
Tepat jam 11.30 Maddie memasuki ruangan persidangan tergesa-gesa. Netra hazelnya mendapati Leon yang duduk di belakang dan sangat kebetulan ada tempat duduk kosong. Gadis itu mengedarkan pandang untuk melihat siapa saja yang hadir. Selain juri dan hakim serta beberapa petugas polisi, ada anak Tante Mala bersama istrinya, Leon dan dirinya.
"Sorry gue terlambat."
Leon menoleh kesal, "Bangun jam berapa sih?"
"Jam 7."
Leon melotot tidak percaya. Dia menatap Maddie dengan alis berkerut, "Jelaskan kenapa bisa terlambat. Lo kan gak masuk sekolah hari ini."
"Gak punya baju."
Leon hanya membalas dengan tatapan datar, "Itu alasan paling bodoh yang pernah keluar dari mulut seorang Madelline Blake."
"Maaf, gue kesiangan."
Leon tidak lagi menanggapi. Sidang sudah hampir selesai. Tidak ada keluarga dari Richard Hartono yang datang selain dia. Ayahnya Leon saja hanya menyumpahi pria itu dan mengutuknya. Leon pun tidak mau datang, tapi bagaimana pun juga dia keluarga. Dan Leon terpaksa menghadiri sidang.
"Hukuman Richard Eddie Hartono sudah di putuskan. Richard akan di hukum seumur hidup tanpa-"
"Sorry Leon." Maddie memegang pundak Leon mendengar keputusan para juri. Sedangkan Leon tidak bereaksi. Dia hanya duduk santai memegang korek api yang ia siapkan untuk sebatang rokok nanti.
"Dia pantas menerima itu semua." Gumam Leon pelan.
Di sela itu terlihat beberapa polisi membawa Richard keluar ruangan. Sidang sudah selesai artinya dia akan segera di bawa ke penjara. Leon dan Maddie pun segera keluar dan mencari pria berpakaian orens itu.
"Permisi Pak, saya keluarga dari Richard Hartono. Bisa saya bicara sebentar dengan dia?" Leon meminta izin kepada seorang petugas yang berjaga di luar ruangan Richard Hartono.
"Di mana orangtua kamu?" Polisi berbadan tegap itu balik bertanya sembari menatap Leon dari ujung kepala hingga kaki.
"Saya keluarga satu-satunya." Leon bersikeras. Entah apa yang ingin ia katakan, yang pasti Maddie tidak mau mendengarnya. Leon cukup menakutkan saat marah.
"3 menit."
Pintu berwarna cokelat di buka, mempersilahkan Leon masuk. Maddie pun memutuskan menunggu Leon sembari mengabari Will tentang hasil persidangan. Tak terasa 3 menit sudah berlalu dan Leon keluar dengan raut wajah yang tidak di sangka Maddie. Leon terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Hey Leon." Maddis berlari kecil menyusul Leon, "Gue mau ke rumah sakit. Lo mau ikut?"
"Enggak deh, gue mau istirahat. Gue gak bisa tidur tenang sejak Inka menghilang dan sekarang karena Om Richard sudah di tahan, malam ini gue bisa tidur tenang." Jelas Leon panjang lebar. Dia menghentikan langkah dan menatap Maddie, "Titip salam ke Tante Mala."
Leon segera melompat ke atas motor, mengenakan helm kemudian berlalu meninggalkan Maddie.
....
1 minggu telah berlalu dan kondisi Denada semakin membaik. Ini sudah minggu ke 2 di bulan desember dan Denada masih betah di tempat tidur, di rumah sakit. Meski berbeda kelas, Maddie menyempatkan diri untuk melakukan semua tugas Denada mengingat sebentar lagi ujian. Gadis itu juga tidak lupa menyogok ketua kelas 12 IPS untuk mengocopy semua catatan yang di lewatkan Denada dan memberikan itu padanya.
Teman yang baik bukan? Kali ini Will pun tidak berani menegur Maddie. Toh dia melakukan ini untuk Denada.
"Nomornya udah aktif?"
"Belum."
Kini Maddie dan Will mondar-mandir depan sebuah ruangan kelas 1 dengan gusar. Sang pasien sudah sadar dan orang yang mereka cari belum saja menampakkan batang hidungnya. Itu membuat Maddie mengumpat.
"Dia ke mana sih? Kayak di telan bumi, mendadak ngilang." Maddie terus berceloteh dan mengatai Leon yang tidak lagi ia lihat sejak persidangan.
"Banyak pikiran mungkin. Kasus Om Richard terlalu berat untuk Leon. Gue juga gitu kok waktu bokap di tahan." Will berusaha memahami Leon yang belum juga mengunjungi pacarnya, yang sudah 1 minggu lebih berdiam di rumah sakit.
Will memutuskan mengajak Maddie menjenguk Denada untuk pertama kalinya sejak sadar kemarin. Dengan memamerkan senyuman mereka berdua memasuki ruangan yang sudah di penuhi bunga. Tanta Mala yang melihat mereka pun keluar, memberi mereka waktu sendiri.
"Hai."
"Hai." Denada membalas dengan suara serak.
"Apa yang sakit?" Tanya Maddie. Ia berusaha untuk tidak meneteskan airmata.
"Badan gue pegel." Balas Denada lemah.
"Udah makan? Gue bawain sup jagung sama roti tawar." Will berkata sembari meletakkan bawaannya di meja dan mengatur semua itu di atas meja.
"Roti tawar deh."
__ADS_1
"Siap." Will berkata lantang.
"Makasih udah donorin darah lo, Will."
"Sama-sama." Balas Will tersenyum sembari menyodorkan sepotong roti.
Denada beralih ke Maddie, "Thanks juga udah cariin pendonor. Makasih untuk orangtua lo juga."
Maddie membalas dengan anggukan singkat.
"Lo.. masih inget apa yang terjadi malam itu?"
Maddie menegur Will dengan melotot, "Dia butuh istirahat Will. Jangan di paksa."
"Masih. Terlalu jelas malah." Balas Denada. Dia paham rasa penasaran teman-temannya.
"Lo gak perlu cerita."
Denada memperbaiki duduknya dengan Will yang membantu mengatur bantal untuk dia bersandar, "Malam itu gue memutuskan pulang sendiri. 15 menit setelah pestanya selesai gue pesen ojol. Saat kita baru keluar dari Teling, pengendara itu langsung membawa gue ke sebuah supermarket, katanya dia haus, jadi dia beli minum. Nah gue juga di beliin."
"Dan lo minum saat itu juga?"
Denada mengangguk menanggapi pertanyaan Will, "Botolnya masih di segel jadi gue gak kepikiran udah di sabotase. Setelah kita jalan lagi kepala gue mulai pusing. Singkat cerita saat sadar ternyata gue ada di sebuah kamar, di dalam rumah Om Richard."
"Did he.. touch you?" Maddie bertanya dengan sangat hati-hati.
"Menurut hasil dokter enggak. Masih P gue. Tapi saat gue mau bercerita, dia mendadak menerima telfon dan meneriaki si penelfon, entah siapa itu, yang pasti dia gak senang. Detik berikutnya gue di jambak, di tendang.. di.."
Airmata keluar saat Denada menceritakan apa yang di lakukan Richard Hartono. Maddie langsung memeluk Denada, menenangkan gadis itu dan memberikan air untuk ia minum. Maddie membelai kepala Denada pelan sembari tersenyum masam.
"Leon mana?"
Pertanyaan Denada berhasil membuat Maddie dan Will saling menatap.
"Kita juga gak tahu dia di mana. Terakhir gue ketemu Leon di persidangan Om Richard." Jelas Maddie yang juga kebingungan di mana Leon, "Om Richard di penjara seumur hidup. Dia juga mengaku membunuh Sophie, Angelina dan Vivi dengan alasan membunuh bisa membuat pikirannya tenang."
__ADS_1
Mengatakan itu membuat Maddie bergidik ngeri sendiri. Bayangkan saja pria itu harus mengambil nyawa seseorang agar pikirannya tenang. Sampai detik ini Maddie tidak habis pikir Om Richard memang psikopat yang menghebohkan kota. Tetangga yang ia kenal sebagai dosen ramah yang hobby menanam punya kelainan jiwa. Beruntung saja polisi menemukan Denada sebelum Om Richard menghabisinya juga.
********************************************