The Witness

The Witness
Bab XIX


__ADS_3

Maddie tidak mau menunggu hingga polisi selesai mengintrogasi Richard Hartono. Kekhawatirannya pada Denada teramat besar. Gadis itu pun mengajak Will, berhubung kegiatan belajar mengajar di tiadakan, menemui wali Denada untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ia melaporkan hilangnya Denada ke polisi.


Kebetulan wanita itu baru keluar dari rumah yang di tempati Denada.


"Tante Mala."


"Maddie?" Wanita itu menyipitkan mata memastikan, "Maddie, apakah polisi sudah melakukan pencarian? Inka tidak pulang tadi malam. Itu tidak biasa. Apa kamu tahu dia tidak pulang?"


"Aku tahu tante. Dena- Inka gak mungkin bikin tante khawatir." Maddie membelai pundak wanita itu, guna menenangkannya.


"Tapi dia ke mana? Leon juga mana?"


Maddie menoleh dengan dua kening terangkat, "Emangnya Leon dari tadi gak ketemu tante?"


"Ada tadi."


"Bener tan?"


Mala mengangguk, "Pagi-pagi sekali Leon berlari menaiki motornya. Tante tidak sempat memanggil karena dia langsung mengendarai motor itu."


Maddie mengerutkan dahi. Ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjafi tadi pagi, saat Leon bertamu pagi-pagi. Apakah dia tahu Denada menghilang bahkan sebelum Tante Mala menelfon polisi?


"Jam berapa ya tan Leon datang?" Will pun bertanya penuh heran.


"Sekitar jam 6 setengah 7." Mala duduk sembari membuang napas, "Tante pikir dia pulang mengantar Inka, tapi tidak. Rumah ini masih kosong."


"Leon bawa sesuatu gak? Atau pintu rumah mendadak terbuka?"


Mala menggeleng menanggapi pertanyaan Maddie, "Leon tidak membawa apa-apa dan pintu rumah masih saja terkunci. Tante harus pulang ambil kunci cadangan untuk membuka pintunya."


"Tante tenang aja. Polisi pasti akan menemukan Inka." Will menyahut. Meski Denada bukan anak Tante Mala, tapi wanita itu jelas menyayangi Denada.


"Amin.. semoga polisi menemukannya."


Maddie dan Will memutuskan untuk kembali ke sekolah, sadar mereka tidak bisa berbuat apalagi selain menunggu hasil polisi. Mereka tidak tahu harus mencari ke mana lagi tapi saat mereka hampir sampai di sekolah, mereka melihat Leon yang melaju kencang, kini dengan mobilnya. Will menekan klakson berusaha menarik perhatian Leon, dan segera mobil Leon berputar dan berhenti depan sekolah.


"Di mana Denada?" Tanpa basa-basi Maddie melontarkan pertanyaan inti. Dengan raut wajah yang emosi ia mendatangi Leon tanpa gentar.


"Gue gak tahu. Tadi pagi gue ke rumahnya karena dari tadi malam telfon sama chat gue gak di balas. Dia gak pernah kek gitu." Jelas Leon frustasi.

__ADS_1


"Trus lo dari mana?" Will bertanya.


"Kantor polisi. Om Richard di tahan atas dugaan pembunuhan Sophie. Gila kan?" Leon memukul atas mobil kesal, "Om Richard gak mungkin bunuh Sophie, pria itu sangat menyayangi Sophie."


Bicara tentang Sophie berhasil membuat Maddie mengingat sesuatu yang dulu Leon bilang, tapat saat Sophie menghilang.


"Leon ada yang pengen gue tanya."


"Apa?"


"Apa maksud lo di green house beberapa bulan lalu?"


Leon menatap Maddie heran, "Maksud lo?"


"Lo bilang ke gue 'Jangan terlalu kepo sama urusan orang. Lo gak akan suka apa yang di sembunyikan orang lain'."


"Emang gue bilang gitu?"


Gerak-gerik Leon sangat mencurigakan. Terlebih saat Maddie menceritakan apa yang ia katakan beberapa bulan lalu.


"Jangan bohong." Maddie menekan kata-katanya.


"Saat itu gue juga curiga sama Om Richard." Balas Leon dengan terpaksa. Ia mendesah kesal dan mulai berjalan dengan gelisah.


"Dia sering pulang tengah malam dan susah di hubungi saat kejadian Sophie. Gue curiga dong. Jadi gue lebih mendekatkan diri, berharap dia mau menceritakan apapun yang dia rasa, tapi nihil." Leon bercerita dengan gelisah, "Tapi sekarang gue malah berpikir kalo dia memang ada hubungannya dengan Denada."


"Sebenarnya gue yang kasih informasi ke polisi tentang Paman lo."


Gerakan Leon terhenti mendengar pengakuan Maddie. Dia menatap gadis itu dengan dahi berkerut, "Kok lo?"


Mengalirlah cerita Maddie yang juga tidak di ketahui oleh Will. Dua laki-laki itu tentu terkejut, tapi paham kenapa selama ini Maddie memilih untuk bungkam. Dengan Denada yang hilang ia harus mengatakan sesuatu, entah itu berguna atau tidak.


"Jadi secara gak sadar Om Richard melakukan aksi kejamnya yang di saksikan oleh lo." Leon kembali memastikan.


"Kurang lebih. Tapi kita belum tahu kan kalo Om Richard pelakunya. Maksud gue, dia mencurigakan dan entah kebetulan atau enggak, Om Richard seakan berkaitan dengan kasus-kasus ini." Maddie bercerita dengan hati-hati, tidak ingin membuat Leon kecewa dengan sosok yang sudah lama ia anggap sebagai orangtua yang baik.


********************************************


Setelah perbincangan mereka di pinggir jalan Maddie berpisah dengan Will. Gadis itu kembali ke ruangan Pak Kepala Sekolah untuk menenangkan pikirannya. Kantor sang paman sudah kosong. Polisi yang tadi sudah berkeliaran di sekolah kini sudah di tugaskan Fajar untuk mencari Denada.

__ADS_1


Maddie memutuskan meraih sebotol minuman sehat untuk membuatnya bisa berpikir jernih saat bunyi ponsel menginterupsinya.


Sebuah panggilan dari nomor yang tak di kenal masuk.


"Halo?"


Raut wajah Maddie berubah tenang. Dengan penuh semangat ia keluar sembari berlari menuju kelas, guna mencari Will. Saat itu Maddie pun mengabari Leon dan memberitahu berita penting. Polisi telah menemukan Denada dan sekarang ia dalam perawatan di rumah sakit Malalayang. Maddie masuk kelas tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Will.


"Eh kalian liat Will gak?" Tanya Maddie pada beberapa teman kelasnya.


"Tadi di kantin."


Kaki terbungkus sepatu hitam berlari menuju kantin. Ia menerobos semua murid yang menghalangi jalan, hingga Maddie menemukan Will di tengah kantin, tengah berbincang dengan beberapa temannya. Gadis itu mendekat dan membisik berita baru itu ke telinga, dan Will segera beranjak.


"Karna Leon udah ada yang punya, sekarang ngincer Will."


Sindiran Alis membuat Will dan Maddie menoleh. Kali ini Maddie tidak emosi, malah tersenyum miring dan memeluk tangan Will mesra. Dia menenggelamkan wajah di leher Will, menghirup aroma maskulin yang merupakan ciri khas Will dan secara tiba-tiba mencium Will di pipi.


"Let's go babe."


Maddie menarik Will dan berlari menjauh dari kantin yang di buatnya terkejut. Maddie yang mencium Will di depan mereka akan menjadi topik panas setelah Denada di nyatakan menghilang. Saat memasuki mobil Denada menggaruk tengkuk tak gatal. Ia menyadari perbuatan tadi di kantin tadi di depan teman-teman membuat percaya diri Maddie meningkat, tapi hanya saat itu.


Saat ini di mobil hanya dia dan Will dan situasi menjadi canggung. Setidaknya untuk Maddie. Will malah terlihat baik-baik saja.


"Sorry."


Will menoleh seketika, "Untuk?"


"Tadi di kantin."


Will terkekeh. Dia menggeleng sembari melirik Maddie. Gadis itu hanya bisa mengedarkan pandang ke jalan, tak berani menatap wajah tampan Will yang sedang menertawainya.


"Lo minta maaf karna cium gue di pipi? Gue? Pacar lo?" Will kembali tergelak, "Lo lucu ya. Kita berdua udah pacaran. Sekadar ciuman di pipi gak salah kan?"


"Iya sih." Gumam Maddie yang menyadari bahwa dia sendiri yang membuat Will menertawainya.


"Kalo lo udah lakuin lebih, itu baru malu Mads."


"Will!"

__ADS_1


Lagi-lagi Will hanya bisa tertawa mendengar respon Maddie. Membuat gadis itu malu menjadi kebiasaan baru. Dia menyukai itu. Maddie malu sekaligus marah. Dan bentakan tadi baru bentakan pertama di hubungan mereka, dan Will menantikan bentakan yang berikutnya.


********************************************


__ADS_2