The Witness

The Witness
Bab VIII


__ADS_3

Gavin hanya bisa mengerutkan kening mendengar perkataan Maddie. Di malam orang itu menghilang Gavin yakin kakaknya berada di rumah. Bagaimana bisa dia tahu orang itu sudah meninggal bahkan sebelum polisi memberi penyataan? Perempuan itu bahkan belum di temukan.


"Gue orang terakhir yang liat orang hilang itu."


Gavin menyenderkan punggung sembari memijit kepala, "Gimana ceritanya?"


Maddie mendesah pelan, "Siapa namanya?"


"Angelina Tatori."


Dan mengalirlah cerita yang bermula dari melihat bintang malam menjadi saksi penculikan Angelina Tatori. Suatu kebetulan yang cukup aneh mengingat dari awal Maddie semacam terikat dengan kematian Sophie saat dia mencurigai Richard Hartono. Dan kini penculikan Angelina terjadi di depan rumah Richard dan dia menjadi saksi kejadian itu.


"Kita harus lapor polisi." Kata Gavin cepat.


"Enggak." Bantah Maddie cepat.


"Maddie.. Ini situasi yang bahaya. Kalau sampai psikopat ini tahu lo liat dia di malam itu, nyawa lo akan terancam." Gavin memohon penuh pasrah. Dia tidak mau Maddie bahkan keluarganya kenapa-kenapa. "This is not a game, Maddie. Ini nyata."


"Itu maksud gue Vin.. Kalau gue lapor, kita sekeluarga akan terancam." Maddie mulai meninggikan suara, kemudian membuang napas pelan, "Kita gak tahu siapa pelakunya dan gak tahu di mana dia sejak kejadian itu."


Gavin membuang napas kasar lalu membiarkan mata menutup sejenak, sembari memijit kepala yang mulai sakit. Tidak ada cara lain selain mendengarkan Maddie, lagi pula yang di bilang Maddie ada benarnya.


"Kita mulai dari awal." Gavin duduk, berusaha menenangkan pikiran, "Lo liat pelakunya berhenti di depan rumah Om Richard, bersembunyi di balik mobil seakan tahu Angelina akan lewat-"


"Dia tahu Angelina akan lewat. Ini bukan kebetulan."


"Kok lo mendadak jadi detektif sih? Dengerin gue dulu Maddie."


Maddie mendengus kesal sebelum mengizinkan Gavin kembali bercerita.


"Setelah itu dia menghantam kepala Angelina dengan sesuatu dan memasukan tubuhnya ke mobil avansa hitam, tidak punya plat, jam dua belas malam, dan memasuki Green Housenya Om Richard, lalu keluar dan membawa sesuatu yang panjang kira-kira sepanjang lengan gue."


"Yes."


Gavin menulis garis besar yang bisa membantu mereka untuk sementara. Setidaknya mereka harus berjaga diri dari semua orang yang memiliki ciri-ciri tersebut.


"Dari postur tubuh si pelaku, kira-kira perempuan atau laki-laki?"

__ADS_1


"Jelas laki-laki. Dia mengangkat tubuh perempuan itu dengan gampangnya." Maddie menjawab mantap.


"Perempuan yang kuat juga bisa. Angelina hanya 140 cm." Balas Gavin datar. "Bi Foni mah juga bisa angkat Angelina."


"Gue yakin dia laki-laki." Maddie mendadak teringat sesuatu dan keluar balkon meneliti sepanjang jalan, "Ada cctv gak di sekitar sini?"


"Di jalan masuk dan keluar Perum." Gavin mendesah saat mengerti maksud Maddie, "Tapi kita enggak bisa minta rekaman itu dengan sembarangan. Kita bukan polisi."


"Terus gimana?"


Kedua kakak beradik itu mulai memikirkan jalan lain. Mereka tidak bisa melihat cctv, mereka juga tidak bisa melaporkan kepada polisi sementara Angelina belum di temukan, nanti di kira mereka terlibat. Hingga akhirnya Maddie memutuskan untuk memantau jalanan dengan Gavin minggu depan setelah meneliti waktu penemuan mayat Sophie dan hilangnya Angelina. Mereka yakin orang yang membunuh dua perempuan itu adalah orang yang sama.


 ********************************************


Maddie sangat menantikan hari di mana dia dan Gavin akan terjaga semalaman hanya untuk memastikan sesuatu yang buruk tidak terjadi lagi. Sudah empat hari dan masih belum ada kabar mengenai Angelina. Maddie sudah membuat kesimpulan kalau besok perempuan malang itu di temukan maka pelaku adalah orang yang sama, mengingat Sophie juga di temukan lima hari setelah menghilang. Selama jam pelajaran Maddie hanya berdiam di kantor Pamannya, tidak berniat mengikuti pelajaran. Gadis itu mendesah pelan kala kasus ini sangat menyita waktu dan perhatiannya.


Saat bel istirahat menggema di sekolah, Maddie memutuskan untuk keluar membeli makanan dan balik lagi. Namun baru beberapa langkah keluar terlihat Zoe dan Alis tengah asik membully seorang gadis yang sedang membawa banyak buku. Dia Intan, korban Maddie juga sebelum ia sendiri yang berhenti mengganggu gadis itu.


"Minggir." Madelline menginterupsi Zoe dan Alis. Intan lebih menunduk ketakutan, takut Maddie juga akan mengganggu dia.


"Wah.. Teman munafik datang. Apa kabar Madelline Blake?" Sapa Zoe penuh sarkasme.


Zoe dan Alis hanya bisa terheran melihat Maddie yang tiba-tiba mengusir Intan.


"Kesurupan ya?" Sahut Alis heran.


Maddie masih memasang wajah datar dan memeluk tangan depan dada, menghadap Zoe yang masih kebingungan.


"Pacar lo yang mana gue rebut hah?"


Gadis yang sudah bersurai hitam sepundak di samping Alis malah tertawa kecil sebelum memamerkan senyuman miring, "Kata siapa lo rebut pacar gue?"


"Kata satu sekolahan."


"Oh itu.. Itu mah gosip." Balas Alis tak acuh.


"Gosip dari mulut kalian." Maddie mulai meninggikan suara, bersusah payah menahan amarah.

__ADS_1


Zoe yang menyadari itu malah mendekati Maddie, menatap gadis itu merendahkan, "Siapa yang akan percaya sama Maddie yang suka mengancam dan membully?"


"Gue percaya." Sontak ketiga gadis populer itu berbalik. Saat melihat siapa yang berkata mempercayai Maddie, membuat ketiga gadis itu makin bingung.


"Lo percaya sama dia yang ngebully lo selama 2 tahun terakhir?" Tanya Zoe.


"Lo bego atau gimana sih?" Tambah Alis yang juga sama bingungnya.


Kini Zoe dan Alis malah berjalan menuju Denada. Gadis itu tidak bergeming meski tahu Zoe dan Alis akan berbuat sesuatu. Di sisi lain Maddie sedang berargumen dalam batin. Apakah dia harus membela Denada juga atau tetap mengacuhkannya? Dia tidak mau terlihat peduli, gengsinya terlalu tinggi.


Tak lama kemudian Leon datang dan menarik Denada, memposisikan gadis yang sudah 3 tahun ia pacari itu tepat di belakangnya. Maddie membuang napas lega. Setidaknya Denada aman.


tunggu dulu, kenapa gue peduli?


"Leon, bawa pacar lo sebelum-"


Leon menepis tangan Alis yang terangkat, menunjuk-nunjuk Denada dengan angkuh. Alis tersentak sebelum kembali memamerkan raut amarah.


"Ini pertama dan terakhir kali lo mengancungkan jari kotor lo di depan pacar gue!"


Leon segera menarik Denada pergi. Dan di saat itu juga Maddie meledak.


"Kalian pikir kalian siapa hah?" Teriaknya yang mulai mengundang perhatian.


"Most populer girl in school." Balas Zoe penuh percaya diri.


Maddie hanya berdecih mendengar itu.


"Inget ya.. Tanpa gue, you're nothing."


Itu fakta. Alis dan Zoe tidak akan populer tanpa Maddie. Mereka hanya menumpang tenar saat hari pertama masuk sekolah heboh dengan berita keponakan pemilik sekolah ada di sana. Mereka mulai bergaya dan bersikap seperti Maddie untuk menarik perhatiannya dan itu berhasil. Alis dan Zoe memang anak orang kaya, keadaan saja yang membuat mereka sulit bergaul. Dan Maddie jalan pintasnya. Bukan hanya di sekolah, tapi Alis dan Zoe pun terkenal di sekolah lain bahkan di komunitas dancenya Gavin, karena Maddie sering mengunjungi Gavin di temani Alis dan Zoe.


"Lo yang bukan siapa-siapa tanpa kita!"


Melihat Alis yang tidak terima, senyuman lebar malah tercetak di wajah Maddie. Senyuman yang berarti dia tahu lawannya kalah dan mencari berbagai macam alasan untuk tetap di atas. Maddie sangat menyukai itu.


"Jangan macam-macam sama gue. Kalian sendiri tahu apa yang bisa gue lakuin kan? Jadi kalau masih mau lulus dengan tenang, jauhin gue dan Denada."

__ADS_1


Kedua gadis itu hanya bisa menggerutu kesal. Kalau saja mereka berada di kelas 11 mungkin di keluarkan dari sekolah bisa di atasi. Tapi di keluarkan saat kelas Ujian, tidak ada sekolah yang akan menerima mereka.


 ********************************************


__ADS_2