Choi Han bukan orang yang seperti itu."
"Jangan khawatir, setelah makan nanti akan aku antar pulang."
"Jangan bersikap baik padaku!" Nada suara Cale meninggi. "Apa pun yang kau lakukan, aku tetap tidak akan menerima tawaranmu."
"Oh, jadi kau ingin main kasar?" tanya Jinwoo yang seketika saja menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"...." Cale tiba-tiba saja merasa kalau dirinya telah salah ucap.
Tangan kiri Jinwoo dengan cepatnya meraih leher Cale dan menggenggamnya dengan erat. Membuat Cale tidak bisa bernapas. Bukan hanya itu, tangan kanan Jinwoo pun merangkul pinggang Cale bagaikan sebuah kuncian.
Kurang ajar! Cale sanget kesal. Dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali meski sudah berusaha.
"Dengarkan aku baik-baik." Nada suara Jinwoo terdengar dalam dan sangat mengintimidasi. Jauh berbeda dengan nada suaranya ketika masih mengobrol di sofa.
"Aku sudah berusaha bersikap lembut padamu, tapi rupanya itu tidaklah cukup." Jinwoo mulai menekan jemari tangannya di leher Cale.
"A-agh.." Cale semakin tidak bisa bernapas.
[Hey, apa yang kau lakukan pada Cale? Akan kubunuh kau!] Cale dapat mendengar suara naga di pikirannya mulai marah. Aliran mana di badan naga mulai menguat.
SRASH
Seluruh ruangan tiba-tiba saja diliputi oleh bayangan kegelapan. Ruangan yang semula adalah kantor kini berubah menjadi sebuah ruangan yang terisolasi dari dunia luar.
Apakah ini kekutan Jinwoo? Cale tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan rasakan.
"Aku akan membunuhmu!" Naga yang kesal pun sudah tidak sungkan lagi menampakkan dirinya. Baginya Cale sangat berharga dan dia tidak akan segan menghabisi nyawa orang yang melukai Cale.
"Kau diam saja, atau kau ingin aku membunuhnya sekarang juga?" tanya Jinwoo yang seketika saja membuat Cale terkejut.
Manusia kurang ajar ini. Bagaimana mungkin sikapnya bisa berubah drastis? Apakah ini sifat aslinya? Mengerikan. Cale tidak bisa untuk tidak khawatir baik pada dirinya atau pun sang naga.
**
Di tempat yang lain. Choi Han baru saja selesai makan siang bersama Han Yoojin. Rencana mereka untuk pergi ke jembatan layang tertahan karena hujan yang tiba-tiba muncul.
"Hujannya sangat deras. Sepertinya akan lama," ujar Choi Han sembari menatap ke luar jendela cafe.
__ADS_1
"Ahh... Menyebalkan sekali. Padahal aku sudah menantikan hari ini datang." Yoojin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sejenak Choi Han terdiam, tapi kemudian lekas mengeluarkan ponselnya. Dia lupa untuk memberitahu Cale. Choi Han khawatir kalau tuan mudanya itu mengirim pesan padanya atau menunggu terlalu lama.
Apa Cale masih belum selesai? Choi Han penasaran, tapi tidak ada pesan apa pun dari Cale. Hal ini membuatnya khawatir. Choi Han pun mengirimkan pesan pada Cale, tapi hanya centang satu yang didapatkan. Pertanda kalau ponsel Cale sedang mati atau di luar jangkauan.
"Huh? Apa Mas Cale lupa bawa casan?" lirih Choi Han bingung.
"Ada apa?" tanya Yoojin penasaran.
"Tadinya aku ingin mengkabari atasanku, tapi centang satu."
"Kalau begitu telpon biasa saja. Mungkin kuotanya habis."
Seorang Cale kehabisan kuota? Mustahil. Choi Han tidak setuju dengan pendapat Yoojin, tapi dia pun tetap berusaha untuk menelpon Cale hingga...
PLUP
Ponsel Choi Han tiba-tiba jatuh ke dalam kuah ramen dan mati seketika.
"Astaga?!" Choi Han terperanjat melihat nasib ponsel kesayangannya. Begitu pula dengan Yoojin.
"Apa yang kau lakukan? Cepat keluarkan," ujar Yoojin panik.
"Ah, i-iya." Choi Han buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mengelapnya dengan tisu yang ada di meja.
"Apa masih bisa dinyalakan?" Yoojin menatap Choi Han dengan perasaan simpatik.
Choi Han menggeleng. "Sepertinya aku harus membeli yang baru kalau sudah gajian nanti."
"Kau tenang saja. Aku akan membelikan ponsel baru untukmu," ujar Yoojin yang membuat Choi Han kehilangan kata-kata.
"Kau ingin menghubungi atasanmu kan? Pakai ponselku saja." Yoojin menyodorkan ponselnya.
Sesaat Choi Han terdiam, tapi kemudian meraihnya. Setidaknya Choi Han bisa mengkabari Cale kalau dirinya akan datang menjemput sore nanti.
"Terima ka-" perkataan Choi Han terpotong saat ponsel yang ada di tangannya tergelincir hingga jatuh ke lantai. Kacanya retak, casingnya terbelah, dan tentu saja mati.
"HAH?!" Choi Han terbelalak bukan main. Dia tidak menyangka kalau hari ini tangannya akan selicin itu. Membuat dua ponsel rusak.
"Mas Yoojin maaf..."
__ADS_1
BERSAMBUNG