The Witness

The Witness
Bab XX


__ADS_3

Bunyi sepatu berlari menggema di koridor rumah sakit Malalayang. Maddie dan Will langsung menuju rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Denada sudah di temukan. Tanpa di sadari orang Maddie meneteskan air mata. Ia merasa lega bahwa Denada di temukan masih bernafas. Gadis bernetra hazel ini tidak tahu harus bagaimana jika polisi menemukan Denada sudah terbuju kaku.


Dari kejauhan Maddie bisa melihat Tante Mala yang berjalan mondar-mandir depan ruangan di IGD.


"Keadaan Dena- Inka gimana tante?"


Wanita yang sudah 8 tahun menjadi wali Denada itu memeluk Maddie erat. Ia membenamkan kepalanya sembari menangis. Maddie mengelus kepala wanita itu dan menenangkannya.


"Inka.. kehilangan banyak darah dan kepalanya mengalami benturan yang cukup kuat. Inka perlu istirahat dan kemungkinan besarnya dia belum bisa di jenguk."


"Bukan masalah. Intinya Inka sudah di temukan."


Mendengar Denada sudah di tangan dokter dan bukan Om Richard pun sudah cukup untuk Maddie. Dia tidak bisa bayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada Denada. Hilangnya Denada saja sudah membuat Maddie sakit hati. Ya dia sakit hati. Sudah tidak bisa di sangkal lagi, Maddie sudah bisa memperlakukan Denada seperti dulu. Seorang sahabat.


"Keluarga Denada Inka Winstone?" Seorang dokter keluar sembari melepas masker dan sarung tangan, dan membuangnya. Maddie melirik ke sarung tangan yang berdarah dan segera mengalihkan pandang. Itu darah Denada.


"Saya dok."


"Untuk saat ini kondisi Denada sudah membaik, tapi dia masih kekurangan darah. Denada membutuhkan 2-3 kantung darah lagi."


Tante Mala terduduk dan menangis, "Oh Inka.. apa yang harus ku lakukan?"


"Emangnya kenapa tante?" Tanya Will yang sedari tadi diam.


"Inka bukan anak kandung Tante Mala." Bisik Maddie.


"Golongan darah Inka apa tante?"


"B-"


Mata Will melotot. Ia menatap Maddie serius, "Gue bisa Mads. Gue punya golongan darah yang sama."


"Lo yakin? Kita bisa cari pendonor."


Will tidak mengindahkan Maddie dan berbalik menoleh ke arah dokter yang menangani Denada.


"Apakah saya bisa mendonorkan darah saya dok?"


"Kamu bisa langsung ke bank darah. Mereka akan melakukan beberapa tes dulu, memastikan kamu dalam kondisi sehat." Jelas dokter tersebut lalu berpaling.


"Will lo yakin?"


"Kok gitu sih pertanyaannya?" Will terkekeh, "Denada teman gue juga. Apa salahnya gue donor darah gue?"


"Thanks Will." Maddie memeluk Will erat. Laki-laki membalas pelukan Maddie singkat dan berlalu ke bank darah untuk melakukan beberapa tes.


"Tante tenang aja. Aku akan menelfon Papa untuk pendonor lain. Papa punya teman yang bekerja di PMI." Sahut Maddie penuh semangat.


"Terimakasih nak. Terimakasih." Tanta Mala memegang tangan Maddie erat. Ia tidak bisa menghentikan airmata yang keluar menyadari di saat susah masih ada yang mau menolong Denada.


"Leon mana yah tante?"

__ADS_1


"Lagi makan di depan."


"Kalo gitu saya nyusul Leon tante."


Saat di perjalanan Maddie sudah mengabari Chester untuk meminta bantuan, dan pria itu senang membantu. Maddie tersenyum tipis dan segera mengakhiri panggilan saat netra hazelnya menangkap Leon di ujung ruangan, duduk menyendiri, dengan sepuntung rokok.


"Hey."


"Hey."


Leon mematikan rokok yang sudah hampir habis itu dan meneguk sedikit minuman botolnya.


"Udah bicara sama polisi?"


"Mereka menemukan Inka di kamar belakang, rumah Om Richard. Dia di ikat dan mulutnya di lem." Leon mengepalkan tangannya, "Badannya memar dan kepalanya berdarah. Wajahnya.. wajah Inka lebam. Gue gak sanggup lihat dia."


Maddie menutup mulut tidak percaya apa yang di alami Denada satu malam saja bersama dengan Om Richard. Gadis itu babak belur.


"Apakah dia.. apakah.." Entah bagaimana Maddie akan menanyakan ini. Penyandang nama Blake ini mau tahu, tapi takut, "Apakah Om Richard.. menyentuhnya?"


Leon hanya tersenyum miring sembari berdecih, "Sebaiknya tidak. Karena jika pria itu melecehkan Inka, gue sendiri yang akan membunuh dia." Leon menoleh ke arah Maddie, "Mungkin lo gak ngerti. Tapi gue sayang banget sama Inka. I wanna fuckin marry her, have children with her.. tapi gue sadar akan kelainan gue. Gue harap dia masih bisa terima setelah tahu semuanya."


Maddie memegang pundak Leon pelan. Ia cukup paham perasaan Leon yang sangat marah. Gadis yang ia pacari sejak pindah ke Manado, gadis yang selalu ada untuknya sejak SMP, di culik dan di siksa orang yang ia banggakan, sosok yang ia anggap sebagai keluarga.


"Gue ngerti kok Leon. Yah emang sih gue baru beberapa hari jadian sama Will, tapi gue tahu kok kalo lo rela lakuin apapun untuk Denada." Maddie tersenyum tipis, "Lo pacar yang baik."


********************************************


Saat Denada memasuki kamar yang sudah di tata, Maddie menangis pelan. Sekarang ia melihat wajah serta lengan Denada sama seperti yang Leon deskripsikan. Hati Maddie sakit melihat Denada tidak sadarkan diri dan harus mengenakan oksigen untuk bernafas.


"Kalian bisa pulang. Tante akan menjaga Inka di sini."


Tante Mala menyahut melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua yang di butuhkan Mala untuk bermalam menjaga Denada sudah ada, berkat bantuan Maddie, Leon dan Will.


"Aku akan balik besok." Sahut Maddie tanpa ragu, dan Mala merespon dengan anggukan.


Will menggandeng Maddie dan berjalan bersama keluar dari rumah sakit. Sedangkan Leon sudah pulang sejak tadi. Laki-laki itu sudah berpamitan pulang pada Tante Mala dan berkata sejelas mungkin bahwa dia tidak kuat melihat Denada dalam kondisi seperti ini. Tapi Leon akan terus berkunjung tanpa masuk dalam kamar, dan Tanta Mala paham.


********************************************


Keesokan harinya Maddie bangun pagi-pagi sekali dan menelfon Tante Mala untuk menanyakan kabar Denada. Gadis itu sudah menerima 1 kantung darah lagi tadi malam dan Tante Mala sangat berterimakasih. Gadis itu segera masuk kamar mandi dan memulai ritual paginya. Ia kembali ke tugas sekolah, dan mulai mengetik tugas yang di kirim Bella untuk besok.


Di saat itu ia mendapat pesan singkat dari Will yang mengatakan hari ini dia akan pulang kampung karena urusan keluarga. Maddie pun mendapat pesan dari Leon yang menanyakan apakah dia akan pergi ke rumah sakit dan saat itu ia teringat sesuatu yang ingin dia titip. Gadis itu memutuskan untuk menelfon Leon.


"Halo?"


Suara Leon menyapa indra pendengaran kala Maddie memasang loudspeaker, mengingat ia juga sedang mengetik tugas sekolah.


"Udah di rumah sakit?"


"Belum. Gue singgah beli makanan untuk Tante Mala."

__ADS_1


Mendengar itu Maddie menutup laptop mahal berlogo apel itu dan keluar dari kamar.


"Singgah di sini, nyokap beli kue tadi dan kebanyakan, sayang di buang."


"Kuenya untuk gue?"


"Enak aja. Untuk Tante Mala." Jawab Maddie ketus.


"Iya iya. Nanti gue singgah. Kira-kira 20 menit lagi."


Maddie mematikan sambungan dan menemui Olivia di ruang tamu, sedang asik menonton serial india yang sedang tayang.


"Ma, kuenya aku kasih ke Tanta Mala ya?"


"Kamu mau ke rumah sakit?" Tanya wanita karir itu tanpa melepas pandangan dari benda persegi panjang di depannya.


"Mau di titip sama Leon."


"Bawa aja semuanya. Sayang di buang."


Maddie segera menuju dapur tapi ia kembali lagi.


"Kotaknya mana?"


"Ada di samping kulkas. Tapi kamu ambil yang ada di dalam lemari aja, ukurannya lebih kecil, "Kali ini Olivia menoleh, "Sekalian beliin buah atau makanan."


"Leon udah beli makanan. Tapi nanti sore aku akan ke rumah sakit, nanti aku bawain makanan." Sahut Maddie dan terus berjalan menuju dapur.


Dia membuka penutup makanan di meja dan mendapati setengah bulatan kue coklat dari Marry's Bake. Ia mengambil kotak dalam lemari dan kembali membungkus kue lezat itu. Tak butuh waktu yang lama untuk Leon membunyikan klakson depan kediaman Blake.


Hari ini Maddie mengenakan pakaian santai. Kaos oversize berwarna cokelat muda dengan gambar boneka beruang di depan, di padukan dengan hotpants hitam. Ia menggulung rambutnya ke atas, dan membiarkan beberapa helai rambut menggantung. Cantik.


Maddie menyodorkan kotak kue, "Nih."


"Lo udah ke kantor polisi?" Tanya Maddie basa-basi.


"Udah."


Maddie bertanya sangat penasaran, "Trus?"


"Besok mereka akan memutuskan hukuman Om Richard. Lo sama Will boleh datang di kantor pengadilan. Tante Mala gak mau melihat Om Richard, jadi anaknya yang gantiin." Jelas Leon yang masih betah duduk dalam mobil.


"Jam berapa?"


"Sidangnya di mulai jam 10 tepat."


Maddie sangat mengerti posisi Tante Mala yang tidak mau melihat Om Richard. Ia menyiksa Denada yang sudah di anggap sebagai anak sungguh oleh wanita itu.


Ia pun berpikir akan menghadiri persidangan itu, karena rasa penasaran yang terus mengganggu.


********************************************

__ADS_1


__ADS_2