
Hari ini adalah hari yang istimewa dan sangat ditunggu oleh kedua pasangan yang sekarang saling mencinta yaitu Azka dan juga Dewi.
Mereka benar benar sudah mempersiapkan hari ini dengan baik karena mereka sudah tahu kalau bakal ada kericuhan yang akan dilakukan oleh Pamela dan Aldo, padahal sebenarnya hanya Pamela namun karena mereka tahunya yang mendatangkan Pamela adalah Aldo jadi dia ikut dianggap sama sama berkonspirasi untuk menghancurkan pernikahan ini.
"By, udah ada tanda tanda?" tanya Dewi dengan cemas, karena rencananya mereka akan melakukan OTT (operasi Tangkap Tangan ) jadi kalau Pamela mengacau bisa segera di lakukan antisisapi eh antisipasi.
"Lhah kan belum nyoblos! Gimana bisa ada tanda tanda? Nanti aja kalau udah nyoblos, nah baru deh bisa ada tanda tanda.."
"Ah auk ah By, kamu tuh ngeselin pake banget! Malas deh ngomong sama orang omes macam hubby!" kata Dewi sambil memutar bola matanya dengan kesal karena godaan dari Azka yang tak tahu waktu dan tempat.
"Ha ha ha tenang aja sayang, aku sudah berusaha sewa pengawal sehingga dia ga bisa masuk dan mengacaukan acara kita, nanti mau aku sekap aja di ruang kecil dan setelah kita selesai MP barulah kita mengurus dia." katanya dengan tenang.
"Lhah kenapa anak orang disekap? "
"Biar gak melakukan hal hal yang merugikan dan menganggu orang lain lagi." katanya dengan singkat, memang dia tidak mengatakan sejujurnya kepada istrinya itu apa yang akan dia lakukan kepada Pamela ketika mereka mengganggu pesta perayaan pernikahan antara dirinya dan juga Dewi, tapi Azka kalau hal itu akan membuat Pamela menjadi jera.
Tok tok tok,
"Masuk!"
"Tuan, semua sudah siap!Tuan dan nyonya tinggal masuk ke tempat resepsi,"kata anak buah dari Azka yang dipercaya Azka untuk mengawal dan menolong WO, karena Azka tidak mau diurus oleh WO saja tapi lebih percaya sama anak buah dan pengawalnya.
"Hmm, baiklah... ayo sayang, kita akan masuk ke acara resepsi pesta perayaan pernikahan kita dan sehabis ini kita akan bersenang senang menikmati honeymoon dan aku gak akan melepaskan kamu, itu janjiku di MP kita," bisik Azka dengan nada seduktif d telinga istrinya dan juga langsung menjilat telinganya dengan penuh cinta, membuat Dewi jadi blingsatan ga karuan karena fantasi yang tadi dibisikkan oleh Azka membuat otaknya travelling kemana mana.
"Hubbyyyyy!!" teriaknya dengan nada tertahan karena kesal dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu, ingatkan Dewi untuk mencubit suaminya, karena kalau saat ini tak ada orang luar pasti ia akan menghabisi suaminya dengan cubitan penuh aroma KDRT.
"Ha ha ha, kamu harus dapet hukuman karena gara gara laki laki yang memujamu itu, Pamela harus datang dan membuat aku harus melakukan extra keras untuk mengawal acara itu dengan pengamanan khusus," katanya dengan kesal, sambil memeluk istrinya posesif karena teringat akan Aldo.
__ADS_1
"Tapi kan aku gak salah, By!" katanya sambil mencebikkan bibirnya sambil berjalan menuju pintu keluar kamar dimana mereka menunggu acara dimulai, dan di ballroom hotel ini akan menjadi saksi kisah cinta mereka berawal disini.
"Hmm, kamu salah, karena kamu tebar pesona dan aku gak suka."
Ingatkan Dewi untuk mengumpat karena ia tak bisa melakukan nya sekarang, banyak orang di luar pintu yang akan mengiringi mereka ke ballroom, Dewi harus jaga image dan tersenyum cantik menebarkan sukacita tapi tiba tiba suaminya berkata.
"Gak usah tersenyum cantik, biar aku saja yang menikmati senyummu dan wajahmu yang sayu saat aku melakukannya untuk yang pertama kali." bisik laki laki yang telah sah menjadi suaminya itu dengan senyum smirk menghiasi wajahnya yang tampan dan menggoda.
Dewi hanya bisa memutar bola matanya dengan kesal melihat wajah suaminya yang over PD, walau ia tahu kalau suaminya itu sah sah saja melakukan itu karena memang wajah suaminya tampan dan didalam balutan tuxedo warna broken white dan dasi kupu kupu warna gold, ia tampak menawan dan juga menggoda.
"Aku tahu kalau aku tampan, tapi cintaku hanya padamu dan aku hanya tergoda sama kamu, gadis bulet yang berhati bagaikan malaikat," lanjut Azka yang melampirkan kecupan singkat di pelipis sang istri yang membuat hati Dewi berdebar kencang bagaikan genderang mau perang.
Pelukan posesif sang suami membuat hatinya tambah berbunga dan membuatnya tak menyadari kalau mereka sudah sampai di Ballroom yang dipadati oleh ribuan orang yang tak bisa ia kenali satu per satu karena saking banyaknya sehingga membuat pikirannya buntu karena tak bisa berpikir lagi selain menebar senyumnya yang cantik kepada mereka yang datang ke pesta perayaan pernikahan.
Azka dan Dewi hanya bisa tersenyum melihat banyaknya tamu yang datang ke pesta mereka, mereka berjalan menuju ke pelaminan dengan menyungging senyum, sehingga tak mereka sadari kalau ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sinis dan juga penuh amarah yang membulat.
Jlebbb!!
"Sayang... Dewiiiii!!!!" jerit Azka yang ketakutan karena saat menoleh ke samping ia melihat kalau Dewi kesakitan dan perut bagian sampingnya sudah berdarah tanda tadi ada yang menusuknya ketika mereka melewati kumpulan tamu yang datang menghormati mereka ketika mereka mau naik ke atas pelaminan.
Tubuh Dewi seakan lemas dan hampir saja terjatuh saat itu juga namun pelukan suaminya membuatnya bisa bertahan.
"Tutup semua pintu keluar!!"teriak Dewa yang langsung datang membantu karena tadi posisinya ada di belakang mereka.
Sedangkan Azka menangis melihat kondisi istrinya yang emlemah karena tusukan benda tajam di perutnya sebelah kanan.
"Baby, jangan tidur.." katanya sambil menggendong tubuh istrinya, dan membawanya ke dalam ruangan kamar yang baru saja mereka tinggalkan dan dengan langkah kilat ada seorang dokter yang merupakan sahabat orang tua mereka yang langsung mengikuti langkah Azka dan Dewi beserta para bodyguard yang terlihat cemas karena kecolongan.
__ADS_1
Sesampainya mereka dikamar lalu dokter itu mendekat dan menjabat tangan Azka
"Saya dokter Rogers, teman mama kamu Azka!" kata dokter paruh baya itu memperkenalkan diri.
"Tolong dok..."
"Luka istri kamu perlu dijahit, mudah mudahan tidak mengenai organ vital," katanya dengan nada serius.
Brakk!!
"Gimana kondisi Dewi?" tanya mama mertuanya dengan wajah sendu, dengan terpaksa mertuanya dan orangtuanya menyusul ke kamar ini dan menyerahkan acara kepada Dewaa, termasuk penyelidikan.
"Rog, gimana putriku?" tanya angel yang membahasakan Dewi sebagai putrinya ketimbang menantunya,
"Untunglah, tusukan benda tajam itu tidak mengenai organ vitalnya, dan sudah kujahit lukanya, namun kita tetap harus menunggu 1x 24 jam untuk memastikan segalanya." kata dr Rogers dengan nada tegas, untunglah dr ini selalu membawa peralatan kerjanya dimanapun ia berada.
"Puji Tuhan." kata mereka berjamaah, tentu saja Azka lega karena Dewi sudah ditangani, namun tak ada yang bisa mengira apa yang saat ini ada dalam benak Azka mengenai pelaku penusukan, dalam hatinya ia bisa menebak, makanya ia hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan amarahnya untuk di arahkan pada orang yang tepat.
"Bangunlah sayang! Aku menantikan kamu.." azka hanya bisa mengecup tangan Dewi yang dingin dan juga lemas lunglai, berharap supaya keajaiban terjadi malam ini...
.
.
.
TBC
__ADS_1
So sad! Bagaimana kalau sampai Dewi passed away? Besok episode terakhir untuk kisah ini, mudah mudahan kalian takkan menangis berkepanjangan, karena lihat mood author besok, mau kupisahkan saja azka sama Dewi, he he he (ketawa jahat)
Jangan lup kasih vote, like dan juga komen, hadiah bunga dan kopi ditunggu!