
"Mengingat acara Halloween kita di mulai besok malam, semua anggota osis sampai seluruh Sophomore akan membersihkan sekolah sekaligus membantu M&B's Party Decor, hari ini. Artinya kegiatan *** hari ini tidak ada, terkecuali untuk kelas 12."
"Latihan soal kayaknya jauh lebih baik dari pada pegang sapu." Gumam Bella kala mendengar pengumuman Pak Kepsek yang menggema.
"Tema acara besok adalah merah, hitam dan silver. Kostum karakter tidak di izinkan dan seluruh siswa harus menyamakan pakaian dengan tema. Pakaian bebas rapih tapi sopan. Sekian pengumumannya, jika ada pengumuman tambahan nanti akan di sampaikan ketua osis."
"Akhirnya ada berita bagus." Kata Maddie girang.
Saat ini Maddie serta Bella duduk bersama, mengisi beberapa soal yang di tugaskan Mrs Linda, untuk di periksa nanti. Kabar gembira ini tentu membuat ketiga pelajar itu membuang napas lega. Sejak duduk di bangku senior, para guru tidak mengizinkan lagi seluruh kelas 12 mengikuti ekstrakulikuler dan kegiatan lainnya di sekolah. Mereka di suruh fokus belajar mengingat tidak sampai 1 tahun lagi mereka tidak akan duduk di sekolah bernuansa biru itu.
"Lo mau pake apa, Mads?" Tanya Bella, si ketua kelas.
"Entah. Gue aja baru tahu sekarang kalo ada dress code."
Maddie mulai membangun hubungan baik dengan teman-teman sekelasnya. Dia melakukan hal demikian karena rasa bersalahnya pada Denada, dan juga kata-kata Denada tempo hari saat mereka beradu mulut hebat. Berteman dengan Zoe dan Alis dulu memang mengundang sisi buruknya keluar dan sekarang dia mau berubah. Contohnya saja, dia mau membantu Bella dalam tugas sekolah.
Saat bel tanda istirahat berbunyi Maddie serta Bella mengembalikan buku pelajaran yang di pinjam. Bella langsung balik ke kelas sedangkan Maddie berlari kecil menuju ke kantin, di mana Leon dan Denada berada. Beberapa bungkusan cemilan terbuka di depan mereka, mengizinkan siapapun memakannya. Maddie duduk di samping Denada dan meraih sepotong keripik kentang.
"Kalian udah punya baju untuk Halloween?" Tanya Maddie sembari mengunyah.
"Tidak." Balas mereka serentak.
Maddie tersenyun penuh kemenangan. Dia bertepuk kecil tangan penuh semangat. Ini bakatnya. Ini zona nyamannya. Pesta. Seluruh penghuni sekolah tahu itu.
"Great. Gue sama Denada akan shopping."
"No." Balas Denada serta Leon bersama.
"Yes. Gue bisa bantu lo cari baju yang bagus. I know a couple store.. actually a lot of store."
Maddie bercerita sembari memikirkan beberapa toko yang akan ia kunjungi nanti. Pesta Halloween akan di gelar besok malam, dan pemilik netra hazel ini berencana menghabiskan hari di dalam gedung bertingkat penuh dengan pakaian, aksesoris dan makeup.
"Gue gak akan berbelanja di toko-toko elit lo itu." Balas Denada, "Body Shop, Planet Surf, H&M. Apalah."
"Gavin yang menyukai Planet Surf, The Body Shop toko untuk skincare dan semacamnya, bukan ide buruk juga sih kita ke sana cek parfum baru, dan H&M.. Well.. Ok itu salah satu toko yang mau gue cek." Maddie berbicara dengan sangat percaya diri membalas Denada.
"Gue gak mau belanja di toko yang jual kaos dengan harga 500 ribu per kaos. Lo tahu berapa banyak kaos yang bisa gue dapat di 45 dengan uang 500 ribu?" Denada tidak berniat untuk berbelanja di toko-toko elit Maddie yang ia kunjungi setiap 1 sampai 2 kali dalam seminggu. Jelas dia tidak mampu. Dia sendiri harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
"Oh yes you are. And don't worry because I'm paying." Maddie balas dengan kedipan mata.
Di sisi lain Leon memasang raut wajah datar menanggapi percakapan Denada dan Maddie. Sampai sekarang Leon masih tidak nyaman Maddie hanya berdua dengan Denada.
"Kenapa lo mau bayar mahal untuk Inka?" Tanya laki-laki berambut pendek itu.
"Take it as a peace offering." Maddie mengakhiri kalimat dengan senyuman tapi malah mendapat penolakan dari Denada.
"Thanks, but no thanks. Gue punya uang sendiri dan gue bisa cari baju tanpa bantuan lo."
"Oh ayolah Denada, lo mungkin bisa cari baju sendiri, tapi lo gak bisa sangkal bahwa gue MUA terbaik lo." Maddie membujuk sembari memasang wajah polosnya. Denada memutar bola mata kesal. Entah maksud Maddie mengejek atau membujuk.
"Good point." Balas Leon yang berhasil mengundang perhatian Maddie dan Denada.
"Seriously Leon?" Denada memasang wajah memelas dan Leon terkekeh melihat itu.
"Canda babe." Leon mencubit pipi Denada gemas, "Terserah kamu kalo mau ikut dia atau enggak. Aku udah punya kemeja hitam, nanti besok aku dan Om Richard beli celana."
Denada menoleh ke arah Maddie penuh pasrah. Waktu sangat tidak tepat. Besok pesta Halloween dan dia kebetulan tidak punya pakaian khusus untuk pestanya dan dia tidak tahu menggunakan makeup selincah Maddie.
"Lo harus antar gue pulang."
__ADS_1
"Ok." Maddie berdiri, "Now, excuse me. Gue mau cari informasi lebih mengenai pesta besok."
Baru beberapa langkah Maddie meninggalkan kantin, Will muncul sembari merangkul pundak Maddie. Gadis itu menoleh singkat dan tersenyum.
"Hai Will." Sapanya.
"Udah siap untuk Halloween?"
Maddie mengangguk cepat, "Tentu. Kayaknya gue mau pake dress warna merah, tapi sepatu serta aksesoris hitam."
"Bagus. Kita bisa matching."
Sontak Maddie menghentikan langkah. Wajahnya panas. Dengan perlahan dia menoleh ke arah Will yang seakan tidak menyadari apa yang dia bilang. Dia terlihat biasa-biasa saja. Will bahkan menatap Maddie dengan senyum tipis sembari mengunyah permen.
"A-apa?"
"Iya. Lo sama gue." Will mendekat dan memegang tangan Maddie. Tidak peduli berapa banyak pasang mata yang kini tertuju, "Lo mau kan ke Halloween Party sama gue?"
"Kita satu sekolah. Kita semua di undang loh. Leon sama Denada juga akan hadir. Bella, Zoe, Alis juga-"
"As a date."
Skakmat. Sekuat mungkin Maddie menahan senyuman yang mau tercetak. Meski begitu netra hazel Maddie menjawab semuanya. Dia senang. Jantungnya berdegub kencang.
"Ha?"
Dan lemotnya kambuh.
"Jadi 'date' gue di pesta Halloween?"
Maddie tidak mampu berkata-kata. Dia hanya tersenyum sembari mengangguk. Dia bahkan tidak bisa menatap Will di mata. Jantungnya tidak mampu. Perasaan yang timbul membuat gadis itu merasa spesial. Merasa berharga. Berharga untuk seorang laki-laki selain Chester dan Gavin.
"Jangan." Potong Maddie cepat. Teringat ucapan sang papa yang tidak mengizinkan dia dekat dengan Will, tapi sekarang dia malah menerima ajakan laki-laki ini untuk menjadi kencannya di pesta sekolah.
"Kenapa?" Tanya Will bingung. Senyuman di wajah laki-laki tampan itu hilang. Dan Maddie mengutuk dirinya karena itu.
"Kita bisa ketemu di sini. Gue dandannya lama banget, gue gak mau lo nunggu terlalu lama. Gue juga akan bantuin Denada dandan, lo tahulah.. girls stuff." Jelas Maddie dengan tertawa canggung.
"Ok. Gue tunggu di sini, dan kita bisa duduk bareng." Will mengusap kepala Maddie pelan dan berlalu meninggalkan Maddie dengan dua tangan di masukan ke saku celana. Dengan santai laki-laki itu perlahan menjauh meninggalkan Maddie yang tersenyum macam orang tidak waras.
********************************************
"Ok Denada. Lo mau pake dress warna apa?"
"Hitam."
Kini Maddie dan Denada berada dalam sebuah toko di Mall, mencari dress untuk pesta Halloween besok. Denada memutuskan memilih dress senada dengan Leon, dan Maddie warna merah. Penyandang Blake itu tidak cerita mengenai Will yang mengajaknya ke pesta Halloween sebagai kencannya.
Cepat atau lambat Denada pasti tahu sendiri, karena Will menanyakan itu di lapangan sporthall, di mana seluruh siswa-siswi melihat.
"Ok. Gue udah punya beberapa pilihan, tapi kasih pendapat lo sejujur-jujurnya. No holding back."
Denada tersenyum miring, "I can do that."
Satu per satu pakaian yang Maddie pilih ia kenakan dan meminta Denada untuk memberikan respon.
"Terlalu terbuka."
"Terlalu pendek."
__ADS_1
"No."
"Not that."
Berbagai ulasan pun Denada ucapkan seiring dengan Maddie yang membuang napas kasar, kembali ke dalam dan keluar dengan pakaian lain.
"Terlalu lebar."
Maddie melotot tidak terima. Dia memeluka tangan depan dada, memberi tatapan intimidasi pada Denada yang santai, memangku kakinya.
"Did you just call me fat?"
"No?" Denada melirik ke atap, dan berpindah ke kiri dan kanan, menghindari tatapan tajam Maddie yang mau mencekiknya saat itu juga.
Maddie sekali lagi keluar dengan dress selutut berwarna merah pekat. Pakaian bermodel v neck itu terlihat elegan dengan motif bunga yang hampir tidak terlihat, dan lengan panjang dress itu membuat Maddie terlihat semakin langsing dan tinggi. Gadis itu terlihat sangat cantik dan Denada tidak bisa menyembunyikan itu.
"Itu cantik."
"Bohong." Maddie berkata dengan nada menuduh.
"Lo pikir gue bohong saat gue bilang gendut?"
Maddie tidak mampu membalas. Gadis itu kembali ke dalam ruang ganti dan melipat dress itu.
"Mba, mau yang ini." Kata Maddie pada seorang pekerja yang sedari tadi menonton drama Maddie dan Denada. Perempuan itu mengangguk dan mengambil dress tersebut dan membawanya ke meja kasir.
"Giliran lo."
Maddie sudah duduk hendak bertukar posisi dengan Denada, tapi gadis itu menolak untuk masuk ke ruang ganti. Maddie pun kesal.
"Kalo kekecilan gimana? Di ukur dulu lah."
Tanpa masuk ke dalam ruangan seukuran toilet sekolah itu, Denada hanya menempatkan dress hitam selutut itu depan dada, dan mengangkat dua alis pada Maddie.
"B aja." Kata Maddie datar.
"Gue tetap mau ambil ini." Denada melipat dress berbahan lembut itu dan memberinya pada pekerja yang sebelumnya.
"Udah kasih respon paling jujur dan lo gak percaya?"
Maddie tidak paham jalan pikiran Denada. Jika ada orang yang mengatakan itu pada Maddie sudah pasti pemilik netra hazel itu tidak akan membeli pakaian tersebut. Tapi Denada sebaliknya.
"Dress ini seharga 3 bulan gaji labor gue. Artinya biaya 2 bulan SPP." Jelas Denada pelan, sembari melirik keadaan sekitar, tidak mau mengekspos diri sendiri.
"Gue bayar." Balas Maddie lagi-lagi datar.
"Kalo cuma traktir makan gue terima, tapi ini kemahalan."
Maddie berdecih, "That's nothing."
"Untuk lo. Kalo gue ini kemahalan, Maddie." Denada duduk bersebelahan dengan Maddie dan menatap gadis itu lekat, "Gue masih trima traktiran makan malam nanti dan make-up glam untuk besok, tapi bayarin dress semahal ini enggak. Gue bisa cari yang lebih murah dan lebih nyaman."
Untuk sesaat Maddie merasa sudah melakukan hal baik, tapi Denada malah merasa sebaliknya. Maddie juga cukup sadar diri, di mana dia seenaknya mengeluarkan uang pemberian Chester dan Olivia tanpa jeda sedangkan Denada harus bekerja sendiri untuk uang jajajnnya di sekolah. Maddie malu. Dia menyadari kelancangannya pada Denada yang memaksa untuk membeli pakaian mahal.
"Ini terakhir kali gue keluarin duit sebanyak itu. Anggaplah hadiah gue ke lo. Tolong terima, Inka. Selesai ini kita makan dan gue antar lo pulang."
Nama itu.. nama yang dahulu menjadi nama panggilan Maddie kini di gunakan lagi. Denada tidak bisa menahan senyuman yang ingin muncul. Dia mengangguk pelan dan memeluk Maddie. Pemilik netra hazel itu pun membalas.
********************************************
__ADS_1