The Witness

The Witness
Bab XII


__ADS_3

Leon dan Denada berada di sporthall tengah berbincang, sesekali tertawa saat Will datang dan duduk di antara mereka. Wajahnya sangat ceria, seperti seorang anak kecil yang baru di beri permen.


"Udah denger belum?" Will bertanya penuh antusias. Tidak perduli Leon yang sudah menatapnya kesal karena mengganggu waktunya bersama sang pacar.


"Apaan?" Balas Leon jutek.


"Sekolah akan adakan Halloween Party."


"Oh ya?"


"Itu keren." Balas Denada.


"Dan kerennya lagi Pak Kepsek akan bekerja sama dengan M&B's Party Decor."


Leon berdecih, "Paling itu sarannya Maddie."


"Kali ini bukan."


Tiba-tiba saja Maddie menyambung percakapan mereka. Gadis dengan rambut di ikat tinggi itu duduk di samping Denada sembari mengemil keripik kentang.


"Pas gue nyaranin, Pak Kepsek udah bikin janji temu besok siang." Lanjutnya.


"Ngapain di sini? Bukannya tiap istirahat tempat lo di kantin?" Tanya Denada ketus.


"Udah hampir 1 bulan gue gak gangguin murid lain. Lo termasuk. Kalian gak bangga? Bangga pasti."


Ucapan Maddie malah membuat Leon, Denada dan Will beranjak pergi. Bukan karena ucapan Maddie, tapi gaya bicaranya yang sangat tidak berperaaaan. Dia mengatakan semua itu seenaknya, seperti tidak pernah melakukan kesalahan.


"Eh tunggu.. kalian mau ke mana?" Tanya Maddie polos.


"Kelaslah. Bentar lagi bel masuk." Balas Leon membelakangi Maddie yang menyusul mereka.


"Pulang sekolah jalan yuk. Gue traktir." Tawar Maddie dengan santainya.


"Males." Jawab Denada.


Dia dan Leon mempercepat langkah, meninggalkan Maddie yang kesal. Maddie pun berbalik dan naik dari tangga sebelah, menuju kelas. Dengan menggerutu kesal dia mempercepat langkah, menyamakan posisinya dengan Will.


"Lo kesepian banget ya?" Tanya Will dengan melirik Maddie singkat.


"Kata siapa?" Balas Maddie.


Will berhenti di depan kelas, di ikuti Maddie, dan menatap gadis, "Di antara semua murid yang ada, lo malah deketin kita bertiga."


Maddie mengangkat bahu tak acuh, "Kita berdua emang deket kan Will.. kita sekelas dari kelas 10 loh."


"Denada sama Leon?"


"Tambahan." Maddie membalas tak mau kalah.


"Kalo lo udah gak suka lagi sama Leon, dan hanya itu alasan lo dulu jauhin Denada, kenapa sampai sekarang kalian masih gak saling suka?"


Pertanyaan Will membuat mood Maddie seketika berubah. Dia membuang cemilannya, meraih tisu dalam saku dan membersihkan jemari serta mulut. Dia memeluk tangan depan dada dan membuang napas kasar.


"Bukan urusan lo Will."


"Urusan gue juga Maddie." Will memperdekat jarak mereka sembari menekan setiap kata yang keluar.


"Urusan lo dari mananya?"


"Karna gue suka sama lo. Dan gue gak mau lo kayak dulu. Gue sukanya lo yang sekarang."


Maddie hanya bisa terdiam. Baru saja Will menyatakan perasaannya. Dan Maddie tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia belum pernah berada di posisi ini sebelumnya. Jantungnya mulai tak karuan.


"Apa?"


Hanya itu yang bisa Maddie lontarkan. Detik berikutnya dia mengutuk diri sendiri. Bagaimana bisa dia membalas seseorang yang baru saja menyatakan perasaannya dengan kata 'Apa'.


"Ya, lo emang masih nyebelin. Tapi setidaknya lo gak bully orang lagi dan lo udah lebih perhatian sama orang lain. Gue suka itu Mads."


"Perhatian apaan?" Tanya Maddie bingung.

__ADS_1


"Gue liat lo sama Denada minggu lalu. Lo ajak dia jogging kan? Leon juga cerita lo ajak dia nginep."


Maddie memutar bola mata kesal, "Ajak jogging bukan perhatian gue ke dia."


"Tapi lo mau deket lagi kan sama Denada? Mau temenan lagi? Atau karna Zoe dan Alis udah jauhin lo?"


"Ini bukan urusan lo."


Kesabaran Maddie hilang sudah. Will baru saja menghancurkan situasi yang baik dengan pertanyaan yang tidak ingin Maddie bahas. Pertanyaan tentang perubahannya dan Denada. Dengan kesal Maddie meninggalkan Will di depan kelas dan terus mengacuhkan laki-laki itu."


********************************************


Bulan sudah menampakkan diri saat Maddie keluar dari kamar mandi. Sembari bersenandung, gadis itu duduk di depan meja rias, mengenakan krim wajah, kemudian menyisir rambut panjangnya. Dia meraih sebuah buku pelajaran dan mulai membaca setiap kata yang tertulis di sana, tidak lupa buku catatan yang ia gunakan untuk menulis tugas sekolah.


Di tengah kegiatannya belajar, bunyi ponsel menyita perhatian. Dia mengambil benda pipih berlogo apel itu dan melihat nomor yang tidak ia kenal. Pada bunyi ke dua Maddie memutuskan menerima panggilan itu dengan memasang loudspeaker.


"Halo?"


"Hei Mads."


Maddie melotot. Dia mengenali suara ini.


"William?"


"Iya." Will terkekeh pelan, "Gue minta maaf soal tadi siang. Gue enggak bermaksud ikut campur urusan lo sama Denada."


"Iya."


Maddie mengumpat pelan saat dia hanya bisa membalas singkat lagi. Entah apa yang terjadi, Maddie tidak pernah begini sebelumnya. Salah tingkah tepatnya.


"Lo.. masih marah ya?"


"Enggak."


Maddie menepuk jidat, merasa bodoh seketika.


"Besok pulang sekolah lo sibuk?"


"Iya."


Maddie segera mematikan telefonnya. Dia mengumpat mengutuk diri sendiri. Dia menepuk jidatnya dan menutup mulut dengan bantal sembari berteriak.


"Oh astaga.. apa yang gue- kok jadi bego ya?"


Maddie merasa malu. Tapi dia kembali menyibukkan diri dengan pelajaran sekolah. Meski jemarinya menempel di pulpen, tapi matanya tidak. Dia terus melirik ponsel, berharap Will kembali menelfon, tapi tidak. Layar ponsel itu tidak menyala.


Maddie tidak tahan lagi. Dia menutup buku dan kembali menelfon Will. Kali ini dia mengatur napasnya.


"Halo, Will?"


"Maddie?"


"Gue gak sibuk besok. Ma-maksud gue, besok gue ada waktu- eh?"


Dari sebrang terdengar Will tertawa pelan. Dan anehnya Maddie malu. Dia senyum-senyum sendiri sembari menutup wajahnya dengan bantal.


"Iya iya. Gue ngerti. Butik nyokap yang baru mau di buka besok, dan dia nyuruh gue ke sana sekalian bawain pesanan dia dari Holand Bakery. Lo mau ikut gue gak?"


"Ok. Gue bisa kok."


"That's great."


"Ok. Bye."


"B-"


Baru saja Will mau membalas Maddie segera menekan tombol merah. Dia melongo kala mendengar satu huruf yang keluar dari mulut Will, tapi dia terlanjur mematikan sambungan.


"Bego. Bego. Bego. Lo bego banget. Oh astaga." Maddie memijit kepala pelan, "Malu-maluin banget. Sialan. Otak sialan."


********************************************

__ADS_1


Seperti percakapan kemarin, Maddie dan will segera meninggalkan sekolah saat bel sudah berbunyi. Dengan was-was Maddie memasuki mobil Will, tidak mau ada orang lain yang melihatnya. Saat memasuki mobil hitam Will, Maddie menyadari bahwa mobil ini cukup bersih untuk seorang laki-laki. Wangi kopi pun menyapa indra penciuman.


Will memasuki mobil dengan santainya. Ia mengatur kaca spion sebelum menyalakan mobil, membunyikan klakson pada beberapa teman yang terus memanggilnya, dan meninggalkan halaman sekolah.


"Nyokap lo gak akan marah lo bawa teman?" Tanya Maddie merasa tak enak. Ini pembukaan butik orangtua Will, dan Will malah membawa Maddie.


"Untuk apa marah? Lo datang bukan untuk ribut kan?"


Maddie menggaruk tengkuk tak gatal, "Iya sih."


"Lo kenapa gugup? Gak biasanya." Tanya Will masih dengan tersenyum lebar. Meski tatapannya fokus di jalan, tapi wajah Maddie panas melihat senyuman Will.


"Malulah."


Will hanya merespon dengan tawa, "Percaya diri dong. Lo cantik kok."


Will menoleh pelan dan mengedipkan mata. Maddie tidak bisa menahan senyumnya. Dia mengalihkan pandang keluar jendela sembari meremas jemarinya.


Will ******.


********************************************


Tak terasa Will dan Maddie sudah sampai. Lokasinya tepat di depan sebuah hotel. Di samping butik ada supermarket dan di sebelahnya lagi ada warung makan. Cukup strategis. Dengan gugup Maddie mengikuti Will dari belakang. Butik itu ramai dengan orang-orang. Will terus menuntunnya hingga tiba di ujung bangunan, tepatnya bagian kasir. Terlihat seorang wanita cantik kira-kira 40 tahun duduk sembari menyeruput segelas teh.


Will langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya singkat. Netra hazel Maddie pun langsung bertatapan dengan wanita itu saat dia memeluk Will.


"Sore tante." Sapa Maddie canggung.


"Maddie?"


Will menyodorkan sebuah tas kresek berisikan sebuah dus, "Ini pesanan mama dan aku bawa teman." Ujar Will sembari menunjuk ke arah Maddie yang tersenyum canggung.


"Indah, yang ini berapa?"


Panggilan seseorang menginterupsi mereka. Wanita bernama Indah itu memberi isyarat tunggu sembari ia mengenakan kacamata yang di taruh di atas kepala.


"Tante ke sana dulu." Indah pamit pada Maddie sebelum pergi melayani seorang pembeli.


Sepeninggalan Indah, Will mengajak Maddie duduk di balik meja kasir, dan menawarkan sepiring kue yang sudah tersedia.


"Not bad right?" Will bertanya.


"Nyokap lo emang baik." Balas Maddie dengan mengambil sepotong kue kering.


"Gue baru tahu kalian saling kenal."


Maddie menutup mulut sembari mengunyah, "Tante Indah pernah ikut arisan sama nyokap gue. Jadi udah saling kenal."


Keduanya menghabiskan sore itu di butik sambil bercerita. Dan saat mulai gelap Will pun mengantarkan Maddie pulang. Mereka berhenti depan rumah bernuansa cokelat milik Maddie. Will menghentikan mobil dan mematikan mesin.


"Makasih ya udah anterin pulang."


Maddie berucap setelah Will mematikan mobil dan menatapnya. Walau hanya di terangi cahaya minim dari depan rumah Maddie bisa melihat Will tersenyum menatapnya.


"Makasih udah nemenin tadi. Bayangin aja kalo gue sendirian di sana, penuh dengan tante-tante."


Maddie menanggapi Will dengan tawa mengingat dalam butik tersebut di penuhi dengan wanita, hanya Will laki-laki yang berdiam di sana.


Tawa Maddie pun di ganti dengan keheningan dan gugup kala Will memutuskan mengamit tangannya.


"Listen Mads, gue tahu lo gak suka sama gue, dan mungkin ini terdengar cheesy, tapi gue bener-bener suka sama lo. At least be my friend." Will membelai tangan Maddie pelan, yang berhasil membuat penyandang Blake itu salah tingkah, "Gue juga tahu lo gak sembarang mengklaim seseorang 'teman'. Jadi lo maukan setidaknya jadi temen gue, sampe lo bisa jadi pacar gue?"


"Ok." Balas Maddie cepat. Dia menarik tangannya dan segera keluar dari mobil. Wajahnya memanas.


Will pun tahu itu dan terhibur mengetahui Maddie yang salah tingkah. Laki-laki berambut pendek rapih itu ikut keluar dan menyenderkan dagu di atas mobil. Menatap Maddie penuh arti.


"Sampai jumpa besok?" Tanya Will dengan dua kening terangkat.


Maddie membalas dengan senyuman tipis sebelum berjalan masuk, membelakangi Will. Bisa di pastikan saat ini Maddie mulai menaruh rasa pada Will. Rasa yang dahulu ia taruh pada Leon saat masih di bangku SMP.


********************************************

__ADS_1


__ADS_2