The Hottest Family

The Hottest Family
002 - How Can I Call You?


__ADS_3

Cale menghela napas. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu, tapi sudah dapat dipastikan kalau Cale tidak terlalu tertarik dengan apa yang sedang dilakukannya.


"Mas Cale, ada apa?" Choi Han menatap Cale dengan penasaran. "Kita sebentar lagi sampai."


"Oh, ah. Tidak ada."


Putaran ban mobil yang dikendarai Cale pun berhenti tepat di sebuah gedung berlantai tiga yang memiliki banyak tumbuhan merambat di bagian atasnya. Meski begitu, tumbuhan itu terlihat tertata rapih dan tidak sembarang tumbuh begitu saja.


Choi Han keluar dari mobil dan berbicara pada petugas yang sedang berjaga di gerbang masuk. Cale hanya diam memperhatikan sambil membayangkan seperti apa sosok Sung Jinwoo yang menjadi ketua baru di kompleknya.


Cale memang sudah melihat fotonya dan mendapat sedikit informasi dasar dari Ron, tapi tetap saja itu tidaklah cukup. Cale perlu menemuinya secara langsung untuk memastikan.


Pintu gerbang mulai dibuka oleh sang penjaga, Choi Han kembali ke kursi kemudi dan mulai menjalankan porsche biru kesayangan Cale menuju ke tempat parkiran yang berada di samping pancuran.


Suasana di sekitar gedung cukup sepi, tapi tidak bisa dibilang kosong karena masih ada beberapa karyawan yang terlihat berlalu-lalang dengan seragam berwarna dongker.


"Selamat datang. Anda pasti Tuan Muda Cale Henituse." Seorang perempuan berambut panjang tersenyum menyambut Cale begitu dirinya masuk ke dalam gedung.


"Iya, apa Tuan Sung ada?" tanya Cale tanpa senyum sedikit pun. Choi Han menyusul Cale dengan membawa sebuah box berukuran sedang.


"Pimpinan sudah menunggu di ruangannya," jawab si resepsionis. "Apa ini untuk Pimpinan? Kalian bisa menaruhnya di sini."


"Tidak, terima kasih. Kami akan memberikannya secara langsung." Tolak Cale tanpa basa basi.


"Baik, kalau begitu biar saya antar ke ruangannya."


Cale mengangguk. Dia dan Choi Han pun mulai mengikuti sang resepsionis.


[Manusia, kau harus berhati-hati di sini] Suara naga terdengar di kepala Cale.


Tersentak. Ya, tentu saja. Cale kaget dengan suara naga kecil berusia 4 tahun yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Meski sebenarnya Cale sudah menebak kalau naga itu akan mengikutinya mesti tanpa izin sekali pun.


[Manusia, kekuatannya jauh lebih besar darimu. Kau harus berhati-hati atau kau akan mati hanya dalam sekejap]


Cale diam. Meski dia ingin berkomentar, tapi Cale menahan diri. Cale mungkin bisa mendengar suara naga di kepalanya, tapi orang lain tidak. Bukan hanya itu, sosok naga tidak terlihat sedikit pun. Akan aneh bila orang lain melihat Cale berbicara sendiri.

__ADS_1


Lebih buruk lagi, Cale bisa dianggap gila.


**


Jinwoo tersenyum setelah mendapatkan telpon dari karyawannya yang mengabari tentang kedatangan Cale.


Datang secepat ini. Jinwoo tidak menyangka sama sekali kalau Tuan Muda yang dikabarkan pemalas dan senang mabuk datang ke tempatnya tidak lama setelah Jinwoo menghubunginya.


Ya, Jinwoo memang sempat menghubungi kediaman Cale meski pada akhirnya hanya sang kepala pelayan bernama Ron yang menjawab panggilannya.


Jinwoo berdehem. "Baiklah, sambutan seperti apa yang kira-kira cocok untukmu?"


Tidak berselang lama, ketukan pintu diikuti suara sang resepsionis terdengar.


"Pak Jin, Bapak ada di dalam kan? Tamu bapak sudah ada di sini."


"Ya, masuklah," sahut Jinwoo.


Pintu terbuka. Cale pun masuk ke dalam ruangan diikuti Choi Han setelah mendapat gestur welcome dari sang resepsionis.


"Silakan duduk, anggap saja rumah sendiri." Jinwoo tersenyum. Dia lalu memberikan isyarat pada resepsionisnya untuk lekas pergi.


Anggap rumah sendiri? Cale merasa konyol mendengar apa yang dikatakan oleh Jinwoo. Bagaimana mungkin sebuah ruangan kantor dianggap rumah? Apa Jinwoo tidur di kantor?


Cale ingin melontarkan apa yang ada di kepalanya, tapi dia memilih diam dan duduk senyaman mungkin di sofa. Tepat berada di sebrang Jinwoo.


"Mas Cale?" lirih Choi Han meminta penjelasan untuk box yang sedang dibawa olehnya.


"Perkenalkan, dia Choi Han pengawalku," ujar Cale pada Jinwoo.


"Oh iya, Choi. Kau bisa menaruhnya di sini." Cale menunjuk ke tengah meja kaca yang dihiasi ornamen tumbuhan dibawahnya.


Choi Han hanya mengangguk lalu menaruh box yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja.


"Kalau tidak ada hal lagi, saya pamit keluar." Choi menatap Cale.

__ADS_1


"Ya, pergilah." Cale mengibaskan tangannya. Meski Choi mengatakan pamit keluar, tapi Cale yakin kalau dia tidak akan pergi ke mana pun selain di kawasan ini. Choi Han pastilah akan duduk manis menunggunya.


Keheningan menyerang seisi ruangan setelah Choi Han keluar dan menutup rapat pintu masuk.


Seperti informasi yang didapatkan dari Ron, sosok Jinwoo yang ada di depan Cale saat ini memang terlihat muda. Bisa dibilang usianya tidak jauh berbeda dari Cale.


Dari tatapannya, Cale bisa menebak kalau saat ini Jinwoo sedang memberikan penilaian tentangnya di dalam kepala Jinwoo. Entah apa pun itu tidak masalah, lagipula Cale pun saat ini sedang menilai Jinwoo. Bukankah ini terdengar impas?


"Cale Henituse," lirih Jinwoo sambil tersenyum. "Ada yang ingin kau makan? Bagaimana dengan seafood?"


"Tidak usah, aku sudah makan," jawab Cale.


Sejenak Cale tercekat dengan jawabannya sendiri. Bagaimana mungkin dia menggunakan sebutan 'aku' untuk dirinya sendiri di hadapan orang yang baru dikenalnya. Lebih tepatnya di depan ketua komplek yang juga pimpinan perusahaan.


"Sayang sekali, tapi aku belum makan. Apa kamu mau menemaniku makan?" tanya Jinwoo yang masih tersenyum pada Cale.


Bagaikan disengat listrik. Cale merasa geli mendengar sebuatan aku-kamu dari mulut Jinwoo. Bukankah itu adalah sebutan untuk orang yang benar-benar sangat dekat alias sepasang kekasih? Setidaknya itulah yang Cale tahu dari orang Jaksel yang sempat ditemuinya.


"Sebelumnya, harus bagaimana aku memanggilmu?" tanya Cale dengan tatapan lekatnya pada Jinwoo.


"Semau kamu saja, tapi jangan panggil sayang nanti pacarku marah."


"Oh, oke." Sudut bibir Cale tersungging ke kiri. Apa yang dikatakan oleh Jinwoo sedikit membuatnya sebal.


"Aku mau memesan makanan dari kedai ramen. Ada yang ingin kamu pesan?" tanya Jinwoo sembari memperlihatkan layar tablet miliknya yang berisi menu delivery.


"Kau bilang mau makan seafood." Kali ini suara Cale sedikit meninggi. Dia masihlah kesal dengan sebutan aku-kamu yang digunakan Jinwoo padahal dia sudah punya kekasih.


Cale ingin protes, tapi akan terasa sangat konyol bila Jinwoo mengetahuinya. Cale bisa menebak kalau Jinwoo akan menertawakannya.


"Kau bukan orang Jakarta, ya?" tanya Cale tegas.


"Memang bukan," jawab Jinwoo yang diikuti oleh tawa kecilnya. Kali ini Cale benar-benar merasa seperti orang bodoh yang menanyakan hal-hal tidak penting.


Tunggu, kenapa dia harus tertawa? Cale mengernyit memandang Jinwoo.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2