The Witness

The Witness
Bab IX


__ADS_3

Maddie menarik tangan Denada dengan paksa, memasuki perpustakaan dan menutup pintunya. Kebetulan sekali tempat yang di penuhi buku ini kosong. Denada menepis tangan Maddie kasar saat gadis itu berbalik menatapnya.


"Tadi apa?" Tanya Maddie ketus.


"Maksud lo?"


Maddie membuang napas kasar, "Kenapa lo belain gue di depan mereka?"


Tanpa mengindahkan Maddie, Denada malah berjalan melaluinya dan membuka pintu perpustakaan berniat keluar, tapi Maddie mencegatnya. Gadis itu tidak peduli lagi pintu sudah terbuka dan penghuni sekolah bisa melihatnya beradu mulut dengan Denada.


"Lepasin." Kata Denada datar.


"Jawab gue dulu."


Denada bisa merasakan tameng Maddie yang turun. Maddie yang biasanya tegar sekarang tidak. Dan itu membuat Denada sabar menghadapinya. Dari raut wajahnya saja dia jelas kebingungan, bingung karena Denada yang tiba-tiba baik.


"I know you more then anybody. Mereka bohong." Balas Denada.


Maddie berdecih, "Tahu dari mana mereka bohong? Bisa aja gue rebut pacarnya Zoe."


Denada memeluk tangan depan dada, memberi tatapan aneh pada Maddie.


"Hanya dua hal yang berubah dari lo. Kasar dan benci. Lo enggak pernah kasar sama siapapun dan lo gak pernah membenci siapapun. Selama ini gue satu-satunya murid yang lo bully sejak masuk SMA. I know the reason and i'm ok. Gue anggap itu rasa sakit hati lo yang udah di pendam selama bertahun-tahun."


"Itu karena-"


"Karena gue! Gue tahu gue salah!" Denada berteriak, "Selama tiga tahun ini gue selalu nyalahin diri gue. Karna seorang cowok, gue bisa kehilangan seorang sahabat." Napas Denada memburu. Matanya memancarkan emosi.


"Kenapa dari awal lo enggak cerita? Kenapa simpan semuanya sendiri? Kalau aja lo cerita mungkin gak akan kayak gini. Gue enggak akan menaruh rasa ke Leon. Gue akan mundur, untuk lo!". Lanjutnya. "Setelah gue pikir-pikir semua ini bukan salah gue. Tapi lo! Untuk kali ini gue akan egois. Gue tarik lagi kata-kata gue. Ini salah lo."


"Denada.. Gue.. Gue.."


Maddie tidak tahu harus merespon bagaimana lagi. Setelah sekian lama diam, akhirnya Denada mengeluarkan emosi yang di tahan. Beberapa murid yang berlalu lalang berhenti di samping perpustakaan setelah Denada memutuskan meninggikan suara.


Denada menyadari situasi ini akan menjadi perbincangan sekolah. Gadis itu menghela napas pelan, memijit kepala sebelum memutuskan meninggalkan perpustakaan.

__ADS_1


 ********************************************


Sesampainya dari sekolah Maddie mengurung diri, melamun. Emosi Denada yang selama ini di pendam akhirnya keluar. Maddie sadar akan kesalahannya tapi tidak mau mengakuinya. Egonya terlalu tinggi untuk mengatakan dia salah atau bahkan meminta maaf pada Denada, meski dia sudah tidak punya perasaan lagi pada Leon.


Kini satu sekolah tahu permasalahan mereka yang sebenarnya. Persahabatan yang retak hanya karena seorang cowok dan dia sendiri penyebabnya. Dia yang memperbesarkan masalah ini hingga memasuki bangku SMA, bukan Denada. Sedangkan Denada? Dia hanya diam, menyalahkan diri atas retaknya persahabatan mereka.


"Apakah gue sejahat itu?" Gumam Maddie.


Tak lama kemudian Gavin membuka pintu, tanpa meminta izin. Maddie hendak menegurnya tapi raut wajah Gavin tidak seperti biasanya.


"Lo inget gak benda yang lo cerita saat kejadian Angelina?" Gavin langsung saja melontarkan pertanyaan tentang kasus hilangnya Angelina.


"Kenapa?"


"Om Richard punya tongkat kayu kira-kira sepanjang lengan gue. Tongkat itu di gunakan untuk menghancurkan pupuk tanaman." Jelas Gavin.


Maddie tersentak. Perasaan takut terhadap Richard Hartono kembali ia rasakan kala mendapati fakta bahwa Richard berkemungkinan adalah psikopat yang sedang berkeliaran itu. Lebih berbahayanya lagi adalah Richard tidak di curigai siapapun dan malah di anggap korban setelah Sophie di temukan meninggal.


"Tongkat itu ada di dalam GreenHouse?"


Gavin mengangguk mantap, "Di gantung di atas pintu masuk. Tongkat itu bernoda, entah apa noda itu." Gavin merebahkan tubuh dengan mata melotot ke langit-langit kamar Maddie, "Kayaknya kecurigaan lo ada benernya. Mungkin pelaku malam itu memang Om Richard, dan Om Richard kembali ke dalam Green Housenya untuk mengambil sesuatu. Dan benda itu yang dia ambil."


"Kita harus berhati-hati sama Om Richard dan mungkin juga Leon. Hanya untuk berjaga-jaga." Lanjut Gavin yang entah kenapa membuat air mata Maddie menetes.


"Denada.."


 ********************************************


"Makasih udah nganterin pulang."


Leon tersenyum tipis dan membelai kepala Denada pelan. Sudah 3 tahun mereka berpacaran dan keduanya sudah mengenal satu sama lain cukup baik. Leon sangat menjaga dan memanjakan Denada. Dia tidak menyukai Denada yang diam saat di bully, tapi sekarang dia tahu alasan Maddie dan Denada tidak lagi berteman.


"Besok aku harus pulang kampung." Kata Leon.


"Lagi?" Denada mengeluh. Sudah hampir satu bulan ini Leon terus pulang kampung hari jumat sepulang sekolah dan balik lagi untuk sekolah.

__ADS_1


"Kamu tahu sendirikan Nenek tinggal seorang diri di sana. Aku harus lebih rajin jagain dia."


Denada hanya bisa mengangguk pasrah. Dia mengerti akan situasi keluarga Leon yang tidak sedekat keluarga lain. Hanya Leon dan Pamannya, Richard, saja yang masih menjenguk neneknya di kampung. Sedangkan ayah Leon tidak berniat melihat wanita 80 tahun itu. Entah apa yang terjadi di masa lalu, itu membuat perubahan besar antara orangtua Leon, sang nenek dan Richard Hartono.


"Pulang kapan?"


"Hari minggu malam. Hari senin aku jemput kamu lagi."


Leon keluar, membukakan pintu untuk Denada dengan tersenyum.


"Di sana enggak ada jaringan. Gimana kita mau video call?" Denada lagi-lagi merajuk, mengingat dia akan sendirian dan tidak akan saling memberi kabar dengan Leon.


"Hanya 2 hari, Inka." Leon mengecup keningnya, "Ini bukan pertama kalinya kan?"


"Iya tapi setelah kejadian tadi sama Maddie aku mau di temenin. Setidaknya telfon."


Bukan hanya Leon, tapi seluruh penghuni sekolah sudah tahu permasalahan mereka dan menjadi topik panas. Denada perlu sandaran, tempat untuk dia bicara.


"Ceritakan semuanya hari senin. Untuk 2 hari kedepan kamu refreshing dong."


Netra cokelat Leon mengamati rumah minimalis di depannya, "Tante Mala belum masuk rumah sejak tadi pagi ya?"


"Kok tahu?" Denada bertanya balik membuat Leon seketika diam.


"Tante Mala enggak biasanya membiarkan lampu-lampu menyala. Tuh lampu luar menyala, lampu di samping menyala, lampu ruang tamu pun menyala. Ini aja baru jam 4 sore." Jelas Leon sembari menunjuk lampu yang ia maksud. Denada yang mengikuti arah jari Leon mengangguk paham.


Membiarkan lampu menyala saat masih sore bukan kebiasaan wali Denada, wanita yang membantu Denada bekerja di sekolah sebagai anak Labor dan membiarkan Denada menempati rumahnya, sedangkan Mala tinggal di lorong sebelah bersama anaknya.


'Hemat listrik, Inka. Kamu pikir murah?'


Itu yang selalu di katakan Mala Tumewan. Dan Leon tahu itu.


"Tante pulang kampung. Jadi aku sendirian."


Leon mengangguk mantap dan memeluk Denada singkat sebelum kembali memasuki mobil. Dia melambaikan tangan dan menyalakan melajukan mobil.

__ADS_1


"Kan lampu di dalam enggak keliatan kalau menyala." Gumam Denada yang menyadari bahwa lampu ruang tengah tidak kelihatan menyala, terlebih dari jarak dia dan Leon berada tadi. Gadis itu menunduk dan mencari posisi lain untuk melihat cahaya dari dalam rumahnya, tapi tidak terlihat. Entah bagaimana Leon bisa lihat lampu di dalam menyala.


 ********************************************


__ADS_2