
"Mayat yang di temukan tadi malam sudah di identifikasi. Perempuan itu bernama Sophie Jihan Gunawan. Mahasiswi 22 tahun yang di nyatakan hilang sejak 15 Maret 2022."
Pekuburan keluarga Gunawan di daerah Tomohon merupakan tempat peristirahatan terakhir Sophie Gunawan. Tempat luas itu di kelilingi pohon dan rumput hijau, yang lokasinya cukup jauh dari keramaian jalan. Selain kubur Sophie, terlihat enam kubur lain yang berjejeran rapih, masing-masing dengan bunga mawar putih yang menghiasi makam mereka.
Ibadah pemakaman Sophie sangat tertutup mengingat ia merupakan Selebgram terkenal. Hanya keluarga, kerabat dekat serta Richard dan beberapa kerabat Richard, termasuk keluarga Blake. Leon dan Denada juga terlihat hadir dan memberikan sekuntum mawar putih, tepat di samping batu nisan.
"Kami turut berdukacita, Richard."
Sang pria yang berprofesi Dosen itu tersenyum tipis dan menyalami tangan Chester.
"Terimakasih sudah hadir, Chester, Olivia, Maddie dan Gavin." Richard menyeka air mata sebelum kembali berbicara, "Aku masih belum percaya bahwa dia sudah meninggalkan aku, padahal minggu yang lalu dia menelfon dan menanyakan kabar. Bagaimana mungkin aku tahu kalau itu percakapan terakhir kita.. Sungguh kejam perbuatan orang yang berani membunuh Sophie."
Maddie tersentak.
"Minggu lalu?"
Richard menoleh ke arah Maddie penuh tanya, "Ada masalah?"
"Ulangtahun ku minggu lalu. Dan saat itu Sophie sudah 1 minggu menghilang tanpa kabar. Gak masuk akal jika Sophie menelfon minggu lalu karena saat itu Sophie sudah menghilang." Jelas Maddie, mengeluarkan aura penuh kecurigaan.
"Madelline!" Marah Chester yang menganggap perbuatan Maddie tidak baik.
"Aku yang salah Chester. Maksud aku dua minggu lalu. Pikiran ku sudah cukup terganggu dan aku memang salah bicara tadi. Sophie.. Sophie meninggalkan bekas yang sangat mendalam. Aku sampai bisa salah bicara."
Lagi-lagi Maddie hanya mengerutkan kening. Semua yang di katakan tetangganya ini seakan sudah tertulis dan Richard hanya menghafalnya. Ini sangat aneh.
"Sebaiknya kita pergi." Ujar Olivia, "Sekali lagi, Turut Berduka." Sambung wanita itu sebelum meninggalkan area pekuburan keluarga Gunawan.
********************************************
"Apa itu tadi Maddie?"
Sesampai di rumah Chester segera meminta penjelasan Maddie. Apa yang dia katakan sangat tidak baik, apalagi menaruh curiga pada Richard. Dan Chester menyadari itu.
"Aku hanya bingung dengan ucapan Om Richard."
"Tunangannya baru meninggal, pikirannya tidak bisa tenang. Wajar dia salah bicara. Tidak baik kamu berbicara seakan kamu menaruh kecurigaan pada dia." Balas Chester marah.
Olivia menenangkan suaminya, lalu menoleh ke arah Maddie yang sudah menunduk, "Tindakan kamu tadi salah. Minta maaf ke Richard nanti, Maddie."
"Iya ma."
Langsung saja gadis tujuh belas tahun itu naik, menuju kamarnya dan mengambil sebuah pulpen dan menulis sesuatu di kalendernya. Gavin masuk tanpa mengetuk, dan duduk di tempat tidur sembari memperhatikan apa yang sang kakak lakukan.
"Lo kenapa sih?"
Tidak ada balasan dari pemilik surai hitam panjang itu.
__ADS_1
"Lo.. Curiga sama Om Richard?"
Maddie menatap Gavin singkat sebelum kembali menulis di kalendernya, "Semua orang terutama orang terdekatnya harus di curigai, bukan?"
"Iya sih.. Tapi Om Richard?"
Maddie membuang napas kasar sebelum menghadap Gavin, "Everybody has a demon inside. Either you like it or not."
"Kita kenal Om Richard sejak 6, 7 tahun lalu. Dia orang yang baik, lo tahu itu."
Gavin mencoba memahami kenapa Maddie mencurigai Richard.
"Something doesn't feel right." Kata Maddie pelan, "Pembunuh Sophie masih berkeliaran. Kita tidak boleh segampang itu mempercayai orang. Siapapun itu. Do you understand Gavin?"
..
Hujan turun deras seakan ikut bersedih saat kemarin tubuh kaku Sophie di temukan. Bau tanah basah mulai tercium kala angin berhembus. Jam menunjukkan pukul lima empat puluh saat Maddie baru keluar sekolah. Gadis itu menghabiskan waktu di kantor sang paman, menghindari orang banyak, tak berniat di ganggu siapapun. Entah kenapa kasus kematian Sophie sangat mempengaruhi mood-nya.
"Maddie!"
Sang pemilik nama menoleh dan mendapati Richard berjalan kehujanan, ke arahnya. Meski pria itu sedang tersenyum, anehnya Maddie malah takut. Sejak pemakaman Sophie, aura Richard mendadak berubah. Dia lebih tertutup dan hampir tidak pernah terlihat lagi. Dan sore ini dia menghampiri Maddie dengan sekuntum mawar merah. Mawar yang sama yang dia taruh di samping foto Sophie di dalam rumahnya.
"Tugas kalian sudah selesai?"
"Belum. Masih ada beberapa soal lagi, tapi karena Om masih.. Sophie.. Jadi kita memutuskan untuk menundanya hingga besok."
"Tidak perlu menunda. Om bisa hari ini."
"Kita mengerti situasi Om. Kita semua sudah sepakat untuk meneruskannya besok."
"Om butuh pengalihan dari kematian Sophie. Datang sebentar ya? Nanti habis itu om traktir makan malam untuk kalian semua."
Anggukan lemah Maddie berikan sebagai tanda setuju. Dengan lemas dia memasuki rumah dan segera menghubungi tiga teman kelompoknya.
********************************************
"Bagaimana dengan hobby?" Tanya Denada.
"Gardening. Kalian bisa lihat di depan ada Green House. Kalau libur, om bisa seharian di sana."
"Apa saja yang om tanam?" Tambah gadis bersurai hitam itu.
"Anything. Tapi lebih banyak menanam bunga mawar. Itu bunga kesukaan Sophie."
Denada melirik Will kemudian mengangguk, menandakan wawancaranya cukup sampai di situ.
"Kita perlu beberapa foto Green House milik Om dan selesai. Boleh?"
__ADS_1
"Leon bisa mengantar kalian dan mengambil foto di dalam, selesai itu kita makan di luar. Om yang traktir."
Keempat siswa tingkat senior itu merapikan alat tulis dan segera menuju Green House milik Richard. Sibuk mengambil gambar, Madelline malah keluar dari tempat yang di kelilingi kaca itu.
"Lo mau ke mana?" Will bertanya.
"Tidur."
"Gak ikut? Di traktir loh." Will mencoba membujuk Maddie ikut, tapi si gadis tetap menolak.
"Males."
Masih dengan wajah datarnya Maddie menaiki tangga dan masuk kamar. Semua catatan dan rekaman tadi ada di tangan, dan dia memutuskan membuat bagiannya di presentasi, dan besok akan di teruskan Denada. Tapi saat dia membuka buku, pulpen ungu yang teramat ia sayangi tidak ada. Dengan menggerutu kesal Maddie terpaksa berbalik ke rumah Richard Hartono.
"Om Richard. Om Richard."
Pintu yang tidak tertutup membuat Maddie mempersilahkan diri sendiri masuk. Dia sampai memanggil Leon tapi tidak ada balasan. Rumah ini kosong. Mendadak Maddie teringat akan kecurigaannya. Gadis tujuh belas tahun itu secepat mungkin menggeledah tempat yang ia duduk tadi tapi tidak ada. Maddie pun berpindah ke Green House dan mencari pulpennya dengan cahaya minim dari tempat tersebut.
Tak jauh dari sebuah tanaman pulpen mengkilap Maddie terlihat. Tapi saat dia menunduk untuk mengambil alat tulis itu, netra hazelnya malah menangkap sebuah ember kecil berisikan cairan merah, di bawah sebuah meja kecil yang terletak di pojok ruangan. Di karenakan cahaya lampu yang minim, ia tidak bisa melihat cairan itu dengan jelas. Tangan mungilnya berniat meraih ember itu saat namanya di panggil.
"Maddie."
Hatinya berdegub kencang. Bukan karena jatuh cinta, tapi ketakutan. Takut apa yang ia lihat adalah apa yang tak seharusnya ia lihat, dan malah tertangkap basah. Tapi melihat siapa yang memanggil, Maddie membuang napas lega.
"Leon."
Dengan memeluk tangan depan dada, Leon menatap Maddie penuh tanya. Aneh saja melihat gadis itu berada di tempat ini sendirian, saat ia menolak ajakan pamannya.
"Ngapain di sini?"
Tanpa mengucapkan satu kata, Maddie mengangkat pulpen ungu yang berhasil ia dapat dengan senyum lebar. Sekuat mungkin Maddie berusaha untuk tidak bersikap aneh agar tidak mengundang kecurigaan Leon.
"Lo balik ke sini hanya untuk sebuah pulpen?"
"Ini pemberian seorang model saat gue liburan ke Singapura. Lo pikir gue mau balik ke sini hanya untuk pulpen lima ribuan?" Jawab Maddie ketus.
Namun saat langkahnya sudah di depan pintu Leon mencegahnya. Dia melihat Maddie dengan tatapan yang sulit di artikan. Hati Maddie kembali berdegub kencang.
"Apa?" Tanya Maddie setenang mungkin.
Leon mendekat dan berbisik di telinga Maddie.
"Jangan terlalu kepo sama urusan orang. Lo gak akan suka setelah tahu apa yang di sembunyikan orang tersebut."
Dan saat itu juga Maddie mematung. Dia melirik Leon yang menunjukan raut wajah sedih. Seakan ia juga tahu apa yang di pikirkan Maddie. Secepat mungkin gadis itu berlari tanpa melihat kebelakang. Dia sangat ketakutan.
Apakah Leon juga mencurigai pamannya sendiri atau dia tahu bahwa pamannya memang pelakunya? Apa yang Leon ketahui?
__ADS_1
********************************************