
Semua kegiatan Maddie seperti sudah terjadwal. Saat istirahat dia, Zoe dan Alis mulai bertingkah di kantin, kemudian jalan-jalan di mall menghabiskan waktu luang dan sebagian uang pemberian orang tua sepulang sekolah. KFC kawasan menjadi tempat ketiga gadis itu bersantai. Mereka mengambil tempat di lantai kedua dengan pemandangan pantai sembari berfoto ria.
"Zoe!"
Tiga siswi berseragam khusus sekolah Pioneer itu menoleh dan mendapati beberapa teman dari sekolah lain menuju ke arah mereka dengan senyum lebar menghiasi wajah.
"Ayo sini!" Seru Zoe pada sosok berambut hitam pendek yang memegang bola basket.
"Lo ngajak Dennis dan timnya?" Bisik kasar Maddie.
"Apa salahnya Mads? Mereka populer di Eben Haezar, selain itu mereka juga kaya dan ganteng." Zoe menoleh ke arah Maddie dengan satu kening terangkat, "Lo belum mau nerima Dennis? Nggak nyesel nanti dia dapat cewek lain?"
Sebelum Maddie membalas sosok yang di bicarakan sudah duduk di depannya. Maddie memutar bola mata malas saat Dennis Alow mengedipkan mata. Jika itu di lakukan pada orang lain mereka pasti sudah luluh, tapi tidak dengan gadis satu ini. Dennis memang lelaki yang tampan, tapi sikapnya yang sok keren sangat berlebihan. Bukan baru satu kali Maddie mendengar bahwa Dennis sering membandingkan wajahnya dengan artis luar negeri, dan itu membuat Maddie jijik.
"Hei gorgeos. Kenapa nggak angkat telfon gue kemarin?"
Sapaan yang sangat tidak nyaman kembali mengganggu indra pendengaran penyandang Blake itu. Maddie hanya menatap Dennis datar kemudian meraih ponsel pintarnya, berniat menyibukkan diri.
"Oke mumpung dua hari lalu gue baru aja lepas gelar jomblo, gue yang traktir." Zoe berucap sembari bertepuk tangan. Alis dan lainnya bersorak ria mendengar kata 'traktir'. Meski mereka termasuk dalam golongan anak orang kaya, tapi kata 'traktir' tetap berpengaruh. Di sisi lain Maddie justru kebingungan.
"Si Zoe jadian sama siapa?" Tanya Maddie.
"Gue." Balas seorang laki-laki dengan tersenyum ke arah Maddie.
Spontan Maddie langsung menoleh ke arah Alis dengan mata terbuka lebar. Alis yang mengerti maksud tatapan Maddie hanya menggerakkan mulutnya tanpa suara, berkata 'Tunggu Zoe'.
********************************************
"Oh ayolah Madelline.. Kris udah ganteng, lucu, keren dan kaya. Itu udah nilai plus plus. Banyak cewek yang mau di posisi gue saat ini karena bisa dapetin hati Kris."
"Lo tahu kan dia playboy?"
Maddie hanya tak ingin Zoe sakit hati nanti. Tapi gadis itu terlihat tidak senang Maddie yang ikut campur dalam hubungan percintaannya. Seketika mood Zoe berubah. Tatapannya pada Maddie berubah menjadi sinis.
"Semua orang bisa berubah Maddie. Gue enggak mau jomblo selama masa SMA karena gagal move on dari pacar orang!"
"Zoe!" Alis membentak.
Maddie malah terlihat santai, seakan tahu apa respon yang akan di dapat. Alis balik menatap Maddie takut dan sedikit menunduk. Ia memanggil nama gadis kaya itu pelan tapi Maddie hanya terkekeh. Setidaknya dia tahu alasan Zoe dan Alis bertahan berteman dengannya di saat orang lain tidak. Karena takut.
"Mads, bukan gitu.. Zoe gak bermaksud-"
"Iya iya.. selamat ya lo udah jadian sama Kris."
__ADS_1
Potong Maddie cepat. Segera dia meraih tas dan membayar semua pesanan mereka dengan sombongnya. Maddie melangkah keluar dengan senyum menghiasi wajah. Setidaknya sekarang dia punya alasan untuk menjauh dari mereka.
********************************************
Sudah hampir 1 minggu Maddie sudah tidak lagi terlihat dekat dengan Alis dan Zoe. Penghuni sekolah pun langsung tahu bahwa hubungan mereka tidak sedekat biasanya. Sejak itu pula banyak gosip yang beredar tentang dan alasan mereka tidak berteman lagi. Semua itu tidak benar. Denada pun hanya bisa menatap Maddie sendu, menyadari bahwa dia tidak bisa menemani gadis tersebut. Maddie tetaplah Maddie. Gadis tangguh yang sombong.
Sebagian besar orang beranggapan Maddie kesepian karena hanya Zoe dan Alis yang mau berteman dengannya, tapi kenyataan tidak. Maddie merasa jauh lebih tenang. Lagu Ed Sheeran ft Justin Bieber I don't Care menemani perjalanan pulangnya. Maddie bernyanyi pelan dengan jemari mengetuk stir yang terbungkus cover berbulu warna biru muda. Tak butuh waktu lama hingga mobil biru milik Maddie memasuki pekarangan di salah satu perumahan elit.
"Ah kebetulan sekali Madelline sudah pulang. Ayo sini nak." Suara sang mama menggema, menyapa indra pendengaran, "Perkenalkan ini Mike dan Ben pemilik M&B's Party." Lanjut wanita berambut cokelat sebahu itu, sembari menunjuk seorang laki-laki berambut pendek yang mengenakkan kacamata dan seorang laki-laki lagi berambut pendek yang di cat merah.
"Kalian yang dekor pesta selebgram terkenal itu kan?" Tanya Maddie.
"Jika maksud mu Caroline Tumurang, iya." Balas Mike, laki-laki yang berkacamata.
"Maksud kedatangan mereka adalah untuk membahas acara kamu untuk dua minggu depan."
Maddie menatap mamanya dengan kening berkerut, "Aku kan udah bilang gak usah bikin pesta. Aku maunya liburan ke Jepang ma."
"Tahun depan aja ya? Mama sama papa udah terlanjur buat janji sama mereka."
Dengan membuang napas kasar Maddie menyandarkan punggung ke sofa kulit berwarna hitam. Mike dan Ben hanya bisa menggaruk tengkuk canggung. Jika gadis SMA ini membatalkan perencanaan Olivia Saroinsong, hilang sudah upah besar yang mereka bicarakan.
"Kalau begitu biar aku yang atur semuanya. Tema, makanan, undangan, photobooth aku yang tentukan."
Sepeninggalan wanita 45 tahun itu, Mike dan Ben mengeluarkan buku, pulpen serta sebuah tab dan laptop bermerek. Dua orang itu mengatur semua barang di atas meja dengan rapih.
"Saya mau-"
"Tidak perlu bicara formal." Ujar Ben dengan tersenyum.
"Sebelumnya, apakah kalian sudah punya gambaran untuk acara nanti? Kalian sudah bicara sedikit dengan mama tadi kan?"
"Kami punya beberapa foto dari klien kami sebelumnya, jika berminat."
"Gue mau melihat lima foto dari pesta termewah dan terbaik kalian."
Setelah menunjukkan beberapa gambar, Maddeline menunjuk sebuah gambar bertema bunga dan memberikannya lagi pada Ben.
"Akan lebih membantu kalo lo udah menentukan warna tema. Kita bisa menyesuaikan warnanya di kue dan dekorasi."
"Kue dan cupcake harus dari tempat langganan keluarga gue. Marry's Bake. Nanti gue yang bicara sama mereka, dan kalian tinggal mengabari kapan akan menjemput pesanan itu."
"Marry's Bake." Mike menulis di buku catatannya, "Ada lagi?"
__ADS_1
"Warna kesukaan gue biru muda, tapi gue enggak mau pestanya kayak baby shower. Gue mau warna yang kalem tapi elegan. Semuanya harus Perfect." Aura berbisnis Maddie keluar saat berbicara mengenai keinginannya di pesta nanti. Ben dan Mike pun kemudian mengajukan ide-ide untuk pesta mewah Madelline Blake.
********************************************
Persiapan untuk pesta ulangtahun Maddie sudah hampir lengkap. Besok adalah hari di mana Maddeline menjadi sosok yang akan di perhatikan banyak orang. Pakaian, sepatu, makeup serta tataan rambut harus sempurna. Saat ini Ben dan Mike tengah menurunkan beberapa barang dari mobil saat Maddie menuju rumah tetangganya, Richard Hartono. Green House mini milik pria berprofesi dosen itu selalu menarik perhatian saat orang memasuki pekarangan rumahnya atau bahkan hanya sekedar lewat. Sangat kebetulan Om Richard sedang duduk di depan rumah memegang sebuah tablet di temani secangkir kopi.
"Ada apa Madelline?"
"Om masih punya bunga mawar putih sama daun mint enggak?"
"Ada. Mau ambil berapa?" Balas Om Richard sembari berdiri dan menuju sebuah bangunan kecil yang di kelilingi kaca, berisi berbagai bunga dan beberapa tanaman sayur-sayur.
"Satu ikat mawar putih dan 10 lembar daun mint."
Pria berusia 55 tahun itu meraih sarung tangan karet serta gunting, dan mulai menyiapkan pesanan Maddie satu per satu.
"Ada tamu ya? Tidak biasa Olivia memerlukan 10 lembar daun mint."
"Ada beberapa pekerja di rumah."
Maddie yang tengah berjalan mengelilingi tempat itu berhenti di depan sebuah pohon tomat yang daunnya mulai menguning. Indra penciuman Maddie seakan di uji saat sebuah bau busuk tercium di sana.
"Kok bau sih om?"
"Om belum mandi Maddie. Sebau itu ya?" Richard Hartono tertawa canggung.
"Bukan om, kayaknya ada sesuatu yang udah mati dan mulai busuk."
Gerakan Richard serentak berhenti. Dia melepas pelan semua yang ada di tangan dan menarik napas panjang. "Apa maksud mu Maddie?" Aura aneh keluar dari pria tersebut tanpa Maddie sadari. Richard berbalik, secara perlahan menuju ke arah Maddie yang tengah membelakanginya.
"Ah ini. Tomat-tomat ini udah busuk. Jorok ah om, buanglah. Banyak lalar lagi. Pusing ciumnya, tajam banget."
Richard berhenti dan menoleh ke arah tangan Maddie yang menunjuk sebuah ember berisikan tomat busuk yang sudah bau dan berlalat. Ekspresi Richard seketika berubah dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Eh? Iya iya, om lupa buang tomat-tomat itu." Pria itu langsung mengisi semua pesanan Maddie ke dalam tas kresek, "Ini bunga mawar dan daun mintnya."
"Ini uangnya."
"Terimakasih ya Madelline."
Richard masih terus memandangi punggung gadis remaja itu dengan raut yang sulit di artikan. Pria itu menunduk ke bawah tanaman tomat yang di curigai Maddie tadi dan dengan cepat menutup sesuatu yang merupakan sumber bau busuk yang sebenarnya. Apapun itu, yang jelas bukan tomat.
********************************************
__ADS_1