The Witness

The Witness
Bab I


__ADS_3

Tiga gadis cantik berjalan menyusuri koridor sekolah dengan penuh percaya diri. Meski memamerkan senyuman, orang lain tetap berusaha menjauh dari mereka. Orang yang berlalu lalang menunduk, tak ingin di sapa oleh Maddie, Zoe dan Alis, Senior jurusan IPS yang cukup meresahkan untuk seluruh siswa siswi Pioneer International School Manado.


Seperti biasa ketiga murid populer dan kaya itu memasuki kantin, tapi tidak untuk mengenyangkan perut. Alis dan Zoe terlihat asik mengerjai seorang murid berkacamata yang tengah menikmati semangkok mie instan, sedangkan netra hazel Maddie malah fokus pada seseorang di tengah kantin yang duduk sendiri. Sosok yang dulu sangat berarti, yang dahulu selalu bisa di andalkan. Sebelum sosok itu mengkhianati persahabatan mereka.


Senyum miring terbirit bersamaan dengan Maddie yang mengambil air dari meja sebrang dan menuju ke arah pemilik surai hitam panjang itu. Pemilik netra hazel itu berpura-pura di senggol, menyebabkan air tumpah di rok abu-abu milik Denada Inka Winstone.


Zoe dan Alis pun terkekeh melihat Maddie yang memberi tatapan penuh rasa bersalah. Denada hanya bisa diam dan mengambil tisu membersihkan cipratan air di meja akibat perbuatan Madelline. Dengan kekesalan tertahan dia berdiri hendak meninggalkan kantin ketika Maddie memegang pundaknya, memaksa Denada duduk kembali.


"Mau kemana Denada? Kita belum selesai loh." Kata Maddie dengan senyum mengambang.


"Apa lagi mau kalian?" Balas Denada malas.


"Bermain. Kita bertiga udah lama gak main air, lo mau ikut?" Lanjut Maddie sembari terkekeh pelan.


"Stay away from her, Maddie."


Leon Aswangga menyahut datar melihat sang pacar lagi-lagi hanya diam seakan menikmati setiap tindakan Maddie yang jelas membully. Leon sangat ingin melapor semua tindakan Maddie, namun Denada melarang keras. Lagi pula pemilik sekolah adalah paman pemilik netra hazel itu. Percuma saja melaporkan Maddie yang sangat manja dalam keluarganya.


"Oh hai Leon, apakabar? Gimana hubungan kalian, baik?"


"Lo kenapa berubah gini sih? Bukannya dulu dia yang bantu lo dari para pembully? Kenapa sekarang lo yang bully dia?" Tanya Leon yang kini sudah berdiri di samping Denada dengan kedua tangan terlipat depan dada.


"Lo gak tahu apa-apa jadi gak usah ikut campur!" Tangan kecil Maddie terkepal di samping tubuh mendengar Leon yang tidak kunjung mengerti apa alasan mereka bertengkar.


"Gue gak akan ikut campur kalo lo gak ganggu pacar gue!" Balas pemilik rambut hitam pendek yang juga tak mau kalah. Dadanya naik turun karena menahan marah.


"Udahlah Leon."


Denada memegang tangan kekar Leon, berusaha menenangkan sang pacar yang kini menjadi pusat perhatian penghuni kantin. Bukannya tenang, Leon malah mengacak rambut frustasi dan berbalik menatap marah pada Denada.


"Kamu juga kenapa sih? Aku gak mau kamu diam terus saat di bully, Inka."


Denada hanya tersenyum mendengar nama kecil yang biasa di panggil oleh almarhum ibunya, kini di gunakan oleh Leon. Hanya orang terdekat saja yang biasa memanggilnya begitu, termasuk Madelline. Tapi tidak lagi.


"Temenin aku ke kelas ya? Aku bawa baju ganti kok."


Detik itupun Leon langsung mengamit tangan Denada dan menuntunnya ke kelas, meninggalkan Denada yang terus menatap mereka dengan raut wajah yang sulit di artikan.


********************************************


Jarum jam terus berputar hingga menunjukkan pukul 16.30, jam pulang sekolah di Pioneer International School. Berbeda dengan murid lain, Maddie selalu menyempatkan diri ke perpustakaan di saat semua murid sudah pulang, tidak mau ada yang melihatnya di sana. Dia pun menggunakan nama Denada sebagai samaran. Mrs Barb sebagai penjaga perpustakaan mengetahui ini dan menjaga rahasia gadis tersebut jika masih mau bekerja di sekolah ini. Ya, Madelline mengancam akan memecat wanita 45 tahun itu.


"Ini saja Mrs Blake?" Wanita berambut hitam bergelombang ini bertanya, memastikan.

__ADS_1


"Ya."


"Buku Fisika kelas 12 di pinjam oleh-"


"Denada Winstone." Potong Madelline cepat.


"Saya tahu Mrs Blake." Mrs Barb membuka sebuah buku dan mulai menulis, "Tapi bagaimana jika Mrs Winstone bertanya?" Tanya wanita itu lagi.


"Dia tidak akan bertanya. Kemungkinan besar dia juga sudah tahu, mengingat dia juga siswi labor dan perpustakaan tempatnya."


Dia keluar tanpa berpamitan dan menuju halaman parkir yang hanya beberapa mobil saja yang masih terparkir di sana. Dia masuk dalam mobil dan mengamati 6 kendaraan yang berjejeran. Gadis 16 tahun itu menghafal semua mobil dan motor yang masih betah berdiam di sana. Sudah menjadi kebiasaannya melakukan itu, entah kenapa.


********************************************


"Gunting?"


"Ada."


"Lem kertas?"


"Ada."


"Spidol hitam, biru dan merah?"


Sesampainya di rumah Maddie memutuskan untuk menemani Gavin, adiknya, untuk membeli beberapa perlengkapan untuk praktek besok. Sudah jam 7 malam dan kakak beradik ini belum juga keluar dari supermarket dekat kompleks perumahan mereka.


"Titipan mama udah di cek belum?" Tanya sang adik.


"Kosong. Nanti masuk minggu depan."


Di tengah sibuknya mereka dengan belanjaan, netra hazel Gavin malah menangkap seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai. Terbesit sejenak apa yang akan di lakukan sang kakak, namun dia tidak peduli.


"Inka!"


Sang pemilik nama menoleh dengan senyuman tipis melihat Gavin masih mengingat dan menegurnya. Gavin menuju ke arah Inka di lorong sebelah, dengan Maddie yang menggerutu kesal di belakangnya.


"Hai Inka, beli apa?"


"Keperluan dapur. Kalian?" Balas Denada masih dengan tersenyum manis.


"Cari bahan untuk praktek besok. Akan ada nilai tambahan jika semuanya selesai tepat waktu dan itu lampu hijau untuk gue."


"Denger nilai tambahan aja langsung gerak cepat." Canda Denada yang di balas kekehan.

__ADS_1


Mata Gavin kemudian mulai memindai penghuni toko sebelum dia kembali berbicara, "Lo sama siapa?"


"Sama Leon. Tapi dia ada di luar lagi bicara sama Om Richard."


Denada membalas dengan lirikan singkat pada Maddie yang sibuk dengan ponsel pintar. Meski begitu Denada tetap merasa senang mengetahui salah satu kebiasaan baik Maddie belum berubah, yaitu menemani adiknya. Dan Maddie menyadari tatapan itu.


"Ayo Gavin, gue capek." Maddie menyahut kesal.


Gavin hanya bisa membuang napas panjang dan mengikuti kakaknya, "Kita duluan ya Inka."


Belum habis kekesalannya bertemu dan harus mendengar Denada berbicara dengan ramahnya bersama Gavin, di depan toko, Leon dan Om Richard, tetangga mereka, menyapa. Dan lagi-lagi Gavin membalas.


"Eh Madelline dan Gavin. Belanja ya?" Tanya Om Richard di iringi senyuman ramah.


"Iya, Om sendiri?"


"Ada perlu sedikit sama Leon. Kalian sudah mau pulang? Mau bareng?"


"Gak perlu Om. Pak Yon ikut kok." Tolak Gavin halus. Tepat setelah itu sebuah mobil silver di dekat mereka membunyikan klakson, menandakan mobil sudah siap untuk pergi. Tanpa berkata-kata Maddie langsung menuju mobil tersebut, "Kita pergi dulu, Om, Leon."


Hal pertama yang di sadari Gavin saat memasuki mobil adalah raut wajah sang kakak yang mau menelannya hidup-hidup. Laki-laki yang duduk di bangku SMP itu hanya bisa membuang napas pelan dan melirik sang kakak diam-diam sembari mengenakan sabuk pengaman.


"Harus ya lo sapa semua orang?"


"Kita hanya ketemu Inka, Leon dan Om Richard. Apa salahnya gue sapa mereka?" Balas Gavin membela diri.


"Om Richard sih gak masalah, tapi Inka sama Leon?"


Laki-laki beda 2 tahun dengan Maddie itu memeluk tangan depan dada, "Sampai sekarang gue enggak ngerti jalan pikiran lo. Kok lo tega sih ngebully dia setelah beberapa tahun terakhir?"


"Lo nggak tahu apa-apa."


Jawaban yang selalu keluar setiap di tanya kenapa dia membully Denada. Gengsi tingginya yang membuat dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


"Apapun masalah kalian, tindakan lo salah. Suatu saat nanti lo akan cari dia. Percaya deh." Lanjut Gavin.


"Buat apa cari dia?"


"Firasat gue aja."


Maddie balas menatap Gavin datar, "Ingat ini ya, gue gak butuh dia. Gue gak butuh apapun dari dia dan gue gak peduli sama apa yang mau dia hadapi atau ingin nanti."


********************************************

__ADS_1


__ADS_2