The Witness

The Witness
Bab VII


__ADS_3

Aroma susu mulai menyapa indra penciuman Maddie saat pembantu yang sudah bekerja lebih dari lima tahun itu masuk. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan putri Chester Blake masih saja terbangun, duduk di balkon dengan sebuah teleskop.


"Bibi bawain susu hangat dan vitamin."


"Taruh saja di meja." Maddie melepas pandangan sejenak dari teleskop dan berbalik menatap Bibi Foni, "Tolong matikan lampu kamar ku bi."


Melihat bintang adalah hobby baru saat Chester memberikan hadiah teleskop di ulangtahunnya. Sama seperti Olivia, Maddie merasa takjub kala memandangi bintang di gelapnya langit.


Jarum jam sudah tertuju di angka 12 saat sebuah lampu jarak jauh dari sebuah mobil hitam menangkap perhatian Maddie kala mobil itu berhenti di depan rumah Richard Hartono. Maddie baru saja menutup pintu balkon.


Gadis 17 tahun ini berasumsi bahwa setelah Richard membawa teman-temannya makan, dia keluar lagi dengan orang lain lalu di antar pulang, karena mereka menggunakan mobil Will. Tapi yang keluar malah seseorang berpakaian hitam, yang menutup separuh wajah dengan kain. Maddie berusaha semampu mungkin untuk mengenali orang tersebut hanya dengan bantuan sebuah lampu jalan yang berdiri di rumah sebelah.


"Untung saja lampu kamar dan balkon udah di matikan." Gumam Maddie pelan.


Tak lama kemudian seorang perempuan melintas dan secepat kilat sosok berpakaian hitam ini memukul perempuan itu dengan sebuah tongkat kayu. Netra hazel Maddie seakan mau melompat keluar dari tempatnya. Perempuan yang akhirnya tak sadarkan diri itu langsung di masukkan ke dalam mobil. Detik berikutnya sosok berpakaian hitam itu memasuki pekarangan Richard, masuk ke dalam Green Housenya, dan keluar lagi dengan sesuatu berukuran lengan dewasa. Tak lama kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan kawasan perumahan.


Air mata perlahan keluar seiring dengan Maddie menutup rapat mulut dengan tangan yang bergetar. Gadis itu masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia saksikan.


Ia mencoba mengingat detail kecil yang ia mungkin lewatkan, tapi otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Dia malah membayangkan apa yang di rasa perempuan malang itu, yang tidak tahu apa-apa dan malah di pukul dan di bawa orang asing. Entah apa yang akan terjadi.


"I'm a witness."


 ********************************************


"Maddie."


"Maddie."


Masih setengah sadar saat suara lembut memanggil, tiba-tiba Maddie teringat kejadian yang membuat dia terjaga hampir semalaman. Maddie melotot dan duduk dengan dua kaki di silang, menatap balkonnya dengan tatapan kosong. Olivia hanya bisa mengerutkan alis melihat tingkah aneh sang putri.


"Kamu kenapa?"


Maddie hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Mandi gih. Pak Yon sudah menunggu di bawah. Bentar lagi kelas di mulai."


Wanita berusia 45 tahun itu membalikkan badan, saat Maddie mencengkam pergelangan tangannya. Tangan Maddie dingin. Olivia spontan memegang dahi Maddie, memastikan sang putri tidak sakit.


"Ma, siapin aku bekal ya?"


"Kamu sakit?"


Lagi-lagi Maddie hanya menggeleng.


"Tumben kamu minta bekal. Ada apa?"


"Lagi malas aja jajan di kantin."


Tanpa bertanya lagi Olivia menyetujui permintaan Maddie dan pergi menyediakan bekal yang di minta.


 ********************************************

__ADS_1


Di sekolah pun Maddie terus melamun. Yang ia saksikan semalam merupakan kejadian terseram yang pernah ia lihat. Pertanyaan yang terus menghantui adalah apakah perempuan malang itu masih hidup?


"Madelline!"


Bentakan Mrs Linda menyadarkan si gadis dari lamunan. Maddie melirik ke samping dan mendapati Zoe serta Alis yang tersenyum miring. Sudah pasti mereka yang melaporkannya pada Mrs Linda.


"Kamu bisa keluar dari kelas saya jika tidak mau mendengar penjelasan penting ini."


"Maaf." Balas Maddie.


"Saya tidak mau ada murid yang duduk seenaknya dan tidak memperhatikan. Tidak perduli kamu siapa. Paham Madelline?"


Madelline hanya bisa mengangguk. Biasanya ia akan melaporkan ini pada Paman tercinta pemilik sekolah ini, namun ada hal lain yang lebih penting. Di tambah gadis cantik ini tidak lagi mau menambah daftar guru yang kehilangan pekerjaan di semester ini.l, hanya karena menegurnya di kelas.


"Ok. Open page 35, translate the story and answer the questions below. You have time until lunch break."


Sekuat mungkin Maddie berusaha mengalihkan pikiran dengan tugas-tugas sekolah. Sesaat ia berpikiran untuk mengganggu Denada, tapi entah kenapa dia tidak mau. Aneh. Setelah kelas selesai Maddie berjalan tanpa tujuan sembari menunduk, hingga di depan perpustakaan dia tak sengaja menyenggol seseorang.


"Jalan pake mata." Sahut suara yang tak asing, datar.


Sontak Maddie mengangkap kepala, memperlihatkan mata bengkaknya pada teman SMPnya itu. Melihat Leon membuat Maddie sedikit lega meski sapaannya sangat tidak bersahabat.


"Lo nangis?" Leon bertanya.


"No." Jawab Maddie cepat.


"Terus kenapa mata lo bengkak kek gitu?"


"Gak bisa tidur tadi malam. Mimpi buruk."


"Semua orang pernah punya mimpi buruk. Tapi semua enggak kayak lo yang mengkhayal dengan mata bengkak." Leon memeluk tangan depan dada, "Lo bohong."


Di tengah percakapan mereka Denada muncul dengan tatapan aneh. Dia tidak pernah melihat Leon berbicara dengan Maddie berdua. Apalagi dengan kondisi Maddie yang terbilang berantakan. Leon secepat mungkin menyadari kehadiran Denada yang kelyar dari perpustakaan.


"Oh hai babe. Udah selesai?"


Denada mengangguk dengan senyuman tipis, menghiraukan Maddie yang masih di depan mereka.


"Aku lapar. Makan yuk."


Dengan menggenggam tangan Denada, Leon mengalihkan matanya, menatap Maddie dengan tatapan yang tidak pernah ia berikan sebelumnya. Lembut.


"Maddie, lo mau ikut?"


Tapi Maddie menggeleng dan berlalu secepatnya.


"Kamu ajak Maddie?"


"Kita menghabiskan beberapa hari terakhir sama dia karena tugas pak kepsek. Aku juga ajak Will kok." Balas Leon santai. "Lagian dia kelihatan butuh seorang teman."


Di kantin sudah ada tiga piring nasi ayam mentega, dengan tiga botol air minum serta sebungkus cemilan berukuran besar. Will tengah asik bermain ponsel pintarnya saat Denada dan Leon duduk.

__ADS_1


"Denger-denger Maddie udah gak temenan lagi ya sama Zoe dan Alis?" Tanya Denada pada Will.


Will mengangguk, "Kata orang-orang sih mereka berantem karena Maddie mau merebut pacarnya Zoe."


"Itu bohong."


Will mengerutkan alis mendengar balasan Denada yang sangat cepat membantah.


"Siapa yang bohong?"


"Maddie emang nyebelin, tapi dia bukan tipe orang yang mau merebut pacar orang. Apalagi pacarnya Zoe." Denada menegaskan semua perkataannya membuat Will keheranan.


"Tahu dari mana? Lo aja enggak pernah akur sama dia. Lagipula Zoe mungkin bener, Alis juga berkata yang sama."


Denada hanya bisa tersenyum masam dan membalas, "Percaya atau enggak, gue lebih tahu sifat Maddie. I know her too well dan dia gak mungkin menyukai bahkan sampai merebut pacar temannya."


Maddie yang sedari tadi berada di belakang Denada, Leon dan Will hanya bisa menunduk. Dia tadinya hanya mengantri untuk sebungkus keripik kentang dan tidak sengaja mendengar percakapan tiga orang ini. Tiba-tiba mereka mengganti topik pembicaraan. Topik yang mampu membuat lutut Maddie lemas.


"Berita tadi pagi ada orang hilang. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun, pekerja di toko pakaian Matahari." Will membuka topik.


"Beneran?"


"Iya. Managernya bilang pagi ini seharusnya toko sudah buka karena kuncinya ada di dia, tapi saat di telfon malah enggak aktif. Gak lama kemudian adiknya datang untuk mencari dia di toko. Seterusnya mereka berakhir di kantor polisi dan membuat laporan."


Maddie mundur sedikit berniat mendengar lebih. Dia bahkan menyuruh dua orang di belakangnya untuk maju. Penyandang nama Blake itu berpura-pura mengikat tali sepatunya dan mendekat.


"Katanya sih orang hilang ini alamatnya di perum citraland. Kayaknya gak jauh dari rumahnya Maddie."


Dan saat itu juga hati Maddie menjadi tak karuan. Maddie memang tidak melaporkan kejadian semalam pada polisi karena takut pelakunya memang Richard Hartono mengingat penjahat tadi malam masuk tanpa ragu-ragu ke Green House miliknya.


********************************************


Sepulang sekolah Maddie mengurung diri di kamar. Dia mulai menimbang apakah ia akan melaporkan apa yang ia lihat semalam atau tidak. Bagaimana jika salah? Bagaimana jika orang asing semalam tahu dia yang melapor dan akan menjadikan dia korban? Bagaimana jika keluarganya di ancam?


Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuat Maddie menoleh. Di sana Gavin masuk masih dengan seragam putih birunya.


"Mama bilang lo sakit."


Maddie hanya menggeleng.


"Udah denger berita orang hilang?"


Maddie menatap Gavin penasaran, "Lo tahu kasus itu?"


"Udah rame di IG sama Facebook. Rumor beredar si korban tinggal di perum sini."


Maddie berdiri dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir sembari mengusap tangannya. Setelah menimbang-nimbang, dan Maddie sangat mempercayai adik yang berbeda tiga tahun darinya itu, Maddie memutuskan untuk cerita apa yang ia saksikan.


"Gavin, can i trust you?"


Aura Maddie seketika berubah. Gavin menyadari tatapan sang kakak yang tajam dan serius. Maddie tidak biasa memberi tatapan seperti itu. Gavin pun hanya bisa mengangguk tegas membalas Maddie.

__ADS_1


"Tentang perempuan yang menghilang itu.." Maddie membuang napas pelan, "I think she's dead."


********************************************


__ADS_2